Megawati Soekarnoputri Gelar Napak Tilas dan Tunjukkan Kepedulian di Istana Gebang

Megawati Soekarnoputri Gelar Napak Tilas dan Tunjukkan Kepedulian di Istana Gebang

Suara Pecari | Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, kembali menjadi sorotan publik setelah serangkaian kegiatannya di Istana Gebang, Blitar, Jawa Timur. Dalam kunjungan napak tilas ke rumah masa kecil Bung Karno pada Senin (15/6/2026), Megawati Soekarnoputri tidak hanya meninjau pelestarian aset sejarah, tetapi juga menunjukkan perhatian mendalam terhadap penyandang disabilitas dan memberikan kursus sejarah kepada petugas museum.

Istana Gebang, yang merupakan rumah kolonial tempat keluarga Bung Karno tinggal sejak 1917, baru saja menjalani renovasi besar-besaran. Perubahan paling mencolok adalah penggantian patung Bung Karno di halaman depan. Patung baru menampilkan Bung Karno dalam posisi duduk menyilangkan kaki sambil membaca buku, menggantikan patung berdiri tegap sebelumnya. Menurut Ketua DPC PDI Perjuangan Tulungagung, Erma Susanti, perubahan ini untuk menonjolkan sisi intelektual Sang Proklamator. Selain itu, dibangun delapan pilar beton setinggi lima meter dan pagar sepanjang 20 meter yang dihiasi relief perjalanan hidup Bung Karno.

Dalam kunjungannya, Megawati Soekarnoputri berkeliling ke setiap sudut museum didampingi putranya M. Prananda Prabowo, serta keponakannya Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno. Ia meminta agar Istana Gebang ditutup satu hari dalam seminggu untuk perawatan. “Saya minta museum ini ditutup sehari. Bersihkan semuanya. Barang-barang di sini harus dirawat dengan baik,” ujarnya kepada petugas museum. Megawati Soekarnoputri juga menyoroti koleksi foto yang sudah kusam dan membutuhkan perawatan profesional.

Tak hanya itu, Megawati Soekarnoputri memberikan kursus kilat kepada dua petugas museum yang selama ini bertugas memberikan penjelasan kepada pengunjung. Ia menilai pengetahuan mereka masih terbatas mengenai detail masa kecil Bung Karno. “Harus ada kursus khusus untuk menambah pengetahuan tentang Bung Karno, terutama masa kecilnya dan keluarganya. Pegawai museum harus diberi kursus supaya pengunjung mengerti dengan penjelasan mereka,” tegasnya.

Sikap humanis Megawati Soekarnoputri juga terlihat saat peresmian Istana Gebang. Politisi muda PDI Perjuangan, Muhammad Syaeful Mujab, mengungkapkan bahwa Megawati memperhatikan seorang penyandang disabilitas bernama Agus Pristiono yang berdiri di sisi panggung. Megawati segera memanggil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dan memberi isyarat agar Agus diberi kursi di dekat panggung. “Bu Mega memanggil Mas Hasto dan memberi kode agar bapak tersebut diberi kursi di sisi panggung,” kata Mujab. Agus tampak terkejut dan gembira atas perhatian tersebut.

Kepedulian Megawati terhadap penyandang disabilitas bukanlah hal baru. Hasto Kristiyanto mencontohkan momen saat perayaan ulang tahun ke-78 Megawati pada Januari 2025, di mana ia memberikan potongan tumpeng kepada seorang sinden cilik penyandang disabilitas bernama Savia. “Ibu Megawati memberi perhatian khusus pada sinden cilik bernama Savia,” ujar Hasto. Megawati tidak hanya menyerahkan potongan tumpeng, tetapi juga menggenggam tangan Savia dan mengajaknya berjoget ringan di atas panggung.

Di tengah berbagai kegiatan tersebut, Megawati Soekarnoputri juga menegaskan bahwa hubungannya dengan Presiden Prabowo Subianto tetap baik. Dalam pernyataan di hadapan ribuan kader di halaman Istana Gebang, ia membantah keras anggapan bahwa dirinya berada di kubu yang bermusuhan dengan Prabowo. “Perbedaan pandangan politik adalah hal yang lumrah demi menjaga iklim demokrasi, tapi hal itu tidak lantas menghapus persahabatan,” ujarnya. Pernyataan ini sekaligus meredam isu yang beredar di media sosial yang mencoba membenturkan keduanya.

Sebelumnya, sempat beredar video viral di X yang mengklaim Presiden Prabowo didampingi Megawati menanggapi demonstrasi mahasiswa Juni 2026. Namun, berdasarkan penelusuran, video tersebut sebenarnya adalah respons terhadap demonstrasi Agustus 2025 yang diunggah pada 31 Agustus 2025, bukan aksi Juni 2026. Klaim tersebut pun dinyatakan hoaks.

Kesimpulannya, rangkaian kegiatan Megawati Soekarnoputri di Istana Gebang tidak hanya memperkuat pelestarian sejarah dan budaya, tetapi juga menunjukkan konsistensinya dalam menempatkan nilai kemanusiaan sebagai prioritas. Dari napak tilas hingga perhatian pada disabilitas, Megawati terus memberikan teladan kepemimpinan yang berorientasi pada rakyat dan kebangsaan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan