Sidang Kesehatan Dunia ke-79: WHO Bahas Ancaman Ebola dan Hantavirus

Sidang Kesehatan Dunia ke-79: WHO Bahas Ancaman Ebola dan Hantavirus

Suara Pecari | Sidang Majelis Kesehatan Dunia ke-79 yang diselenggarakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi dimulai di Jenewa, dihadiri oleh menteri kesehatan dan diplomat dari berbagai negara. Pertemuan ini mengangkat berbagai isu penting, termasuk kesiapsiagaan pandemi, dana kesehatan global, serta ancaman wabah Ebola dan hantavirus.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menekankan betapa pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan global. Ia mengungkapkan, saat ini dunia tengah menghadapi berbagai masalah serius, termasuk konflik, krisis ekonomi, perubahan iklim, dan pemotongan bantuan internasional.

Sidang ini berlangsung sehari setelah WHO mengeluarkan status darurat kesehatan masyarakat internasional terkait wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo dan menyebar ke Uganda. Sementara itu, WHO juga menangani wabah hantavirus yang muncul di kapal pesiar MV Hondius yang baru tiba di Belanda.

Baca juga:

Proses evakuasi penumpang kapal tersebut dilakukan secara kolaboratif antara Spanyol dan WHO, sementara awak kapal yang tersisa menjalani karantina selama 42 hari dan kapal tersebut menjalani pembersihan menyeluruh.

Baca juga:

Dalam pernyataannya, Tedros menegaskan bahwa kedua wabah ini menunjukkan perlunya koordinasi yang cepat antarnegara untuk menangani ancaman kesehatan lintas batas. Di sisi lain, WHO kini sedang menghadapi tantangan finansial yang signifikan akibat pengurangan dana donor dalam setahun terakhir.

Baca juga:

Kondisi ini memaksa WHO untuk merestrukturisasi program dan mengurangi jumlah staf. Organisasi ini mencatat adanya tunggakan kontribusi yang mencapai hampir 360 juta dolar AS hingga akhir 2025.

Baca juga:

Meski dalam situasi sulit, Tedros optimis bahwa WHO telah menjadi lebih tangguh setelah menjalani reformasi dalam hampir satu dekade terakhir. Beberapa inisiatif penting yang telah dilaksanakan termasuk pembentukan pusat intelijen pandemi di Berlin dan pusat transfer teknologi mRNA di Afrika Selatan. Selain itu, Pandemic Fund yang bekerja sama dengan Bank Dunia telah memberikan hibah sebesar 1,4 miliar dolar AS kepada 128 negara.

Baca juga:

Sidang kali ini juga membahas isu-isu lain seperti malaria, resistansi antimikroba, kesehatan mental, kecerdasan buatan, dan kesiapsiagaan darurat global. Diskusi ini menjadi sangat relevan mengingat tantangan kesehatan yang semakin kompleks di seluruh dunia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan