Kisah Tragis di Balik ‘Sate Maut’ dan Ayam Mati di Lumbung Listrik

Kisah Tragis di Balik 'Sate Maut' dan Ayam Mati di Lumbung Listrik

Suara Pecari | Boyolali – Peristiwa mengejutkan terjadi di Desa Sindon, Ngemplak, Boyolali, di mana seorang ibu rumah tangga bernama Aminah (57) tewas setelah memakan sate yang dikirim secara misterius. Sate yang diduga mengandung racun tersebut tidak hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga menyebabkan lima ekor ayam mati di lumbung listrik milik korban. Kasus ini menjadi sorotan publik setelah terungkap bahwa pelaku pengiriman sate adalah menantu korban sendiri, PW (40).

Kejadian bermula pada Senin (18/5) malam, ketika Aminah menerima sate yang dikirim melalui ojek online atas nama anaknya, Luriyanti Putri. Aminah sempat menelepon Luriyanti untuk memastikan kiriman tersebut, namun sang anak membantah dan menyarankan agar sate tidak dimakan. Sayangnya, Aminah tetap menyantap sate tersebut dan ditemukan tewas keesokan harinya. Di lokasi kejadian, polisi menemukan lima ekor ayam mati di lumbung listrik yang diduga ikut memakan sisa sate. Ayam mati di lumbung listrik tersebut menjadi petunjuk awal bahwa sate mengandung racun mematikan.

Keluarga korban yang curiga melaporkan kejadian ini ke polisi pada Senin (25/5). Ekshumasi jenazah dilakukan pada Sabtu (30/5) dan hasil autopsi menunjukkan adanya zat beracun dalam tubuh korban. Polisi kemudian menetapkan PW sebagai tersangka setelah pemeriksaan intensif. Kapolres Boyolali, AKBP Indra Maulana Saputra, dalam konferensi pers pada Senin (8/6) menyatakan bahwa pihaknya menggunakan metode scientific crime investigation (SCI) untuk mengungkap kasus ini. Racun ditemukan tidak hanya pada jenazah korban, tetapi juga pada sisa muntahan di baju, tusuk sate, dan bangkai ayam mati di lumbung listrik.

Fenomena ayam mati di lumbung listrik ini mengingatkan kita pada kerentanan peternakan terhadap gangguan listrik. Di Deli Serdang, Sumatera Utara, seorang peternak bernama Dandi (25) mengalami kerugian besar saat pemadaman listrik serempak (blackout) Pulau Sumatera akhir Mei 2026. Dalam satu hari, 800 ekor ayamnya mati karena genset kehabisan solar. Dandi mengaku kesulitan mendapatkan solar akibat antrean panjang di SPBU. Kerugian mencapai puluhan juta rupiah per hari. “Pas blackout kemarin kita merasakan dampaknya cukup besar. Listrik mati lebih dari 24 jam menyebabkan kematian ayam terlalu banyak,” ujar Dandi. Ayam mati di lumbung listrik akibat pemadaman menjadi momok bagi peternak modern yang bergantung pada listrik untuk ventilasi dan pendingin kandang.

Kasus di Boyolali dan Deli Serdang menunjukkan betapa pentingnya kestabilan listrik dan keamanan pangan. Sementara itu, para peternak juga diingatkan untuk menyimpan pakan dengan baik agar tidak terkontaminasi. Tips menyimpan pakan ayam kampung agar awet antara lain menggunakan wadah kedap udara, menyimpan di tempat kering dengan kelembaban di bawah 70%, serta menjaga suhu 25-34°C. Dengan penyimpanan yang tepat, pakan dapat bertahan berbulan-bulan tanpa kehilangan nutrisi.

Secara terpisah, inovasi kandang ayam dari drum plastik bekas juga mulai diminati. Kandang ini anti panas, murah, dan ramah lingkungan. Langkah-langkah pembuatannya meliputi pembersihan drum, pemotongan lubang ventilasi, dan pengecatan agar tahan cuaca. Kandang drum plastik dapat menjadi solusi bagi peternak rumahan yang ingin menghemat biaya.

Kesimpulannya, peristiwa ayam mati di lumbung listrik baik karena racun maupun pemadaman listrik menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan dan persiapan. Masyarakat diimbau untuk tidak menerima makanan dari orang tidak dikenal, sementara peternak harus memiliki cadangan energi dan pakan yang aman. Pemerintah juga diharapkan meningkatkan pelayanan listrik dan pengawasan distribusi BBM agar kejadian serupa tidak terulang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan