Mick Jagger Anggap James Brown Penyanyi Terhebat, Tapi Tolak Keras AI Tirukan Suaranya
Suara Pecari, Mick Jagger, vokalis legendaris Rolling Stones, kembali menjadi sorotan. Dalam sebuah wawancara eksklusif, ia mengungkapkan kekagumannya pada James Brown yang dianggapnya sebagai penyanyi dan penampil panggung terhebat sepanjang masa. Namun, di sisi lain, Mick Jagger juga angkat bicara mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam industri musik, dengan tegas menolak jika suaranya ditiru oleh teknologi tersebut.
Mick Jagger dikenal sebagai salah satu frontman paling karismatik dalam sejarah rock. Ia kerap meniru gerakan panggung James Brown, termasuk slide khas dan trik mikrofon. Dalam sebuah kesempatan, Mick Jagger mengakui bahwa ia meniru semua gerakan Brown, meski tidak mampu melakukan split seperti sang legenda. Produser musik Rick Rubin pun sependapat, menyebut penampilan James Brown dalam film The T.A.M.I. Show (1964) sebagai pertunjukan rock and roll terhebat yang pernah direkam.
Namun, di tengah kekagumannya pada masa lalu, Mick Jagger kini menghadapi tantangan baru: AI. Dalam wawancara dengan Billboard dan Rolling Stone, ia menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak ingin suaranya atau instrumen Rolling Stones ditiru oleh AI. “Jika seseorang ingin membuat musik dengan AI, silakan. Tapi harus orisinal—Anda harus memiliki masukan dan pemikiran sendiri,” ujar Mick Jagger. Ia mengecam mereka yang menggunakan AI untuk membuat lagu bergaya Rolling Stones dari awal, menyebut tindakan itu tidak kreatif.
Keith Richards, gitaris Rolling Stones, sependapat. “Saya lebih suka mendengar sesuatu yang orisinal. Musik bisa melakukan yang lebih baik daripada sekadar meniru dirinya sendiri,” katanya. Meski demikian, kedua musisi ini mengaku senang menggunakan teknologi deepfake untuk video musik lagu ‘In the Stars’ dari album terbaru mereka, Foreign Tongues. Dalam video tersebut, wajah Mick Jagger, Richards, dan Ronnie Wood ditempelkan di atas aktor yang memerankan versi muda mereka. Mick Jagger mengaku prosesnya cukup rumit, karena hasil awal wajahnya terlihat seperti anaknya yang berusia 23 tahun, bukan dirinya di masa muda.
Selain soal AI, Mick Jagger juga mengomentari musik rock yang dibawakan oleh Olivia Rodrigo. Ia menilai penyanyi muda itu sangat piawai dalam genre rock, meskipun awalnya dikenal sebagai penyanyi pop. “Kemampuannya beralih gaya dari pop cewek ke rock itu menarik,” puji Mick Jagger.
Di luar urusan musik, Mick Jagger juga menjadi perbincangan karena dianggap sebagai ‘kutukan’ bagi tim sepak bola Inggris. Saat menonton langsung kekalahan Inggris dari Argentina di Piala Dunia 2026, ia terlihat murung di tribun. Sejumlah penggemar percaya bahwa kehadiran Mick Jagger membawa sial, sebuah takhayul yang sudah lama beredar. Mantan rekan setimnya, Bill Wyman, bahkan ikut mendukung teori tersebut. Mick Jagger pernah dituding membawa sial bagi Brasil saat mereka kalah telak 7-1 dari Jerman pada Piala Dunia 2014.
Terlepas dari berbagai kontroversi, Mick Jagger tetap menjadi ikon yang tak tergantikan. Pandangannya yang tegas terhadap AI mencerminkan komitmennya pada orisinalitas dan kreativitas dalam bermusik. Sementara itu, kekagumannya pada James Brown menunjukkan bahwa bahkan legenda pun memiliki idola. Di tengah gempuran teknologi, Mick Jagger mengingatkan bahwa jiwa musik sejati lahir dari sentuhan manusia, bukan tiruan mesin.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.







