Bayar Nazar, Mbah Musthofa Pulang Jalan Kaki 34 Km dari Embarkasi Boyolali Sambil Dzikir Sholawat
Suara Pecari | Boyolali – Seorang jemaah haji asal Desa Kedungringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Mbah Musthofa (66), memenuhi nazarnya dengan berjalan kaki sejauh 34 kilometer dari Asrama Haji Donohudan Boyolali menuju rumahnya. Aksi yang dilakukan pada Kamis (11/6/2026) itu menjadi perhatian publik karena dilakukan sambil berdzikir dan bersholawat. Bayar nazar, Mbah Musthofa pulang jalan kaki 34 km dari Embarkasi Boyolali sambil dzikir sholawat [titlebase] menjadi pemandangan yang mengharukan di tengah proses pemulangan jemaah haji.
Mbah Musthofa tiba di Asrama Haji Donohudan bersama rombongan Kloter 23 asal Kabupaten Semarang. Pesawat Garuda Indonesia yang membawanya mendarat di Bandara Adi Soemarmo Boyolali pukul 06.46 WIB, dan ia masuk asrama sekitar pukul 07.30 WIB. Saat proses pelepasan jemaah menuju daerah asal berlangsung, Mbah Musthofa memilih untuk tidak naik bus penjemput. Bayar nazar, Mbah Musthofa pulang jalan kaki 34 km dari Embarkasi Boyolali sambil dzikir sholawat [titlebase] merupakan bentuk syukur atas kelancaran ibadah haji yang dijalaninya.
“Alhamdulillah, menjalankan ibadah haji dengan lancar dan pulang dalam keadaan sehat. Ini bentuk syukur karena diberi kesehatan dan kelancaran, dari awal persiapan hingga pulang dari ibadah haji,” ujarnya saat ditemui di wilayah Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Ia tampak mengenakan baju batik seragam haji, celana putih, dan topi caping khas yang ia pakai sejak keberangkatan. Sepanjang perjalanan, Mbah Musthofa ditemani adik perempuannya, Njohriah, yang terus menggandeng tangannya, sementara anak laki-lakinya, Ahmad Muntaha, mengawal dari belakang dengan sepeda motor.
Rute yang ditempuh Mbah Musthofa melewati Kecamatan Sambi, Simo, Klego, Karanggede di Kabupaten Boyolali, sebelum masuk wilayah Suruh, Kabupaten Semarang. Meski petugas PPIH sempat membujuknya agar ikut bus demi keselamatan, ia tetap teguh pada keputusannya. “Nazarnya mensyukuri kenikmatan yang Kuasa, saya masih diberi kesehatan untuk ibadah. Dengan berjalan kaki sampai rumah,” jelasnya. Bayar nazar, Mbah Musthofa pulang jalan kaki 34 km dari Embarkasi Boyolali sambil dzikir sholawat [titlebase] menjadi bukti keteguhan iman dan rasa syukur yang mendalam.
Mbah Musthofa yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini sebelumnya juga viral saat berangkat haji dengan berjalan kaki dan mengenakan caping. Kini, aksi pulangnya kembali menyita perhatian. Ia mengaku tidak mengalami kendala berarti selama perjalanan. Sepanjang langkahnya, ia terus melantunkan dzikir dan sholawat, menambah kekhidmatan momen tersebut. Bayar nazar, Mbah Musthofa pulang jalan kaki 34 km dari Embarkasi Boyolali sambil dzikir sholawat [titlebase] menjadi inspirasi bagi banyak orang tentang arti sebuah janji dan rasa syukur.
Kesimpulannya, Mbah Musthofa telah menunjukkan bahwa menepati nazar adalah bagian dari ibadah. Perjalanan panjangnya bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan ekspresi spiritual yang mengingatkan kita pada nilai-nilai ketulusan dan ketaatan. Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












