Devin/Faathir Gugur di Babak 32 Besar Australia Open 2026, Evaluasi Konsistensi Fokus
Suara Pecari | Pasangan ganda putra Indonesia, Devin Artha Wahyudi dan Ali Faathir Rayhan, harus mengakui keunggulan wakil Hong Kong, Hung Kuei Chun/Lui Chun Wai, di babak 32 besar Australia Open 2026. Pertandingan yang berlangsung di Quaycentre, Sydney, pada Selasa, 9 Juni 2026, berakhir dengan skor 17-21, 21-11, 13-21 dalam waktu 44 menit. Kekalahan ini menandai Devin Faathir gugur di babak 32 besar Australia Open 2026 LPP RRI, sebuah hasil yang mengecewakan setelah performa impresif di gim kedua.
Gim pertama berlangsung sengit dengan kedua pasangan saling kejar-mengejar poin hingga kedudukan 11-11. Namun, setelah jeda, pasangan Hong Kong mampu mendominasi dengan meraih empat poin beruntun dan merebut gim pertama. Di gim kedua, Devin/Faathir bangkit dengan permainan agresif, langsung mencetak delapan poin beruntun sejak awal dan memenangkan gim dengan telak. Sayangnya, gim ketiga menjadi mimpi buruk bagi pasangan Indonesia. Hung/Lui memulai dengan enam poin beruntun dan meskipun Devin/Faathir sempat mendekat di angka 11-12, lawan kembali melesat dengan tujuh poin beruntun untuk menutup pertandingan. Kejadian Devin Faathir gugur di babak 32 besar Australia Open 2026 LPP RRI ini menjadi bahan evaluasi serius bagi pasangan muda tersebut.
Devin mengakui bahwa masalah utama terletak pada start yang lambat di gim ketiga. “Terutama di gim ketiga tadi startnya ketinggalan. Sama seperti minggu lalu di Indonesia Open, sama kesalahannya. Mainnya tiba-tiba berubah dari gim kedua, banyak bikin kesalahan sendiri,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya belajar mengatasi situasi ketika tertinggal. Sementara itu, Ali Faathir Rayhan menyoroti kurangnya konsistensi fokus dan variasi pola permainan. “Kami tadi sempat mengejar tapi jauh lagi poinnya, belum bisa konsisten fokusnya dan cara mainnya. Ini jadi evaluasi dan pelajaran kami ke depan. Selain itu kami tidak boleh monoton polanya, harus bisa baca pola lawan lalu cari cara ngelawannya,” pungkas ganda putra ranking 37 dunia tersebut.
Kekalahan ini menjadi pukulan bagi harapan Indonesia di Australia Open 2026, namun juga menjadi pelajaran berharga bagi Devin/Faathir yang masih muda. Dengan usia Devin yang baru 19 tahun, potensi untuk berkembang masih sangat besar. Devin Faathir gugur di babak 32 besar Australia Open 2026 LPP RRI harus dijadikan momentum untuk introspeksi dan perbaikan. Konsistensi dan kemampuan membaca permainan lawan menjadi kunci agar pasangan ini bisa bersaing di level tertinggi. Ke depan, diharapkan mereka dapat bangkit dan menunjukkan performa lebih baik di turnamen-turnamen berikutnya.
Kesimpulannya, meskipun hasil ini mengecewakan, Devin/Faathir memiliki waktu dan bakat untuk memperbaiki kelemahan mereka. Dukungan dari pelatih dan penggemar sangat dibutuhkan agar mereka dapat kembali ke jalur kemenangan. Semoga evaluasi dari kekalahan ini membawa perubahan positif bagi karier mereka.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












