TN Berbak dan Sembilang Terbakar, Ancaman Serius bagi Habitat Harimau Sumatera

TN Berbak dan Sembilang Terbakar, Ancaman Serius bagi Habitat Harimau Sumatera

Suara Pecari, Sumatera SelatanKebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Taman Nasional Berbak dan Sembilang di Sumatera Selatan sejak awal September 2026. Kebakaran ini mengancam habitat satwa liar dilindungi, termasuk harimau Sumatera, yang hidup di kawasan tersebut.

Fakta Utama Kebakaran

Kepala Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang, Yunaidi, mengungkapkan bahwa titik api pertama kali muncul di daerah Bagan 9, Desa Tanah Pilih, Kabupaten Banyuasin. Angin kencang dan medan yang sulit dijangkau menyebabkan api terus membesar dan sulit dipadamkan. Petugas Manggala Agni baru dapat mencapai lokasi setelah dua hari dua malam berusaha menembus hutan tanpa akses jalan yang memadai.

Upaya pemadaman telah dilakukan sejak 4 September melalui water bombing oleh BNPB Sumsel, namun kebakaran masih berlangsung. Baru sekitar tiga hari terakhir, alat berat seperti traktor dikerahkan untuk membuka akses darat ke lokasi yang berjarak 4-5 kilometer dari titik awal melalui kawasan hutan.

Kesulitan Pemadaman dan Luas Area Terbakar

Beberapa kendala utama dalam pemadaman adalah keringnya sungai yang biasa digunakan sebagai jalur transportasi dan kedalaman gambut yang mencapai dua meter. Pemadaman harus dilakukan dengan membanjiri area gambut karena api yang membakar di bawah permukaan dapat kembali menyala saat siang hari dan kondisi panas.

Estimasi sementara luas area yang terbakar telah melebihi 4.000 hektare. Asap dari kebakaran cenderung terbawa angin ke arah Provinsi Jambi, sehingga pengerahan tim pemadam lebih banyak dilakukan dari wilayah Jambi untuk efisiensi akses.

Dampak Terhadap Habitat Satwa Liar

Taman Nasional Berbak dan Sembilang merupakan habitat berbagai satwa liar, termasuk harimau Sumatera, beruang, rusa, dan babi hutan. Meskipun saat ini harimau Sumatera dinilai masih aman karena habitat utamanya berada di area hutan yang lebat dan padat vegetasi, kebakaran yang terus meluas berpotensi mengancam keberadaan satwa tersebut.

Yunaidi menambahkan bahwa area yang terbakar sebagian besar berupa lahan gambut dengan vegetasi semak dan pakis yang sudah mengering, sehingga api lebih mudah menyebar. Jika tidak segera dikendalikan, kebakaran dapat merusak habitat dan mengganggu keseimbangan ekosistem di taman nasional.

Upaya dan Harapan Pemadaman

Tim pemadam dari Manggala Agni berjumlah sekitar 20 orang yang diterjunkan dari Jambi terus berupaya menembus hutan dan mencapai titik api untuk melakukan pemadaman. Mereka juga berusaha mencari sumber air terdekat agar proses pemadaman bisa lebih efektif.

Meski akses sulit dan medan berat, diharapkan upaya yang dilakukan dapat menghentikan penyebaran kebakaran dan meminimalkan dampak pada ekosistem serta satwa yang tinggal di TN Berbak dan Sembilang.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *