Iran Dijegal Lagi! Tiket Piala Dunia 2026 Milik Suporter Ditarik, Terancam Batal Tonton Laga Pembuka
Suara Pecari | Iran dijegal lagi! Tiket Piala Dunia 2026 milik suporter ditarik, terancam batal tonton laga pembuka. Kabar mengejutkan datang dari federasi sepak bola Iran yang mengumumkan bahwa alokasi tiket untuk pendukung mereka dicabut beberapa hari sebelum kompetisi dimulai. Akibatnya, banyak suporter yang telah menyusun rencana perjalanan harus gigit jari karena tidak dapat menyaksikan langsung pertandingan timnas kesayangan mereka. Langkah ini menambah daftar panjang hambatan yang dihadapi Iran jelang Piala Dunia 2026, mulai dari penolakan visa hingga pemindahan kamp latihan.
Iran dijegal lagi! Tiket Piala Dunia 2026 milik suporter ditarik, terancam batal tonton laga pembuka. Polemik ini bermula dari kebijakan imigrasi ketat Amerika Serikat yang berdampak langsung pada kesiapan Timnas Iran. Tak hanya suporter, para pemain dan ofisial pun menghadapi kesulitan. Bomber Timnas Iran, Mehdi Taremi, yang kini membela Inter Milan, mengungkapkan kekecewaannya. “Saya sudah mengikuti tiga Piala Dunia dan mereka selalu mengatakan begitu Anda turun dari pesawat dan memasuki negara tuan rumah, ada suasana unik yang penuh keramahan dan semangat global,” ujar Taremi dikutip dari ESPN, Kamis (11/6/2026). “Sayangnya, saya tidak merasakannya saat ini. Ada banyak ketegangan saat ini di Piala Dunia ini.” Taremi menambahkan bahwa tindakan penolakan visa telah menodai semangat keramahan turnamen.
Iran dijegal lagi! Tiket Piala Dunia 2026 milik suporter ditarik, terancam batal tonton laga pembuka. Rencana awal skuad Iran untuk menetap di Arizona terpaksa dibatalkan. Mengikuti arahan FIFA, tim akhirnya bergeser ke Tijuana, Meksiko. Di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat menyatakan tim Iran hanya akan diizinkan memasuki wilayah AS sehari sebelum masing-masing pertandingan berlangsung. Hal ini jelas mengganggu persiapan tim.
Meski dihadapkan pada berbagai rintangan, para suporter fanatik Iran tetap antusias. Reza Mansoor dan Mostafa Pourmand, dua pendukung yang telah menghadiri 11 edisi Piala Dunia, mengaku tidak gentar. “Iran berada di salah satu grup termudah yang pernah kami alami selama Piala Dunia,” kata Mansoor, dikutip dari AFP. Iran tergabung bersama Selandia Baru, Mesir, dan Belgia di Grup G. Mansoor optimistis Iran bisa lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya. Mereka bahkan sudah membeli tiket untuk babak gugur, berharap bisa menyaksikan duel Iran melawan Amerika Serikat. “Ada peluang yang sangat tinggi bahwa kami akan lolos, peluang terbaik yang pernah kami miliki,” ujar Mansoor.
Namun, kontroversi lain juga membayangi. Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, mengancam akan menghentikan pertandingan jika ada bendera tidak resmi atau slogan yang menargetkan tim nasional. “Kami telah memberi tahu FIFA bahwa jika bendera tidak resmi dibawa masuk atau slogan yang menargetkan tim nasional diteriakkan di stadion tempat Iran bermain di Piala Dunia, manajer tim tentu akan bertanggung jawab untuk menghentikan pertandingan,” kata Donyamali, dikutip dari TRT World. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran akan aksi protes terkait isu hak asasi manusia dan simbol-simbol LGBT, mengingat laga Iran vs Mesir di Seattle akan bertepatan dengan perayaan Seattle Pride.
Sebelumnya, pada April lalu, demonstran juga menggelar aksi di luar Kongres FIFA di Vancouver, menuntut agar Iran dilarang mengikuti Piala Dunia dengan alasan tim nasional dianggap mewakili Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), bukan rakyat Iran. Tekanan politik dan administratif ini membuat persiapan Iran semakin berat. Meski demikian, semangat para pemain dan suporter tetap membara. Mereka berharap kehadiran di Piala Dunia bisa menjadi momen pemersatu, bahkan mungkin meredakan ketegangan politik. Seperti yang diungkapkan Mansoor, pertandingan sepak bola mungkin dapat mengubah perhitungan militer.
Dengan segala hambatan yang ada, perjalanan Iran di Piala Dunia 2026 menjadi sorotan. Apakah mereka mampu mengatasi tekanan dan meraih prestasi? Atau justru semakin terpuruk dalam pusaran konflik? Yang jelas, Iran dijegal lagi, namun semangat sepak bola tetap berkobar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












