BAZNAS Buka Akses Pendidikan Keluarga Prasejahtera Melalui Sekolah Cendekia

Suara Pecari | Jakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI terus menunjukkan komitmennya dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Salah satu program unggulannya, Sekolah Cendekia BAZNAS (SCB), telah membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Program ini tidak hanya memberikan pendidikan formal, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan santri agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Latar Belakang Program Sekolah Cendekia BAZNAS

Kesenjangan akses pendidikan masih menjadi masalah serius di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah menengah atas (SMA) untuk rumah tangga miskin masih jauh tertinggal dibandingkan rumah tangga kaya. BAZNAS hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui program SCB yang didanai dari zakat, infak, dan sedekah para muzaki.

Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad, menyatakan, “Mengundang para muzaki untuk menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekahnya, salah satunya guna mendukung pengembangan Sekolah Cendekia BAZNAS. Dukungan tersebut akan menjadi kontribusi yang sangat berarti dalam mewujudkan SCB sebagai sekolah unggulan terbaik di lingkungan BAZNAS dan masyarakat.”

Kisah Sukses Santri SCB

Program SCB telah melahirkan banyak prestasi membanggakan. Salah satunya adalah Ihza Fauzan Hamizan, santri asal Bogor yang berhasil diterima di dua perguruan tinggi ternama sekaligus meraih berbagai prestasi internasional.

“Alhamdulillah, saya sudah diterima di dua kampus. Pertama, Universitas Trisakti dengan beasiswa penuh 100 persen dan Golden Ticket di Universitas Negeri Malang. Selain itu, saya juga meraih beberapa prestasi, seperti menjadi delegasi terbaik dalam konferensi internasional maupun nasional,” ujar Ihza.

Kisah sukses lainnya datang dari Keyla Bilqis Ashilah yang diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen. Ia mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan BAZNAS.

“Terima kasih kepada Sekolah Cendekia BAZNAS dan muzaki yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menempuh pendidikan,” ucap Keyla.

Dampak Program bagi Keluarga Prasejahtera

Keberhasilan para santri menjadi kebanggaan bagi keluarga mereka. Noviati Widiastuti, orang tua Ihza, menceritakan perjuangan keluarganya sebelum mendapatkan bantuan SCB.

“Saat Sekolah Dasar (SD), Ihza sangat ingin bersekolah di pesantren, namun qadarullah kondisi ekonomi keluarga kami sedang diuji. Ayahnya sudah tidak bekerja lagi, sementara Ihza tetap memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan di pesantren,” kata Noviati.

Berkat SCB, impian Ihza untuk mengenyam pendidikan di pesantren terwujud. Program ini memberikan beasiswa penuh yang mencakup biaya pendidikan, asrama, dan kebutuhan sehari-hari. Hal ini meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus membuka peluang masa depan yang lebih cerah.

Data Prestasi Santri SCB

Berikut adalah beberapa pencapaian santri SCB dalam dua tahun terakhir:

Nama SantriPrestasiTahun
Ihza Fauzan HamizanDiterima di Universitas Trisakti (beasiswa penuh) dan Golden Ticket di Universitas Negeri Malang2026
Keyla Bilqis AshilahDiterima di IPB jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen2026
Ahmad RizkiJuara 1 Olimpiade Sains Nasional tingkat provinsi2025
Siti NurhalizaDelegasi terbaik Konferensi Pemuda ASEAN2025

Implikasi dan Dampak bagi Masyarakat

Program SCB tidak hanya berdampak pada individu santri, tetapi juga pada masyarakat luas. Beberapa implikasi positif meliputi:

  • Peningkatan SDM: Santri SCB yang berprestasi akan menjadi sumber daya manusia unggul yang berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
  • Pemberdayaan Ekonomi: Pendidikan berkualitas membantu keluarga prasejahtera keluar dari jerat kemiskinan secara berkelanjutan.
  • Inspirasi bagi Muzaki: Kisah sukses santri mendorong lebih banyak muzaki untuk menyalurkan zakat melalui BAZNAS.
  • Penguatan Peran Zakat: Program ini menunjukkan bahwa zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif dan transformatif.

Kronologi Program Sekolah Cendekia BAZNAS

Program SCB telah berjalan sejak 2020. Berikut adalah tonggak penting perkembangannya:

  • 2020: BAZNAS meresmikan Sekolah Cendekia BAZNAS di Bogor dengan kapasitas awal 100 santri.
  • 2021: Program diperluas ke daerah-daerah tertinggal seperti Lombok dan Papua.
  • 2022: Santri angkatan pertama mulai menunjukkan prestasi di tingkat nasional.
  • 2023: SCB menjalin kerja sama dengan universitas ternama untuk jalur beasiswa.
  • 2024: Jumlah santri mencapai 500 orang dari berbagai provinsi.
  • 2025: Santri SCB meraih prestasi internasional, termasuk konferensi pemuda ASEAN.
  • 2026: Ihza dan Keyla menjadi bukti nyata keberhasilan program dengan diterima di perguruan tinggi negeri dan swasta ternama.

Harapan ke Depan

Keberhasilan SCB diharapkan dapat direplikasi di daerah lain. BAZNAS menargetkan pendirian 10 sekolah serupa di seluruh Indonesia pada tahun 2030. Dukungan dari masyarakat, terutama muzaki, sangat diperlukan untuk mewujudkan target tersebut. Setiap rupiah zakat yang disalurkan akan menjadi investasi bagi masa depan anak bangsa.

Di tengah keterbatasan ekonomi, SCB hadir sebagai oase harapan. Kisah Ihza dan Keyla membuktikan bahwa dengan kesempatan yang tepat, anak-anak dari keluarga prasejahtera mampu meraih mimpi setinggi langit. Program ini bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan transformasi sosial yang berkelanjutan. BAZNAS mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjadi bagian dari perubahan ini, karena pendidikan adalah hak semua anak Indonesia tanpa terkecuali.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan