Jauh dari Laut, Kegiatan Napi di Lapas Sukamiskin Justru Bikin Speedboat

Jauh dari Laut, Kegiatan Napi di Lapas Sukamiskin Justru Bikin Speedboat

Suara Pecari, Bandung – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin yang terletak di tengah Kota Bandung, Jawa Barat, membuka kegiatan bimbingan kerja pembuatan speedboat bagi warga binaan. Meskipun letaknya jauh dari laut, lapas ini memfasilitasi napi untuk belajar membuat kapal cepat dengan merek Sukaboat.

Kegiatan Pembuatan Speedboat di Lapas Sukamiskin

Dua lokasi mirip hanggar di lapas dimanfaatkan sebagai galangan speedboat. Para napi dilatih mulai dari proses pencetakan badan kapal, pengamplasan, pengelasan, pembesian, hingga finishing. Selain keterampilan teknis, napi juga terlibat dalam konsep, desain, dan manajemen produksi.

Wawan, salah satu napi yang ikut dalam bimker ini, bercerita bahwa ia belajar dari nol dan mendapatkan pengalaman baru yang berbeda dari latar belakangnya sebelumnya sebagai penjahit konveksi. Ia dan napi lainnya mendapat giliran kerja di berbagai tahapan pembuatan kapal sehingga bisa menguasai seluruh proses produksi.

Pengalaman Napi dalam Membuat Speedboat

Selama setahun bergabung, Wawan telah berkontribusi dalam pembuatan lima unit speedboat tipe SB6. Proses pencetakan badan kapal biasanya selesai dalam satu bulan, sedangkan tahap finishing memakan waktu lebih lama. Selain praktik, peserta juga mempelajari teori dasar mengenai kapal untuk menambah wawasan.

Setiap minggu, napi yang bekerja di bengkel mendapatkan premi sebesar Rp500 ribu, yang dikumpulkan sebagai bekal saat mereka bebas. Wawan berencana menggunakan keterampilan yang diperolehnya untuk bekerja di galangan kapal setelah masa pidana selesai dan bahkan ingin kembali menjadi pekerja honorer di bengkel Sukaboat.

Manajemen dan Pemberdayaan di Lapas Sukamiskin

Kalapas Sukamiskin, Nanank Syamsudin, menjelaskan bahwa terdapat dua hanggar untuk kegiatan Sukaboat: satu untuk napi yang menjalani pidana dan satu lagi untuk menempatkan speedboat yang sudah selesai serta sebagai tempat kerja bagi eks napi yang ingin bergabung kembali.

Program ini juga direncanakan menjadi bagian dari koperasi warga binaan bernama Koperasi Merah Putih, sebagai unit usaha yang memberdayakan napi dan eks napi secara profesional. Banyak eks napi yang kembali menawarkan diri untuk bekerja di lapas setelah merasakan manfaat bimker.

Peran Emirsyah Sattar dalam Bengkel Sukaboat

Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Sattar, yang menjalani masa pidana di Lapas Sukamiskin, menjadi penggerak bengkel Sukaboat. Dengan latar belakang ekonomi dan pengalaman manajerial, Emir mengimplementasikan keahliannya untuk mengelola proyek ini, mengajak napi lain yang memiliki keahlian desain produk, peraturan kapal, dan pengalaman bidang perkapalan untuk berkontribusi.

Sejak dirintis pada 2024 hingga Agustus 2026, Sukaboat telah berhasil menjual lebih dari 25 unit speedboat. Program ini membuka peluang bagi napi tanpa latar belakang keahlian kapal untuk belajar dan bekerja secara profesional, membangun keterampilan baru yang dapat dijadikan bekal setelah bebas.

Manfaat dan Harapan dari Program Sukaboat

Kegiatan pembuatan speedboat di Lapas Sukamiskin tidak hanya memberikan keterampilan teknis kepada napi, tetapi juga membentuk kedisiplinan dan rasa hormat terhadap aturan. Program ini menjadi contoh pemberdayaan yang mengintegrasikan pendidikan kerja, manajemen, dan peluang ekonomi bagi warga binaan dan eks napi.

Harapan dari program ini adalah menciptakan napi yang siap kembali ke masyarakat dengan keterampilan dan pengalaman kerja yang dapat meningkatkan peluang mereka untuk mandiri dan produktif setelah bebas.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *