Iran Tawarkan Buka Selat Hormuz Selama Sepekan, Tunggu Persetujuan AS
Suara Pecari – Iran mengajukan tawaran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu satu pekan, dengan syarat Amerika Serikat (AS) memenuhi persyaratan yang telah disepakati dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Juni lalu. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa keputusan akhir kini berada di tangan AS.
Kesepakatan dan Syarat Pembukaan Selat Hormuz
Menurut Araghchi, MoU yang berisi 14 poin tersebut mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir serta penghentian operasi militer oleh AS, Iran, dan sekutu mereka di berbagai front. Dalam perjanjian ini, Iran juga berjanji menjaga keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz dan berkoordinasi dengan Oman mengenai pengaturan pelayaran di masa depan.
Araghchi menegaskan bahwa jika AS serius dalam mencapai kesepakatan, Selat Hormuz dapat dibuka kembali dan aktivitas pelayaran normal dapat dipulihkan dalam tujuh hari. Namun, ia tidak merinci langkah konkret yang diharapkan dari AS, hanya menegaskan bahwa seluruh persyaratan telah termuat dalam MoU tersebut.
Respons dan Situasi Terkini
Seorang pejabat AS menyatakan bahwa pembicaraan positif sedang berlangsung melalui mediator, termasuk terkait masalah nuklir, meskipun belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS. Namun, laporan dari Wall Street Journal menyebutkan Presiden AS Donald Trump skeptis terhadap kesepakatan ini dan mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan kampanye serangan udara.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan udara yang dilancarkan oleh AS dan Israel ke Iran pada Februari, yang direspons Iran dengan serangan balasan ke Israel dan pangkalan AS serta sekutu di Teluk, termasuk blokade Selat Hormuz. Penutupan selat ini berdampak signifikan pada pasokan minyak dunia, mengingat sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair global melewati jalur tersebut.
Dampak Blokade Selat Hormuz
Blokade Selat Hormuz menyebabkan fluktuasi tajam harga energi global dan tekanan politik terhadap pemerintahan Trump, terutama menjelang pemilihan Kongres AS pada November. Meski demikian, AS mengklaim masih dapat mengalirkan minyak melalui jalur alternatif, walaupun data pelayaran menunjukkan penurunan jumlah kapal yang melintas dalam beberapa hari tertentu.
Perkembangan Lain di Kawasan
Selain ketegangan di Selat Hormuz, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran meningkatkan serangan di Laut Merah, mengganggu ekspor minyak Arab Saudi. Serangan ini termasuk perebutan wilayah strategis dan pelabuhan penting serta serangan ke fasilitas minyak Saudi. Arab Saudi pun meminta dukungan militer dari AS untuk menghadapi ancaman ini.
Pernyataan Tokoh dan Prospek Perdamaian
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan Iran untuk memulai proses gencatan senjata setelah menerima kesepakatan. Ia juga menyebutkan Iran siap mengizinkan inspektur nuklir PBB melakukan inspeksi, sebagai bagian dari upaya meyakinkan dunia bahwa program nuklir Iran bersifat damai.
Trump dalam pidatonya di Sidang Umum PBB menyatakan optimisme bahwa kesepakatan dengan Iran dapat tercapai setelah pemilu November, namun juga memberikan peringatan keras terkait sikap AS terhadap Republik Islam tersebut.
Konteks dan Tantangan ke Depan
MoU yang ditandatangani pada Juni bertujuan mewujudkan gencatan senjata dan membuka kembali sebagian Selat Hormuz, namun kesepakatan ini runtuh setelah serangan militer kembali terjadi. Iran dan AS masih berada dalam posisi yang saling menunggu langkah satu sama lain, dengan situasi keamanan di kawasan yang tetap tegang.
Dengan posisi strategis Selat Hormuz sebagai jalur utama ekspor minyak dunia, perkembangan kesepakatan ini memiliki dampak luas terhadap stabilitas geopolitik dan ekonomi global.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










