Switzerland Hajar Algeria 2-0: Ramiz Zerrouki Gagal Bendung Gelombang Serangan Swiss
Suara Pecari | VANCOUVER – Mimpi Algeria untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026 harus kandas setelah takluk 2-0 dari Switzerland di babak 32 besar yang berlangsung di BC Place, Vancouver, Kamis (2/7) waktu setempat. Pertandingan yang sempat diharapkan menjadi panggung kebangkitan The Fennecs justru berubah menjadi mimpi buruk, terutama bagi lini tengah Algeria yang digalang oleh Ramiz Zerrouki. Gelandang muda yang diturunkan sebagai starter sejak menit awal itu kesulitan mengimbangi tempo permainan cepat yang diperagakan oleh skuad asuhan Murat Yakin.
Sejak peluit dibunyikan, Algeria sebenarnya tampil percaya diri. Kombinasi umpan-umpan pendek yang dibangun oleh Riyad Mahrez, Houssem Aouar, dan Ramiz Zerrouki sempat merepotkan pertahanan Swiss. Namun, kegagalan memanfaatkan peluang emas di menit-menit awal menjadi titik balik. Pada menit ke-7, Aouar mendapat kesempatan emas setelah menerima umpan tarik Mahrez, namun tembakannya masih melenceng tipis. Kesempatan yang terbuang itu kemudian dihukum keras oleh Swiss.
Pada menit ke-10, Swiss membuka keunggulan melalui aksi brilian Johan Manzambi. Pemain muda yang menjadi bintang baru turnamen ini melewati hadangan Aissa Mandi dengan mudah sebelum mengirimkan umpan silang mendatar yang diselesaikan dengan sempurna oleh Breel Embolo. Gol tersebut terjadi di luar dugaan karena sebelumnya Algeria mendominasi penguasaan bola. Di momen itulah peran Ramiz Zerrouki sebagai jangkar lini tengah Algeria mulai diuji, namun ia gagal menutup ru gerak Manzambi yang terus menjadi ancaman.
Memasuki babak kedua, Swiss langsung tampil agresif. Hanya 48 detik setelah kick-off, Dan Ndoye menggandakan keunggulan Swiss memanfaatkan kesalahan fatal dalam membangun serangan dari Bensebaini dan Belghali. Gol cepat ini seolah mematikan semangat juang Algeria. Pelatih Vladimir Petkovic segera melakukan sejumlah pergantian dengan memasukkan Amine Gouiri, Jaouen Hadjam, dan Anis Hadj Moussa untuk menambah daya gedor. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil berarti. Ramiz Zerrouki yang terus berusaha mengatur ritme permainan dari lini tengah selalu kandas menghadapi pressing ketat dari gelandang Swiss seperti Granit Xhaka dan Denis Zakaria.
Statistik mencatat bahwa Algeria hanya mampu melepaskan tiga tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan, jauh di bawah Swiss yang mencatatkan delapan tembakan. Mahrez, yang menjadi andalan di babak grup dengan dua gol dan satu assist, tampil di bawah performa terbaiknya. Ia bahkan mengumumkan pensiun dari tim nasional usai pertandingan. Sementara itu, Ramiz Zerrouki yang baru berusia 23 tahun harus menerima kenyataan pahit bahwa turnamen perdananya di Piala Dunia berakhir lebih awal. Meskipun demikian, penampilannya sepanjang turnamen tetap layak diapresiasi.
Di sisi lain, Swiss menunjukkan kedewasaan dalam bermain. Manzambi menjadi bintang dengan satu assist dan pergerakan tanpa bola yang merepotkan. Pelatih Murat Yakin memuji fleksibilitas Manzambi yang bisa bermain di berbagai posisi. Kemenangan ini menjadi kemenangan perdana Swiss di babak gugur Piala Dunia sejak 1938, sekaligus mengantarkan mereka ke babak 16 besar untuk menghadapi pemenang antara Kolombia dan Ghana.
Bagi Algeria, kekalahan ini memang menyakitkan, namun perjuangan mereka di Piala Dunia 2026 patut dihormati. Mereka menunjukkan peningkatan signifikan dibanding turnamen-turnamen sebelumnya. Ramiz Zerrouki, bersama pemain muda lainnya, bisa menjadi fondasi bagi masa depan sepak bola Algeria. Namun, untuk saat ini, Swiss layak melaju setelah tampil lebih efektif dan disiplin sepanjang pertandingan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






