Krépin Diatta dan Mimpi Buruk Senegal: Drama Comeback Belgia di Piala Dunia 2026
Suara Pecari | Kiprah Senegal di Piala Dunia 2026 harus berakhir dramatis setelah tumbang dari Belgia di babak 32 besar. Dalam laga yang berlangsung di Lusail Stadium, Selasa (2/7/2026) dini hari WIB, Belgia sukses membalikkan keadaan dari tertinggal 0-2 menjadi 3-2 setelah melalui babak perpanjangan waktu. Nama Krépin Diatta menjadi salah satu sorotan, meski tidak mampu menghindarkan timnya dari kekalahan pahit.
Keputusan pelatih Senegal, Pape Thiaw, menurunkan Krépin Diatta sebagai starter di sayap kanan menuai harapan besar. Pemain yang berkiprah di Ligue 1 Prancis bersama Monaco itu diharapkan bisa menjadi pembeda dengan kecepatan dan kelincahannya. Namun, sejak menit awal, pressing ketat lini belakang Belgia membuat pergerakan Krépin Diatta terbatas. Meski sesekali ia mampu menusuk dari sisi sayap, penyelesaian akhir yang kurang tenang membuat peluang terbuang sia-sia.
Senegal unggul lebih dulu melalui gol Sadio Mane di menit ke-38 dan digandakan oleh Boulaye Dia di awal babak kedua. Keunggulan dua gol membuat Senegal nyaman, namun kendali perlahan direbut Belgia. Krépin Diatta yang terus berusaha menjadi kreator serangan justru kehilangan bola di beberapa momen krusial. Kondisi fisik yang menurun di 15 menit akhir membuat ia ditarik keluar pada menit ke-78.
Masuknya Romelu Lukaku dan Youri Tielemans mengubah segalanya. Lukaku mencetak gol penalti di menit ke-86, lalu Tielemans menyamakan kedudukan di menit ke-90+4. Babak perpanjangan waktu menjadi milik Belgia. Tielemans yang menjadi pahlawan dengan gol penalti di menit ke-125, mencatatkan rekor gol paling akhir dalam sejarah Piala Dunia.
Kekalahan ini menjadi ironi bagi Krépin Diatta. Ia melewatkan kesempatan emas untuk membawa Senegal ke babak 16 besar untuk pertama kalinya sejak 2002. Statistik mencatat, Krépin Diatta hanya melepaskan satu tembakan tepat sasaran sepanjang laga dan gagal memberikan assist. Meski demikian, kontribusinya dalam bertahan cukup baik dengan tiga tekel sukses.
Pelatih Senegal, Pape Thiaw, enggan mengomentari keputusan wasit yang memberikan penalti kontroversial di akhir laga. “Saya tidak ingin menafsirkan keputusan wasit. Kami semua memiliki interpretasi berbeda soal penalti,” ujarnya usai pertandingan. Ia juga memuji perjuangan anak asuhnya. “Kami sudah bermain baik, tapi sepak bola tidak berakhir di menit ke-85. Belgia pantas menang.”
Di sisi lain, pelatih Belgia Rudi Garcia mengakui Senegal layak menang. “Senegal pantas menang, tapi saya senang kami yang lolos,” katanya. Garcia juga memuji mentalitas pemainnya yang tidak menyerah. Kemenangan ini membawa Belgia ke babak 16 besar untuk ketiga kalinya dalam empat turnamen terakhir, setelah gagal di fase grup Piala Dunia 2022.
Bagi Senegal, turnamen ini kembali menyisakan kekecewaan. Krépin Diatta dan rekan-rekannya harus pulang lebih awal, mengulang kegagalan di Qatar 2022. Namun, dengan usia yang masih muda, pemain seperti Krépin Diatta diharapkan bisa menjadi tulang punggung tim di masa depan. Piala Dunia 2026 menjadi pelajaran berharga: dalam sepak bola, tidak ada yang aman hingga peluit panjang berbunyi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






