MPLS Terakhir, Siswa SDN Selolembu Dilatih Kelola Bank Sampah
Suara Pecari, Bondowoso – Di hari terakhir Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027, SD Negeri Selolembu, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, menggelar pelatihan pengelolaan bank sampah bagi seluruh siswa. Kegiatan yang berlangsung Jumat, 17 Juli 2026 ini tidak hanya menjadi penutup rangkaian MPLS, tetapi juga langkah awal sekolah dalam membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.
Pelatihan Bank Sampah: Membekali Siswa dengan Keterampilan Mengelola Sampah
Pelatihan ini menyasar puluhan siswa, termasuk enam siswa baru kelas 1. Bekerja sama dengan Komunitas Bank Sampah Induk Paguan Berseri Bondowoso, para siswa dibekali pemahaman mengenai cara memilah sampah organik dan anorganik, serta teknik pengelolaan sampah yang benar. Kepala SD Negeri Selolembu, Catur Mega Sofianto, menegaskan bahwa edukasi ini sengaja diberikan sejak awal siswa memasuki lingkungan sekolah. “Kami ingin mengenalkan kepada siswa bahwa sampah tidak hanya dibuang pada tempatnya, tetapi juga dipilah. Ini menjadi edukasi agar mereka mengetahui mana sampah organik dan mana sampah anorganik,” ujarnya.
Pelatihan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktik langsung. Siswa diajak memilah sampah yang terkumpul dari lingkungan sekolah dan rumah masing-masing. Mereka belajar bahwa sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam dapat disetorkan ke bank sampah untuk ditabung. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami konsep ramah lingkungan, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan ini.
Fasilitas Pendukung: Tempat Sampah Berbasis Barang Bekas
Sebagai tindak lanjut, sekolah telah menyiapkan sejumlah tempat sampah berdasarkan jenisnya. Uniknya, sebagian tempat sampah dibuat dari barang bekas, seperti galon air mineral yang sudah tidak terpakai. Inisiatif ini mengajarkan siswa bahwa kreativitas dapat mengurangi sampah. Setiap hari, guru akan memantau kebiasaan siswa dalam membuang sampah agar perilaku tersebut menjadi budaya di lingkungan sekolah. “Kami sudah menyiapkan tempat-tempat sampah agar siswa terbiasa meletakkan sampah sesuai jenisnya. Nantinya akan kami pantau setiap hari sampai menjadi kebiasaan,” kata Catur.
Program Warisan Siswa: Menanamkan Rasa Memiliki
Selain program bank sampah, SD Negeri Selolembu juga meluncurkan program penanaman pohon yang melibatkan seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Setiap kelas akan memiliki satu tanaman yang dirawat bersama hingga siswa lulus. Program ini diberi nama “Warisan Siswa”, sebagai bentuk tanggung jawab setiap peserta didik terhadap kelestarian lingkungan sekolah. “Setiap kelas memiliki satu tanaman yang menjadi tanggung jawab mereka sampai kelas 6. Kami ingin menanamkan rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini,” tambah Catur.
Tanaman yang dipilih beragam, mulai dari pohon buah-buahan seperti mangga dan jambu, hingga tanaman hias. Setiap kelas akan merawat tanaman tersebut secara bergantian, dan saat siswa lulus, tanaman itu akan menjadi warisan bagi adik kelas mereka. Program ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta alam dan tanggung jawab kolektif.
Dukungan Dinas Pendidikan: Edukasi Lingkungan sebagai Prioritas
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Taufan Restuanto, mengapresiasi inisiatif SD Negeri Selolembu. Menurutnya, persoalan sampah masih menjadi masalah serius yang belum sepenuhnya disadari masyarakat. “Masalah sampah ini menjadi persoalan yang cukup akut. Karena itu edukasi tentang cara menangani sampah, membuang, memilah, hingga pengelolaannya harus terus dilakukan kepada masyarakat, termasuk melalui sekolah,” kata Taufan. Ia menambahkan, Dinas Pendidikan selama ini juga terus mendorong seluruh sekolah di Bondowoso untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menggalakkan gerakan penanaman pohon sebagai bagian dari pendidikan karakter serta kepedulian terhadap lingkungan.
Dukungan dari Dinas Pendidikan menjadi angin segar bagi sekolah-sekolah yang ingin mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam kurikulum. Tidak hanya itu, pihak dinas juga berencana menjadikan SD Negeri Selolembu sebagai percontohan bagi sekolah lain di Bondowoso dalam hal pengelolaan sampah berbasis bank sampah.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Lingkungan
Inisiatif SD Negeri Selolembu memiliki dampak yang luas. Pertama, dari segi lingkungan, pengelolaan sampah yang baik dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Bondowoso sendiri masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah, terutama di daerah pedesaan. Kedua, dari segi pendidikan, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan akademis, tetapi juga keterampilan hidup (life skill) yang berguna di masa depan. Ketiga, dari segi ekonomi, bank sampah memberikan nilai tambah bagi sampah yang selama ini dianggap tidak berguna. Siswa dapat menabung hasil setoran sampah, yang bisa digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah atau keperluan lainnya.
Berikut adalah tabel yang merangkum program lingkungan di SD Negeri Selolembu:
| Program | Deskripsi | Target |
|---|---|---|
| Bank Sampah | Pelatihan pemilahan dan pengelolaan sampah, bekerja sama dengan komunitas bank sampah | Seluruh siswa |
| Warisan Siswa | Penanaman dan perawatan satu pohon per kelas hingga siswa lulus | Kelas 1-6 |
| Tempat Sampah dari Barang Bekas | Pemanfaatan galon bekas sebagai tempat sampah terpilah | Lingkungan sekolah |
Selain itu, berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan sekolah untuk memastikan keberlanjutan program:
- Pemantauan harian oleh guru terhadap kebiasaan membuang sampah siswa.
- Evaluasi bulanan mengenai jumlah sampah yang terkumpul dan disetor ke bank sampah.
- Keterlibatan orang tua melalui sosialisasi di pertemuan wali murid.
- Kerja sama dengan komunitas lingkungan untuk pelatihan lanjutan.
Penutup: Menanam Kebaikan Sejak Dini
Di tengah hiruk-pikuk persiapan tahun ajaran baru, SD Negeri Selolembu memilih untuk tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga membentuk karakter siswa yang peduli lingkungan. Melalui pelatihan bank sampah dan program Warisan Siswa, sekolah ini telah menanam benih kesadaran ekologis yang diharapkan akan tumbuh subur seiring bertambahnya usia siswa. Langkah kecil ini, jika diikuti oleh sekolah-sekolah lain, dapat menjadi gerakan besar dalam mengatasi masalah sampah di Bondowoso dan Indonesia pada umumnya. Seperti kata pepatah, “Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik.” Begitu pula dengan anak-anak yang sejak dini diajarkan untuk mencintai lingkungan, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang bertanggung jawab terhadap bumi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









