Kontroversi Wasit Ivan Barton Warnai Kekalahan Prancis dari Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026

Kontroversi Wasit Ivan Barton Warnai Kekalahan Prancis dari Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026

Suara Pecari, Semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, Rabu (15/7/2026) dini hari WIB, menyisakan kontroversi besar terkait kepemimpinan wasit asal El Salvador, Ivan Barton. Kekalahan 0-2 yang dialami Les Bleus tidak hanya memupus impian mereka menyamai rekor Jerman Barat dan Brasil, tetapi juga memicu kritik tajam dari pelatih Didier Deschamps dan pengamat sepak bola.

Sepanjang pertandingan, Ivan Barton menjadi sorotan setelah memberikan hadiah penalti kepada Spanyol pada menit ke-20. Lamine Yamal jatuh akibat kontak minimal dengan Lucas Digne, dan Barton tanpa ragu menunjuk titik putih. Mikel Oyarzabal sukses mengeksekusi penalti tersebut untuk membawa Spanyol unggul 1-0. Keputusan ini langsung menuai protes dari kubu Prancis, terutama Deschamps yang mempertanyakan kelayakan Ivan Barton memimpin laga sekelas semifinal Piala Dunia.

“Jika saya terlalu banyak berbicara, orang-orang akan menganggap saya sebagai pecundang yang hanya mencari-cari alasan. Namun, saya berhak bertanya, apakah wasit tersebut benar-benar memiliki kelayakan memimpin laga krusial sekelas semifinal Piala Dunia? Ini bukan hanya soal penalti itu saja, melainkan juga beberapa keputusan minor lainnya sepanjang laga,” ujar Deschamps dalam konferensi pers usai pertandingan.

Kritik terhadap Ivan Barton tidak hanya datang dari Prancis. Jaringan analisis wasit asal Spanyol, Archivo Var, memberikan nilai 3,5 dari 10 untuk penampilan Barton. Mereka menyebut bahwa wasit berusia 39 tahun itu gagal menyesuaikan diri dengan level pertandingan dan melakukan sejumlah kesalahan penilaian. “Eksperimen FIFA tidak berhasil,” tulis Archivo Var, menegaskan bahwa penunjukan Barton untuk semifinal adalah keputusan yang keliru.

Statistik pertandingan menunjukkan dominasi Spanyol yang tidak terbantahkan. Hingga gol kedua tercipta, Spanyol melepaskan delapan tembakan berbanding dua milik Prancis, serta memenangkan 60 persen duel perebutan bola. Trio andalan Prancis—Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise—yang sebelumnya menjadi momok dengan koleksi 13 gol dan 10 asis, tidak mampu menembus pertahanan rapat La Furia Roja. Gol kedua Spanyol dicetak oleh Pedro Porro di babak kedua, memastikan kemenangan 2-0 dan tiket ke final.

Penampilan Ivan Barton di Piala Dunia 2026 memang telah menjadi sorotan sejak fase grup. Beberapa keputusan kontroversialnya membuat namanya kerap disebut sebagai salah satu wasit dengan performa terburuk di turnamen ini. FIFA sendiri memutuskan untuk mempercayakan kedua semifinal kepada wasit dari Concacaf, dengan Ismail Elfath memimpin laga Inggris vs Argentina. Namun, kritik terhadap Ivan Barton menunjukkan bahwa eksperimen ini tidak berjalan mulus.

Di sisi lain, Lamine Yamal menjadi bintang muda yang bersinar. Pemain berusia 19 tahun itu sukses membuat Kylian Mbappe semakin terlihat seperti ‘kurcaci’ dalam hal rekor pertemuan. Kontribusi Yamal dalam memenangkan penalti menjadi bukti efektivitas permainan Spanyol yang disiplin dan superior, seperti diakui oleh Deschamps.

Kekalahan ini sekaligus menandai akhir era Didier Deschamps sebagai pelatih Prancis. Ia akan mundur setelah laga perebutan tempat ketiga melawan Inggris. Meski gagal ke final, Deschamps menegaskan rasa hormat dan bangganya terhadap perjuangan anak asuhnya sepanjang turnamen.

Kontroversi Ivan Barton di laga ini semakin memperkuat perdebatan tentang kualitas wasit di Piala Dunia 2026. Banyak pihak menilai bahwa FIFA perlu lebih selektif dalam menunjuk pengadil untuk laga-laga krusial. Sementara itu, Spanyol melaju ke final dengan percaya diri, menunggu pemenang antara Argentina dan Inggris untuk memperebutkan gelar juara dunia.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *