Sekolah Rakyat Jember: Mendorong Kemandirian Anak Melalui Pendidikan Berbasis Asrama
Suara Pecari | Program Sekolah Rakyat di Jember menunjukkan kemajuan signifikan dalam pembentukan disiplin dan kemandirian siswa sejak diluncurkan pada Agustus 2025. Kepala Sekolah Rakyat Jember, Kartika Sari Dewi, menyatakan bahwa tantangan utama di awal program adalah membiasakan siswa dengan pola hidup teratur di lingkungan asrama.
Mayoritas siswa berasal dari latar belakang yang beragam dan sebelumnya terbiasa hidup tanpa aturan yang ketat. Dalam bulan pertama, pihak sekolah berupaya membuat siswa merasa nyaman dan dapat menyesuaikan diri dengan keteraturan asrama.
Proses pembentukan disiplin dilakukan secara bertahap dengan mengajak siswa untuk melaksanakan salat berjamaah, salat duha, hingga salat tahajud. Kartika mencatat bahwa saat ini, siswa sudah lebih teratur dalam menjalani aktivitas sehari-hari, seperti waktu makan yang kini lebih tepat waktu serta meningkatnya tanggung jawab mereka terhadap barang pribadi.
Perubahan paling mencolok terlihat pada siswa sekolah dasar, yang sebelumnya sangat bergantung pada pendamping, kini mulai menunjukkan kemandirian. Kartika menjelaskan bahwa untuk mengajarkan kemandirian pada anak usia 6 hingga 7 tahun adalah tantangan besar, namun sekarang progresnya sudah terlihat.
Selain kedisiplinan, perubahan perilaku dan etika siswa juga mengalami perkembangan positif. Siswa yang awalnya kurang dalam sopan santun kini menunjukkan kemajuan dalam etika berinteraksi dengan guru dan pengasuh mereka.
Awalnya, banyak siswa merasa tidak betah dan ingin pulang, namun kini situasinya berbalik, di mana anak-anak justru enggan pulang dari asrama. Kartika menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan implementasi dari Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 yang bertujuan untuk mengoptimalkan pengentasan kemiskinan melalui pendidikan.
Konsep sekolah berasrama ini tidak hanya fokus pada pendidikan akademik, tetapi juga pembinaan karakter, keterampilan, pemenuhan gizi, dan layanan kesehatan terpadu. Sekolah Rakyat Jember mulai beroperasi pada 15 Agustus 2025 dan menerima siswa dari keluarga dengan status ekonomi rendah, termasuk anak-anak yang sebelumnya putus sekolah.
Untuk mengatasi perbedaan kemampuan dasar siswa, terutama dalam membaca, menulis, dan berhitung, sekolah menyediakan program pendampingan khusus. Guru secara rutin membimbing siswa yang mengalami kesulitan, dan kini peningkatan kemampuan dasar mereka mulai terlihat.
Dari segi kesehatan, kondisi siswa juga menunjukkan perbaikan. Kartika mencatat bahwa jumlah kasus penyakit yang disebabkan oleh rendahnya daya tahan tubuh kini berkurang. Sebelumnya, anak-anak sering sakit dan terdapat wabah cacar yang berlangsung lama, namun dengan adanya pendampingan kesehatan dan pemenuhan gizi, kondisi kesehatan siswa membaik.
Sekolah Rakyat juga menyediakan layanan kesehatan dan pendampingan BPJS bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Banyak siswa yang sebelumnya memiliki BPJS yang tidak aktif karena tunggakan iuran, namun masalah ini mulai teratasi dengan bantuan Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan.
Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Jember, Moh Irfan Pratama, menambahkan bahwa Dinas Sosial memberikan dukungan penuh kepada program Sekolah Rakyat, mulai dari pendataan hingga pendampingan sosial. Pendamping rehabilitasi sosial yang berpengalaman turut dilibatkan sebagai wali asuh dan wali asrama, karena pendekatan rehabilitasi sosial juga diterapkan di sekolah ini.
Program Sekolah Rakyat dianggap sebagai langkah penting dalam upaya pengentasan kemiskinan dan memutus siklus kemiskinan antargenerasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












