Tari Nias Meriahkan Pentas Seni Jambore Daerah XI Gerakan Pramuka Sumut Tahun 2026
Suara Pecari, Gunungsitoli – Gemuruh tepuk tangan dan sorak kagum mewarnai Bumi Perkemahan Sibolangit, Deli Serdang, saat Kontingen Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Nias tampil dalam Pentas Seni Jambore Daerah XI Gerakan Pramuka Sumatera Utara tahun 2026. Penampilan yang berlangsung pada Rabu, 8 Juli 2026 itu berhasil memukau ribuan peserta dan pembina yang hadir dengan suguhan Tari Kreasi Daerah yang memadukan tiga tarian sakral khas Nias: Tari Hiwo, Tari Tuwu, dan Tari Moyo. Iringan lagu daerah “Banuagu” yang syahdu menambah keindahan pertunjukan, sementara busana dan aksesoris adat Nias yang dikenakan para penari membuat penampilan semakin otentik dan memesona.
Pentas seni ini merupakan salah satu agenda utama dalam Jambore Daerah XI yang diselenggarakan pada 5-12 Juli 2026. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat, tetapi juga wadah untuk memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi dari masing-masing daerah di Sumatera Utara. Bagi Kwarcab Nias, penampilan tari kreasi tersebut adalah bentuk nyata kecintaan terhadap budaya leluhur sekaligus komitmen untuk melestarikan warisan budaya Nias di tengah arus globalisasi.
Mengenal Tari Hiwo, Tari Tuwu, dan Tari Moyo
Tari Hiwo merupakan tarian perang tradisional yang menggambarkan keberanian dan kegagahan prajurit Nias. Gerakannya yang dinamis dan penuh semangat sering ditampilkan dalam upacara adat atau penyambutan tamu kehormatan. Tari Tuwu adalah tarian yang melambangkan kegembiraan dan rasa syukur, biasanya dipentaskan saat panen raya atau perayaan adat. Sementara Tari Moyo (elang) menggambarkan keperkasaan burung elang yang menjadi simbol kekuatan dan kebebasan. Perpaduan ketiga tarian ini dalam satu koreografi menciptakan pertunjukan yang sarat makna dan estetika.
Menurut Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Nias, Jhonny Zega, pemilihan ketiga tarian tersebut bukan tanpa alasan. “Kami ingin menunjukkan bahwa Nias memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tari Hiwo, Tari Tuwu, dan Tari Moyo adalah warisan leluhur yang harus terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda,” ujarnya saat ditemui usai pertunjukan. Ia menambahkan bahwa para penari yang merupakan anggota Pramuka Penggalang dari berbagai sekolah di Nias telah berlatih keras selama dua bulan untuk mempersiapkan penampilan ini.
Pelestarian Budaya Melalui Gerakan Pramuka
Partisipasi Kwarcab Nias dalam pentas seni ini sejalan dengan salah satu tujuan Gerakan Pramuka, yaitu mengembangkan kreativitas dan apresiasi seni budaya. Melalui kegiatan seperti ini, para Pramuka tidak hanya belajar tentang kepramukaan, tetapi juga menanamkan rasa cinta terhadap budaya daerah. Hal ini penting untuk memperkuat identitas bangsa di tengah derasnya pengaruh budaya asing.
Kakankemenpora Sumut, Drs. Syafruddin, M.Si., yang hadir dalam acara tersebut, mengapresiasi penampilan Kontingen Nias. “Ini contoh nyata bagaimana Pramuka bisa menjadi agen pelestarian budaya. Saya berharap kontingen lain juga terinspirasi untuk menampilkan kearifan lokal daerahnya masing-masing,” katanya. Ia juga menekankan bahwa Jambore Daerah bukan sekadar berkemah, tetapi juga ajang pertukaran budaya dan penguatan persaudaraan.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat Nias
Penampilan Tari Kreasi Nias ini memiliki dampak positif yang luas. Pertama, secara langsung memperkenalkan budaya Nias kepada peserta jambore dari 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara. Hal ini membuka peluang promosi pariwisata dan seni budaya Nias ke tingkat provinsi bahkan nasional. Kedua, bagi para Pramuka Nias yang tampil, pengalaman ini menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya mereka. Ketiga, kegiatan ini mempererat tali persaudaraan antarsesama Pramuka, karena mereka saling menghargai dan mengapresiasi perbedaan budaya.
Dalam jangka panjang, diharapkan akan muncul lebih banyak inisiatif serupa di berbagai forum kepramukaan, sehingga budaya Nias semakin dikenal dan dicintai. Pemerintah Kabupaten Nias pun diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengemas potensi budaya sebagai daya tarik wisata edukasi.
Rangkaian Acara Jambore Daerah XI Sumut 2026
Jambore Daerah XI Gerakan Pramuka Sumatera Utara tahun 2026 berlangsung selama delapan hari dengan berbagai kegiatan menarik. Berikut adalah beberapa agenda utama yang berlangsung:
| Hari/Tanggal | Kegiatan | Tempat |
|---|---|---|
| Senin, 5 Juli 2026 | Upacara Pembukaan | Lapangan Upacara Bumi Perkemahan Sibolangit |
| Selasa, 6 Juli 2026 | Lomba Ketangkasan Pramuka | Area Perlombaan |
| Rabu, 7 Juli 2026 | Bakti Masyarakat | Desa Sibolangit |
| Kamis, 8 Juli 2026 | Pentas Seni dan Budaya | Panggung Utama |
| Jumat, 9 Juli 2026 | Api Unggun dan Malam Keakraban | Lapangan Tengah |
| Sabtu, 10 Juli 2026 | Penjelajahan dan Wide Game | Kawasan Hutan Sibolangit |
| Minggu, 11 Juli 2026 | Upacara Penutupan | Lapangan Upacara |
Selain pentas seni, Jambore Daerah XI juga diisi dengan berbagai lomba seperti pioneering, sandi, dan semaphore, serta kegiatan bakti masyarakat yang melibatkan warga sekitar. Semua kegiatan ini dirancang untuk mengembangkan karakter Pramuka yang tangguh, mandiri, dan peduli.
Makna di Balik Tarian
Tari Hiwo, Tari Tuwu, dan Tari Moyo bukan sekadar hiburan. Setiap gerakan memiliki filosofi mendalam yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Tari Hiwo mengajarkan keberanian dan ketahanan dalam menghadapi tantangan. Tari Tuwu mengingatkan untuk selalu bersyukur dan berbagi kebahagiaan. Tari Moyo menginspirasi untuk memiliki cita-cita tinggi dan semangat pantang menyerah. Melalui penampilan ini, para Pramuka Nias tidak hanya menampilkan seni, tetapi juga menyampaikan pesan moral kepada penonton.
Penampilan yang memukau itu mendapat sambutan hangat dari peserta jambore. Banyak yang mengaku baru pertama kali melihat tarian khas Nias dan terkesan dengan keunikan gerak serta kostumnya. “Saya sangat terkesan. Tariannya enerjik dan penuh makna. Ini membuat saya ingin berkunjung ke Nias suatu hari nanti,” ujar Rina, Pramuka dari Kwarcab Medan.
Keberhasilan Kontingen Kwarcab Nias dalam pentas seni ini menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat menjadi jembatan untuk mempererat persaudaraan. Di tengah keberagaman suku dan budaya di Sumatera Utara, seni tari mampu menyatukan perbedaan dan menumbuhkan rasa saling menghargai. Semoga semangat ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk melestarikan warisan budaya bangsa.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










