Program Ayah Antar Anak Sekolah Masih Didominasi Para Ibu: Tantangan Mengubah Budaya Patriarki di Pendidikan
Suara Pecari, Bintuhan, 16 Juli 2026 – Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) yang dicanangkan pemerintah sebagai upaya memperkuat peran ayah dalam pendidikan anak masih menghadapi tantangan besar. Di SMPN 8 Kaur, Kabupaten Kaur, Bengkulu, pengantaran pada Senin (13/7/2026) masih didominasi oleh para ibu. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun program telah digulirkan, perubahan kebiasaan memerlukan waktu dan strategi yang lebih komprehensif.
Latar Belakang Program GAMAS
GAMAS dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai bagian dari gerakan nasional untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam proses pendidikan anak. Program ini didasari oleh riset yang menunjukkan bahwa kehadiran ayah dalam aktivitas sehari-hari anak, termasuk mengantar ke sekolah, berkontribusi positif terhadap perkembangan emosional, kepercayaan diri, dan prestasi akademik. Sayangnya, di lapangan, kesibukan bekerja dan stereotip gender masih menjadi hambatan utama.
Kondisi di SMPN 8 Kaur
Berdasarkan pantauan langsung di SMPN 8 Kaur pada hari pertama pelaksanaan GAMAS, mayoritas siswa masih diantar oleh ibu mereka. Kepala Sekolah SMPN 8 Kaur, Langgeng Setiabudi, M.Pd, mengakui bahwa partisipasi ayah masih sangat minim. “Dari sekitar 200 siswa yang hadir, hanya sekitar 15% yang diantar oleh ayah. Sisanya diantar oleh ibu atau anggota keluarga lain,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengapresiasi kehadiran segelintir ayah yang menyempatkan waktu. “Momen langka ini sangat berharga bagi perkembangan mental siswa. Kami berharap ke depannya semakin banyak ayah yang terlibat,” tambahnya.
Faktor Penghambat Partisipasi Ayah
Beberapa faktor utama yang menyebabkan rendahnya partisipasi ayah dalam program ini antara lain:
- Kesibukan kerja: Banyak ayah yang harus berangkat kerja lebih pagi, sehingga tidak bisa mengantar anak ke sekolah.
- Budaya patriarki: Secara tradisional, tugas mengurus anak dianggap sebagai tanggung jawab ibu.
- Kurangnya sosialisasi: Tidak semua orang tua memahami urgensi dan manfaat program GAMAS.
- Jarak tempuh: Beberapa ayah bekerja di luar kota sehingga tidak memungkinkan untuk mengantar setiap hari.
Data Partisipasi di SMPN 8 Kaur
Berikut adalah data partisipasi orang tua dalam mengantar anak pada hari pertama GAMAS di SMPN 8 Kaur:
| Kategori | Jumlah | Persentase |
|---|---|---|
| Di antar oleh ayah | 30 | 15% |
| Di antar oleh ibu | 150 | 75% |
| Di antar oleh anggota lain | 20 | 10% |
Dampak dan Implikasi
Dominasi ibu dalam pengantaran anak ke sekolah memiliki implikasi jangka panjang terhadap pola asuh dan pendidikan anak. Beberapa dampak yang perlu dicatat:
- Beban ganda pada ibu: Ibu yang harus mengantar anak seringkali harus menunda pekerjaan atau mengorbankan waktu istirahat.
- Kurangnya figur ayah: Anak kehilangan kesempatan untuk membangun kedekatan emosional dengan ayah di pagi hari.
- Persepsi peran gender: Anak terbiasa melihat bahwa urusan domestik adalah tugas perempuan.
Di sisi lain, program GAMAS jika berhasil diimplementasikan dapat memberikan manfaat seperti:
- Meningkatkan rasa aman dan percaya diri anak.
- Memperkuat ikatan keluarga.
- Mengajarkan tanggung jawab bersama dalam pengasuhan.
Upaya Pemerintah dan Sekolah
Pemerintah terus menggalakkan sosialisasi GAMAS melalui berbagai media dan kerja sama dengan sekolah. Kepala Sekolah SMPN 8 Kaur, Langgeng Setiabudi, menyatakan bahwa pihaknya akan mengadakan pertemuan dengan orang tua untuk menjelaskan manfaat program. “Kami juga akan memberikan penghargaan kepada ayah yang rutin mengantar anak sebagai bentuk apresiasi,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah daerah setempat berencana mengadakan lomba ‘Ayah Teladan’ yang salah satu kriterianya adalah partisipasi dalam GAMAS. Diharapkan, dengan adanya kompetisi positif, para ayah akan lebih termotivasi.
Harapan ke Depan
Program GAMAS bukan sekadar seremonial belaka. Perubahan kebiasaan memang tidak bisa instan, namun dengan konsistensi dan dukungan semua pihak, lambat laun peran ayah dalam pendidikan anak akan meningkat. Pendidikan karakter anak tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu, melainkan juga ayah. Keterlibatan ayah dalam hal sederhana seperti mengantar sekolah dapat menjadi fondasi bagi generasi penerus yang lebih tangguh dan berkarakter.
Pada akhirnya, keberhasilan GAMAS tidak hanya diukur dari jumlah ayah yang mengantar di hari tertentu, tetapi dari perubahan paradigma masyarakat tentang peran ayah dalam keluarga. Dengan terus menggaungkan pentingnya kehadiran ayah, diharapkan budaya patriarki yang mengakar perlahan terkikis. Anak-anak Indonesia layak mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya, bukan hanya dari satu sisi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










