Pendaki Ilegal Cedera di Semeru: Ditemukan di 2.500 Mdpl, Ditinggal Rombongan

Pendaki Ilegal Cedera di Semeru: Ditemukan di 2.500 Mdpl, Ditinggal Rombongan

Suara Pecari | Seorang pendaki ilegal mengalami cedera kaki di Gunung Semeru dan ditemukan di ketinggian 2.500 mdpl setelah ditinggal rombongannya. Peristiwa ini mencuat ke publik setelah tiga pendaki ilegal lainnya diamankan warga di Kampung Anyar, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, pada Senin, 15 Juni 2026. Mereka mengungkapkan bahwa masih ada satu rekannya yang terluka dan tertinggal di kawasan gunung tersebut.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha menjelaskan bahwa tim evakuasi gabungan segera dikerahkan pada 16 Juni 2026 pukul 08.00 WIB. Tim terdiri dari petugas BB TNBTS, PPGST, Gimbal Alas, dan sejumlah relawan. Pencarian dimulai dari titik yang disebutkan oleh tiga pendaki yang diamankan, namun korban tidak ditemukan di lokasi awal. Setelah penyisiran intensif, korban akhirnya ditemukan pada pukul 17.00 WIB di ketinggian sekitar 2.500 mdpl.

Korban diketahui merupakan bagian dari rombongan 15 orang yang mendaki secara ilegal melalui kawasan Taman Satriyan. Mereka tidak memiliki izin resmi dan nekat mendaki Gunung Semeru tanpa prosedur yang benar. Saat perjalanan, korban terjatuh dan mengalami cedera kaki, sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Rombongan justru meninggalkannya sendirian di ketinggian 2.500 mdpl tanpa pertolongan. Tindakan ini sangat tidak bertanggung jawab dan membahayakan nyawa.

Petugas mengevakuasi korban dengan menggunakan tandu dan membawanya turun ke posko kesehatan. Kondisi korban saat ditemukan dalam keadaan lemas dan dehidrasi, namun masih sadar. Ia segera mendapatkan penanganan medis dan dilaporkan stabil. Insiden ini menjadi pengingat akan bahaya pendakian ilegal yang seringkali mengabaikan keselamatan.

Peristiwa pendaki ilegal cedera di Semeru: ditemukan di 2.500 mdpl, ditinggal rombongan ini menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap aturan pendakian. BB-TNBTS terus mengimbau para pendaki untuk selalu mengurus izin resmi dan tidak melakukan pendakian ilegal. Selain itu, pendaki diharapkan selalu menjaga solidaritas dan tidak meninggalkan anggota rombongan yang mengalami kesulitan.

Kesimpulannya, insiden ini menunjukkan bahwa pendakian ilegal membawa risiko besar, tidak hanya bagi pelaku tetapi juga bagi petugas yang harus melakukan evakuasi. Diharapkan kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Pendaki ilegal cedera di Semeru: ditemukan di 2.500 mdpl, ditinggal rombongan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan