Nilai Tukar Petani September 2026 Naik Tipis, Biaya Produksi Membengkak

Nilai Tukar Petani September 2026 Naik Tipis, Biaya Produksi Membengkak

Suara Pecari, Bali – Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Bali pada September 2026 mengalami kenaikan tipis sebesar 0,02 persen menjadi 103,64 dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh naiknya harga jual komoditas seperti jeruk, kopi, dan cengkeh yang meningkat sebesar 0,17 persen, sedikit lebih tinggi dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,15 persen.

Performa Sub Sektor Pertanian

Meskipun secara umum NTP naik, terdapat tekanan signifikan terutama pada subsektor tanaman pangan dan hortikultura. Indeks NTP tanaman pangan turun 0,99 persen, sedangkan hortikultura turun lebih tajam hingga 2,84 persen. Sebaliknya, subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami kenaikan sebesar 2,38 persen, peternakan naik 0,39 persen, dan perikanan tangkap atau nelayan naik 2,09 persen.

Baca juga:

Biaya Produksi yang Membengkak

Selain NTP, Badan Pusat Statistik Bali juga mencatat penurunan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) sebesar 0,14 persen pada September 2026. NTUP mengukur perbandingan antara harga jual produk pertanian dan biaya produksi. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan ongkos produksi dan penambahan barang modal sebesar 0,31 persen, yang jauh lebih tinggi dibanding kenaikan harga jual komoditas sebesar 0,17 persen.

Kenaikan biaya produksi tersebut terutama didorong oleh naiknya upah tenaga kerja untuk menuai dan penanaman, serta indeks harga bakalan sapi yang meningkat. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan biaya yang cukup signifikan bagi petani di Bali meskipun harga jual komoditas mengalami kenaikan.

Konteks dan Dampak

Kenaikan tipis NTP yang disertai membengkaknya biaya produksi mencerminkan tantangan yang dihadapi petani Bali dalam mempertahankan keseimbangan usaha tani mereka. Penurunan indeks pada subsektor tanaman pangan dan hortikultura menunjukkan bahwa petani penyedia pangan lokal menghadapi kesulitan lebih besar dibanding subsektor lain.

Baca juga:

Situasi ini penting untuk menjadi perhatian pemangku kebijakan dan pelaku usaha terkait agar dapat mengambil langkah strategis dalam mengendalikan biaya produksi dan meningkatkan nilai jual produk pertanian, khususnya untuk subsektor yang mengalami penurunan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *