Momen Kapal Nelayan di Lampung Kena Hujan Batu Letusan Gunung Anak Krakatau
Suara Pecari, Lampung – Sebuah kapal nelayan asal Pesawaran, Lampung Selatan, mengalami hujan batu saat melintas di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK) yang sedang mengalami erupsi pada Sabtu (5/9). Peristiwa ini terekam dalam video yang beredar di media sosial, memperlihatkan material batu kecil menghujani kapal dan menimbulkan kepanikan di antara para nelayan.
Peristiwa Hujan Batu di Perairan Anak Krakatau
<pMenurut keterangan Surya, salah satu nelayan yang mengalami kejadian tersebut, rombongan berangkat dari Jawa sekitar pukul 04.00 WIB. Saat mendekati kawasan GAK sekitar pukul 10.00 WIB, mereka mulai terkena hujan batu yang jatuh dari letusan gunung tersebut. Jarak antara kapal dan gunung saat itu sekitar 10 sampai 30 meter, bahkan hingga 300 meter dari gunung mereka masih terkena material batu.
Material tersebut masuk ke dalam kapal dan menumpuk hingga diperkirakan mencapai lima hingga enam karung. Meski dalam situasi berbahaya, seluruh nelayan selamat tanpa korban jiwa. Namun, perjalanan pulang mereka menjadi lebih lama, tiba sekitar pukul 13.30 WIB, dibandingkan waktu normal sekitar lima jam.
Respons dan Imbauan Tim SAR
Kepala Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, membenarkan adanya kelompok nelayan yang terjebak hujan batu saat letusan GAK. Ia menegaskan seluruh nelayan tersebut selamat dan mengingatkan masyarakat, terutama nelayan, untuk tidak mendekati radius 3 kilometer dari gunung yang sedang erupsi.
Rezie juga menekankan pentingnya mematuhi larangan tersebut guna menghindari risiko kecelakaan dan kerugian. Tim SAR tetap siaga menghadapi kemungkinan perubahan arah angin yang dapat membawa dampak ke Pulau Sebesi dan sekitarnya, termasuk potensi hujan debu dan material batu.
Konteks dan Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung berapi aktif di Selat Sunda yang kerap menunjukkan aktivitas erupsi. Letusan yang terjadi tidak hanya menimbulkan hujan batu tetapi juga potensi bahaya lain seperti tsunami dan abu vulkanik. Oleh karena itu, pengawasan ketat dan peringatan dini sangat penting bagi keselamatan masyarakat sekitar dan para pelaut.
Peristiwa hujan batu kali ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan nelayan dan warga pesisir terhadap aktivitas gunung berapi. Kepatuhan terhadap batas aman dan informasi dari instansi berwenang menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana.
Rekomendasi Keselamatan bagi Nelayan dan Masyarakat
- Hindari mendekati radius 3 kilometer dari Gunung Anak Krakatau saat erupsi berlangsung.
- Ikuti informasi dan peringatan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Tim SAR.
- Persiapkan perlengkapan keselamatan dan komunikasi saat berlayar di perairan yang berpotensi terdampak.
- Segera berlindung dan hindari berada di area terbuka jika terjadi hujan batu atau abu vulkanik.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan keselamatan nelayan dan masyarakat pesisir dapat terjaga dari dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih aktif.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









