Perang Memanas, Serangan Drone Hantam 3 Kota Besar di Sudan
Suara Pecari, Jakarta – Serangan drone terjadi di tiga kota besar Sudan, termasuk ibu kota Khartoum, pada 12 Agustus 2026. Otoritas setempat melaporkan bahwa sejumlah drone menyerang Khartoum dan dua kota di Sudan utara sekitar pukul 05.00 waktu setempat. Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) menanggapi serangan tersebut dengan menembakkan rudal dari markas mereka di kamp Wadi Seidna untuk melumpuhkan drone-drone itu. Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini.
Serangan drone ini merupakan bagian dari eskalasi konflik antara SAF dan milisi Rapid Support Force (RSF), yang telah berkonflik sejak April 2023. Kedua pihak saling serang di Khartoum dan kota-kota besar lainnya, yang menimbulkan banyak korban sipil dan kerusakan infrastruktur.
Fakta Utama Serangan Drone
- Serangan drone menyasar Khartoum dan dua kota besar di Sudan utara pada 12 Agustus 2026.
- SAF menembakkan rudal dari kamp Wadi Seidna untuk melumpuhkan drone.
- Tidak ada korban jiwa dilaporkan akibat serangan ini.
- Konflik antara SAF dan RSF telah berlangsung sejak April 2023.
- SAF berhasil merebut kembali Khartoum pada 2025, yang sempat dikuasai RSF.
Konteks Konflik Sudan
Perang saudara yang berlangsung di Sudan dimulai akibat perebutan kekuasaan antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) yang dipimpin oleh Abdel Fattah al-Burhan dan milisi Rapid Support Force (RSF) yang dipimpin oleh Mohamed Hamdan Daglo. Konflik ini bermula di Darfur ketika SAF meminta RSF untuk bergabung sebagai satu kekuatan militer, namun RSF menolak dan berusaha mengambil alih kekuasaan secara mandiri.
Sejak itu, konflik menjadi berkepanjangan dan berdampak besar terhadap warga sipil. RSF dilaporkan melakukan berbagai aksi kekerasan termasuk penyerangan brutal, perampokan, dan penghancuran rumah warga yang dianggap pro-pemerintah. Kondisi ini memperparah krisis kemanusiaan di Sudan yang sudah menjadi salah satu yang terburuk di dunia menurut Council on Foreign Relations.
Dampak Perang Saudara di Sudan
Perang yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun ini menyebabkan kerusakan besar, termasuk hancurnya lahan pertanian hingga menimbulkan kelaparan. Pada 2025, ketika SAF berhasil merebut kembali Khartoum, sekitar 2,3 juta warga dapat kembali ke rumah mereka dengan lebih aman setelah sebelumnya mengungsi akibat konflik.
Namun, kekerasan dan ketegangan masih berlangsung, terlihat dari serangan drone terbaru yang memperlihatkan eskalasi perang masih jauh dari selesai. Kondisi ini menuntut perhatian internasional untuk mencari solusi damai dan membantu mengurangi penderitaan warga Sudan.
Konflik ini tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga pada stabilitas sosial dan ekonomi Sudan secara keseluruhan, sehingga memerlukan penanganan serius dari berbagai pihak untuk mencegah kerusakan yang lebih parah lagi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










