Pembagian Puyuh Gratis di Selopuro Tanpa Koordinasi Desa, Kades Jambewangi: ‘Kami Tidak Tahu’

Pembagian Puyuh Gratis di Selopuro Tanpa Koordinasi Desa, Kades Jambewangi: 'Kami Tidak Tahu'

Suara Pecari | Blitar – Kegiatan sosial pembagian burung puyuh gratis di Desa Jambewangi, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, pada Rabu (2/7/2026) menyisakan polemik. Pasalnya, acara yang dihadiri ratusan warga itu berlangsung tanpa sepengetahuan dan koordinasi dengan Pemerintah Desa setempat. Kepala Desa Jambewangi, Teguh Hariyanto, mengaku baru mengetahui adanya kegiatan tersebut setelah menerima laporan dari masyarakat.

Kronologi Kejadian

Pembagian burung puyuh gratis tersebut direncanakan sejak pagi hari. Namun, distribusi mengalami keterlambatan yang menyebabkan antrean panjang dan kebingungan di kalangan warga yang telah menunggu sejak pagi. Kades Teguh yang mendapat laporan warga segera mendatangi lokasi untuk memastikan situasi tetap kondusif.

“Saya dilapori masyarakat soal kegiatan ini. Karena ini warga saya, saya datang untuk membantu mengamankan agar kegiatan berjalan tertib dan benar. Untuk awal mula kegiatan ini seperti apa, saya sendiri tidak mengetahui secara detail,” ujar Teguh saat ditemui di lokasi.

Ketidakadaan Koordinasi

Teguh menyesalkan bahwa penyelenggara tidak memberikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemerintah desa, Polsek, maupun Koramil. Menurutnya, kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar seharusnya dikoordinasikan dengan aparat setempat untuk menghindari risiko keamanan dan ketertiban.

“Apalagi ini mengumpulkan banyak orang. Harusnya ada pemberitahuan ke desa. Dari Polsek dan Koramil juga tidak diberitahu. Kalau terjadi apa-apa, nantinya juga kembali ke desa,” tegasnya.

Lebih memprihatinkan lagi, pihak yang memiliki hajat dalam kegiatan tersebut tidak berada di lokasi saat pembagian berlangsung. Berdasarkan informasi yang diterima Kades, penyelenggara sedang berada di Jawa Tengah sehingga pemerintah desa kesulitan melakukan komunikasi secara langsung.

“Yang punya hajat justru tidak ada di sini, informasinya sedang berada di Jawa Tengah. Saya juga tidak bisa berbicara langsung dengan penyelenggara. Harapan saya, ke depan kegiatan seperti ini dapat dikoordinasikan lebih baik agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat,” pungkasnya.

Dampak dan Implikasi

Bagi Masyarakat

  • Kebingungan akibat keterlambatan distribusi dan kurangnya informasi jelas.
  • Antrean panjang yang berpotensi menimbulkan kelelahan dan kericuhan.
  • Ketidakpastian mengenai jumlah burung puyuh yang dibagikan dan syarat penerima.

Bagi Pemerintah Desa

  • Beban tambahan dalam mengamankan acara yang tidak direncanakan.
  • Potensi tudingan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, meski desa tidak terlibat.
  • Menyoroti perlunya regulasi yang mewajibkan koordinasi kegiatan massal.

Bagi Penyelenggara

  • Citra negatif karena dianggap tidak transparan dan tidak bertanggung jawab.
  • Potensi sanksi administratif dari pemerintah desa atau aparat keamanan.
  • Kehilangan kepercayaan warga jika kegiatan serupa diadakan lagi tanpa koordinasi.

Analisis: Pentingnya Koordinasi dalam Kegiatan Sosial

Peristiwa di Selopuro ini menjadi pengingat bahwa kegiatan sosial, meski berniat baik, tetap harus mengikuti protokol koordinasi dengan pemerintah setempat. Koordinasi bukan sekadar formalitas, melainkan langkah penting untuk memastikan kelancaran acara, keamanan peserta, dan ketertiban lingkungan. Tanpa koordinasi, risiko seperti kemacetan, kerumunan tak terkendali, hingga potensi kecelakaan dapat terjadi.

Dalam konteks yang lebih luas, kasus ini menyoroti perlunya sosialisasi kepada masyarakat dan penyelenggara kegiatan tentang pentingnya pemberitahuan kepada aparat desa, terutama jika melibatkan massa dalam jumlah besar. Pemerintah desa, kecamatan, dan pihak keamanan perlu duduk bersama untuk merumuskan pedoman yang jelas.

Tabel Perbandingan: Kegiatan Terkoordinasi vs Tidak Terkoordinasi

Aspek Terkoordinasi Tidak Terkoordinasi
Pemberitahuan Disampaikan minimal H-3 Tanpa pemberitahuan
Pengamanan Linmas dan aparat siaga Tidak ada pengamanan khusus
Antrean Teratur dengan sistem kupon Kacau dan panjang
Penanganan masalah Cepat karena ada tim Lambat karena tidak ada koordinator
Kepercayaan warga Tinggi Rendah

Penutup

Pembagian puyuh gratis di Selopuro sejatinya merupakan aksi sosial yang patut diapresiasi. Namun, tanpa koordinasi yang memadai, niat baik berubah menjadi kekacauan dan keresahan. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak: bahwa transparansi dan komunikasi adalah kunci sukses setiap kegiatan yang melibatkan publik. Semoga ke depan, penyelenggara kegiatan sosial lebih sadar untuk melibatkan pemerintah desa sejak awal, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan tanpa menimbulkan masalah baru.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan