Festival Durian Songgon Dorong Penjualan di Tengah Penurunan Panen 70%
Suara Pecari – 07 April 2026 | Petani durian di Desa Songgon, Banyuwangi, menyelenggarakan Festival Durian Songgon pada 4‑5 April 2026 untuk meningkatkan penjualan. Acara tersebut diadakan setelah hasil panen menurun sekitar 70 % dibandingkan tahun lalu, menimbulkan kekhawatiran bagi pendapatan petani.
Kecamatan Songgon mencakup lahan seluas 94,8 hektar dengan produksi yang diproyeksikan mencapai 3.716 ton pada 2025. Penurunan produksi disebabkan oleh kondisi cuaca tidak menentu yang memengaruhi bunga dan buah durian.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, memuji inisiatif desa yang mengangkat potensi lokal melalui festival kreatif. Ia menilai langkah tersebut sebagai contoh inovasi yang dapat ditiru oleh wilayah lain.
Festival menampilkan beragam varietas, termasuk durian pelangi, durian merah, dan durian kuning lokal. Selama dua hari, pengunjung dapat mengikuti kontes, bazaar, sarasehan pengembangan, serta sesi makan durian sepuasnya.
Kepala Desa Songgon, M. Qodari, menjelaskan bahwa festival bertepatan dengan masa panen raya. Ia menambahkan bahwa produksi tahun ini hanya sekitar 30 % dari capaian tahun sebelumnya karena faktor cuaca.
Durian Merah Banyuwangi baru-baru ini memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum, menjadikannya satu‑satunya durian merah bersertifikat di Indonesia. Sertifikasi tersebut diharapkan menambah nilai jual dan perlindungan pasar.
Kontes durian melibatkan 42 peserta yang bersaing dalam dua kategori: Durian Lokal Premium dan Durian Warna. Artoni, warga Songgon, memenangkan kategori warna dengan durian bernama “Srengege Wetan” yang menampilkan kombinasi oranye kemerahan dan kuning.
Artoni menjelaskan rasa durian “manis, pulen, sedikit gurih, dan dagingnya tebal”. Penilaian juri menekankan kualitas tekstur serta keunikan warna sebagai faktor utama.
Acara makan durian sepuasnya pada 5 April menarik ratusan pengunjung, termasuk Akbar, seorang warga Banyuwangi yang membayar Rp 100 000 untuk menikmati durian tanpa batas. Ia menyatakan pengalaman tersebut memuaskan dan menguatkan rasa kebanggaan lokal.
Penjualan selama festival mencatat peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Pedagang lokal melaporkan peningkatan pendapatan sekitar 35 % dalam dua hari, membantu menutup sebagian kerugian akibat penurunan panen.
Pemerintah desa dan Bumdes memberikan dukungan logistik serta promosi media sosial untuk menarik pengunjung luar daerah. Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat memperluas pasar durian Songgon ke kota‑kota sekitarnya.
Meski produksi masih diprediksi menurun hingga akhir April, festival berhasil menciptakan peluang penjualan tambahan dan meningkatkan kesadaran konsumen terhadap produk durian berstandar IG. Keberhasilan ini menjadi contoh strategi adaptif bagi petani di wilayah agraris lain.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.





