Pertamina dan Boeing Teken Kemitraan Pengembangan Rantai Pasok Bioavtur
Pertamina dan Boeing Resmi Teken MoU Pengembangan Rantai Pasok Bioavtur
Suara Pecari, Dalam langkah strategis menuju penerbangan berkelanjutan, PT Pertamina (Persero) dan Boeing resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait rantai pasok dan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur pada armada pesawat di Indonesia. Penandatanganan tersebut berlangsung di Indonesia Aero Summit 2026 pada Rabu, 8 Juli 2026, dihadiri oleh Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri dan Managing Director Boeing Indonesia Indra Duivenvoorde.
Kemitraan ini tidak hanya bertujuan mengurangi emisi karbon, tetapi juga menjawab tantangan ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik global yang mengancam pasokan bahan bakar fosil. Simon Aloysius Mantiri menekankan bahwa penguatan rantai pasok SAF semakin mendesak. “Kehadiran SAF bukan lagi sekadar untuk mengurangi emisi karbon, namun juga demi ketahanan energi,” ujarnya di hadapan para peserta summit.
Kronologi dan Latar Belakang Kemitraan
Boeing telah menjadi pelopor dalam pengembangan SAF sejak 2008, saat perusahaan bermitra dengan Virgin Atlantic dan GE Aviation melakukan salah satu penerbangan komersial pertama di dunia menggunakan campuran bioavtur dari minyak babassu, minyak kelapa, dan bahan bakar jet konvensional. Pengalaman panjang ini menjadi modal berharga bagi kolaborasi dengan Pertamina.
Sementara itu, Pertamina telah memulai produksi dan sertifikasi SAF, serta melakukan uji coba pada penerbangan komersial. Pada tahun 2023, Pertamina Patra Niaga bersama Kementerian ESDM, ITB, dan BRIN melakukan uji coba ground dan static test SAF di pesawat Garuda Indonesia. Uji coba terbang melibatkan campuran 2,4% SAF bersama Garuda Indonesia dan 3% SAF dengan Pelita Air Service.
Produksi bioavtur Pertamina saat ini dilakukan di Kilang Cilacap, menggunakan bahan baku berupa campuran avtur dengan minyak nabati dari kelapa sawit, minyak goreng jelantah (used cooking oil), serta bahan baku berbasis limbah berkelanjutan lainnya. Kapasitas produksi terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Peran Masing-Masing Pihak dalam Kemitraan
Dalam kemitraan ini, masing-masing pihak membawa keahlian spesifik yang saling melengkapi. Berikut adalah rincian kontribusi:
| Aspek | Pertamina | Boeing |
|---|---|---|
| Keahlian Teknis | Teknologi kilang, biofuel, infrastruktur strategis | Keahlian penerbangan global, pengalaman SAF |
| Pengetahuan Lokal | Lanskap energi Indonesia, regulasi domestik | Jaringan global, standar internasional |
| Fokus Kerja Sama | Produksi, sertifikasi, distribusi | Identifikasi bahan baku, kebijakan, pasar |
Simon Aloysius Mantiri menegaskan, “Peningkatan skala SAF membutuhkan pengembangan bahan baku, teknologi canggih, sertifikasi, integrasi rantai pasokan, partisipasi maskapai penerbangan, regulasi yang mendukung, investasi, dan kemitraan yang tepercaya. Itulah mengapa kemitraan kami dengan Boeing sangat penting.”
Dampak dan Implikasi bagi Industri Penerbangan Indonesia
Kemitraan ini diproyeksikan memberikan dampak signifikan bagi industri penerbangan Indonesia, yang merupakan salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara. Menurut Indra Duivenvoorde, kawasan Asia Tenggara mencatat kenaikan permintaan penerbangan sebesar 7% setiap tahun, sehingga maskapai di kawasan membutuhkan lebih dari 4.800 pesawat hingga tahun 2044.
Dengan kemitraan ini, Indonesia berpotensi menjadi pemain utama dalam penerbangan berkelanjutan di ASEAN. Boeing telah hadir di Indonesia selama 77 tahun, mencakup sektor penerbangan komersial dan pertahanan, satelit, keberlanjutan rantai pasokan, modernisasi lalu lintas udara, keselamatan penerbangan, dan pengembangan talenta. Kemitraan dengan Pertamina merupakan perpanjangan dari komitmen Boeing untuk memajukan masa depan penerbangan berkelanjutan Indonesia.
Selain itu, Boeing dan Pertamina akan bekerja sama untuk mengidentifikasi bahan baku SAF, mendukung pengembangan kebijakan, dan mengeksplorasi peluang pasar yang dapat membantu membangun rantai nilai penerbangan yang lebih kuat. Kolaborasi ini juga melibatkan program Boeing University Innovation Leadership Development (BUILD) bersama ITB, yang menjadi pilar pengumpulan bahan baku SAF dan analisis rantai pasok.
Tantangan dan Langkah ke Depan
Meskipun prospek cerah, pengembangan rantai pasok SAF masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya meliputi:
- Ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan dan ekonomis.
- Infrastruktur produksi dan distribusi yang masih terbatas.
- Regulasi dan insentif pemerintah yang perlu diperkuat.
- Biaya produksi yang masih relatif tinggi dibandingkan bahan bakar fosil.
Namun, dengan dukungan penuh dari kedua perusahaan dan pemerintah Indonesia, target pembangunan jaringan SAF regional untuk Asia diharapkan dapat tercapai. Indra Duivenvoorde optimistis, “Indonesia berada pada posisi yang tepat untuk menjadi peran utama penerbangan berkelanjutan di ASEAN.”
Penutup
Di tengah hiruk-pikuk Indonesia Aero Summit 2026, penandatanganan MoU antara Pertamina dan Boeing menjadi secercah harapan bagi masa depan penerbangan yang lebih hijau. Lebih dari sekadar dokumen kerja sama, MoU ini adalah peta jalan menuju kemandirian energi dan pengurangan emisi karbon. Dengan sinergi antara keahlian global Boeing dan akar kuat Pertamina di Indonesia, langkah kecil hari ini diyakini akan melahirkan lompatan besar bagi industri penerbangan berkelanjutan di tanah air dan kawasan Asia Tenggara.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










