Paus Leo Tegaskan Tidak Akan Perluas Berkat bagi Pasangan Sesama Jenis, Khawatir Perpecahan Gereja

Dicky Mahardika
Paus Leo Tegaskan Tidak Akan Perluas Berkat bagi Pasangan Sesama Jenis, Khawatir Perpecahan Gereja

Suara Pecari – 24 April 2026 | Paus Leo XVI menegaskan bahwa Gereja Katolik tidak akan memperluas pemberian berkat resmi kepada pasangan sesama jenis, menilai langkah lebih jauh dapat menimbulkan perpecahan internal.

Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers singkat di dalam pesawat setelah kunjungan empat negara di Afrika, dikutip dari Reuters pada Jumat, 24 April 2026.

Sebagai paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat, Leo memuji kebijakan Paus Fransiskus tahun 2023 yang memperbolehkan imam memberi berkat informal secara kasus‑per‑kasus, namun menolak formalisasi ritual tersebut.

Menurutnya, memperluas kebijakan itu berisiko menimbulkan lebih banyak perpecahan daripada memperkuat persatuan umat yang kini berjumlah sekitar 1,4 miliar orang.

Kebijakan Fransiskus tahun lalu memicu perdebatan sengit di kalangan uskup dan para teolog, karena memperbolehkan berkat di luar upacara liturgis tradisional.

Banyak uskup, terutama di Afrika, menolak penerapan keputusan tersebut di wilayah mereka, mengklaim bertentangan dengan ajaran moral Gereja.

Saat ditanya tentang rencana Kardinal Jerman Reinhard Marx untuk mengesahkan pemberkatan formal di keuskupan Jerman, Leo merujuk pada instruksi Vatikan yang melarang pengembangan ritus resmi bagi pasangan sesama jenis.

Leo menekankan bahwa fokus Gereja seharusnya tidak hanya pada isu seksual, melainkan pada masalah keadilan, kesetaraan, serta kebebasan pria dan wanita yang lebih luas.

Gereja Katolik tetap mengajarkan bahwa hubungan seksual di luar pernikahan heteroseksual adalah dosa, dan mengarahkan orang homoseksual untuk hidup selibat atau cara hidup suci.

Pernyataan Leo menegaskan tidak ada rencana pembuatan teks liturgi baru untuk pemberkatan pasangan sesama jenis, menjaga status quo kebijakan informal yang ada.

Kata kelompok konservatif, keputusan ini menguatkan doktrin tradisional, sementara organisasi progresif mengkritik langkah tersebut sebagai penolakan terhadap inklusivitas.

Dengan menolak perluasan berkat resmi, Gereja tetap pada posisi tengah, namun perdebatan tentang hak dan pengakuan pasangan sesama jenis diperkirakan akan terus berlangsung di dalam komunitas Katolik.

Tinggalkan Balasan