Ledakan Gudang Amunisi Madiun: Satu Prajurit Tewas, DPR Desak Investigasi Menyeluruh
Suara Pecari, Ledakan keras mengguncang Gudang Pusat Amunisi (Gupusmu) II Puspalad di Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, pada Kamis (16/7/2026). Insiden ledakan gudang amunisi Madiun ini menewaskan satu prajurit TNI AD dan melukai enam lainnya. Peristiwa tragis ini langsung menjadi sorotan publik dan memicu desakan dari berbagai pihak, termasuk anggota DPR RI, untuk mengusut tuntas penyebabnya.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono mengonfirmasi bahwa ledakan terjadi saat personel tengah melaksanakan prosedur pemeriksaan dan perawatan materiil amunisi. “Kami membentuk tim investigasi untuk melakukan pendalaman dan investigasi secara menyeluruh guna mengetahui secara pasti kronologis maupun penyebab insiden tersebut,” ujar Donny dalam jumpa pers di Jakarta. Meski demikian, ia belum dapat merinci jenis amunisi yang menjadi pemicu utama.
Korban jiwa dalam ledakan gudang amunisi Madiun adalah Serda Hengky Noto Susanto (36), prajurit yang telah mengabdi selama hampir 15 tahun di Timika, Papua, sebelum dipindahtugaskan ke Gupusmu Madiun dua tahun lalu. Di mata keluarga, almarhum dikenal sebagai sosok sederhana, religius, dan penuh tanggung jawab. “Suami saya sangat tanggung jawab pada keluarga dan tidak mau merepotkan. Segala sesuatu selalu diselesaikan sendiri,” ujar Fitria Chandra Irawan (32), istri almarhum, ditemui di rumah duka di Desa Sidorejo, Kebonsari, Madiun. Serda Hengky meninggalkan dua anak, satu kelas 6 SD dan satu balita laki-laki berusia 5 tahun.
Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta tim investigasi TNI AD untuk memeriksa secara menyeluruh aspek teknis dan prosedural. “Tim investigasi harus memeriksa apakah sistem penyimpanan amunisi telah memenuhi seluruh persyaratan dan standar keamanan, mulai dari kondisi ruangan, pengaturan suhu, penataan amunisi di dalam gudang, hingga penerapan prosedur pengamanan,” tegas Hasanuddin di Jakarta, Jumat (17/7/2026). Ia juga menyoroti lokasi gudang yang dinilai terlalu dekat dengan permukiman warga dan meminta evaluasi serta kemungkinan pemindahan ke tempat lebih aman.
Ledakan gudang amunisi Madiun ini bukan hanya menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi alarm bagi TNI AD untuk memperbaiki sistem penyimpanan dan pengawasan amunisi. TNI AD telah membentuk tim investigasi dan berjanji akan mengungkap penyebab pasti ledakan. Sementara itu, enam prajurit luka-luka masih menjalani perawatan intensif di RSUD Caruban. Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kepatuhan terhadap standar keamanan di fasilitas vital militer.
Kesimpulannya, ledakan gudang amunisi Madiun menelan korban jiwa dan luka, serta memicu investigasi menyeluruh oleh TNI AD. DPR mendesak agar hasil investigasi menjadi dasar perbaikan sistem penyimpanan dan pengamanan amunisi, termasuk evaluasi lokasi gudang yang berdekatan dengan pemukiman. Kejadian serupa diharapkan tidak terulang di masa depan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










