Produsen Asal Tiongkok Kembangkan Chip AI Sendiri Untuk Mobilnya

Produsen Asal Tiongkok Kembangkan Chip AI Sendiri Untuk Mobilnya

Suara Pecari,

Artikel ini mengulas langkah agresif produsen mobil listrik asal Tiongkok dalam mengembangkan chip kecerdasan buatan (AI) buatan sendiri untuk mendukung teknologi bantuan mengemudi dan kendaraan otonom. Langkah ini dilakukan untuk menekan biaya produksi, mempercepat pengembangan teknologi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pemasok chip global seperti Nvidia. Menurut laporan Gasgoo, tahun 2026 diperkirakan menjadi momentum penting bagi industri otomotif Tiongkok. Sejumlah pabrikan seperti BYD, Nio, XPeng, dan Li Auto kini memiliki proyek pengembangan chip AI internal.

Kronologi Pengembangan Chip AI Otomotif Tiongkok

Perlombaan pengembangan chip AI dimulai sejak 2020, ketika perusahaan-perusahaan Tiongkok menyadari kerentanan rantai pasok semikonduktor global. Berikut adalah garis waktu singkat:

  • 2021: BYD mulai merekrut ribuan insinyur semikonduktor untuk mengembangkan chip Xuanji.
  • 2022: Nio mengumumkan proyek chip Shenji NX9031 untuk kendaraan otonom.
  • 2023: XPeng meluncurkan chip Turing yang dirancang khusus untuk ADAS.
  • 2024: Li Auto mengonfirmasi pengembangan chip Shumac untuk fitur mengemudi otonom.
  • 2025-2026: Semua chip tersebut mulai diuji coba dan diintegrasikan ke dalam model produksi massal.

Perbandingan Chip AI Para Produsen Tiongkok

ProdusenNama ChipFungsi UtamaStatus
BYDXuanji A3ADAS & Kendali OtonomProduksi massal 2025
NioShenji NX9031Otonom Level 4Uji coba 2025
XPengTuringADAS & InfotainmentProduksi 2026
Li AutoShumacMengemudi OtonomRiset & Pengembangan

Alasan Di Balik Pengembangan Chip Sendiri

  1. Mengurangi biaya produksi: Chip dari Nvidia seperti Orin dan Thor sangat mahal, mencapai ribuan dolar AS per unit. Dengan chip sendiri, produsen bisa menghemat 30-50% biaya komponen.
  2. Integrasi perangkat keras-lunak yang lebih baik: Chip buatan sendiri memungkinkan optimasi penuh dengan perangkat lunak kendaraan, meningkatkan kinerja ADAS dan efisiensi energi.
  3. Kemandirian dari pemasok asing: Ketegangan geopolitik antara AS dan Tiongkok mengancam pasokan chip Nvidia. Dengan chip sendiri, risiko tertahan dapat dihindari.
  4. Kecepatan inovasi: Produsen dapat dengan cepat memperbarui arsitektur chip sesuai kebutuhan fitur baru tanpa menunggu siklus rilis dari pemasok pihak ketiga.

Keterbatasan: Fabrikasi Masih Bergantung pada TSMC

Meskipun desain chip sepenuhnya lokal, sebagian besar produsen Tiongkok masih bergantung pada TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company) untuk proses fabrikasi chip berteknologi tinggi. Artinya, kemandirian yang dibangun saat ini lebih berfokus pada desain dan pengembangan arsitektur chip, bukan proses fabrikasinya. Hal ini menimbulkan kerentanan baru, terutama jika konflik Selat Taiwan meningkat. Namun, beberapa perusahaan seperti BYD sudah mulai membangun pabrik fabrikasi sendiri untuk proses node yang lebih tua, dan berencana merambah ke node 7nm dalam beberapa tahun ke depan.

Dampak terhadap Industri Global

Langkah ini diperkirakan akan mengubah peta persaingan industri otomotif global. Nvidia, yang selama ini mendominasi pasar chip AI mobil dengan pangsa 80%, akan menghadapi tekanan besar. Produsen Tiongkok bisa menawarkan chip dengan harga lebih murah namun performa setara, sehingga memaksa Nvidia menurunkan harga atau meningkatkan spesifikasi. Lebih jauh, produsen Jepang dan Eropa yang masih bergantung pada Nvidia dan Qualcomm mungkin akan tertinggal dalam inovasi perangkat lunak. Di sisi konsumen, harga mobil listrik cerdas berpotensi turun signifikan, mempercepat adopsi kendaraan otonom di pasar Tiongkok dan negara berkembang.

Masa Depan Chip AI Otomotif Tiongkok

Ke depan, persaingan tidak hanya soal performa chip, tetapi juga ekosistem. BYD, misalnya, mengintegrasikan chip Xuanji dengan platform DiSus untuk kendali sasis aktif, sementara Nio menghubungkan chip Shenji dengan sistem baterai swap dan layanan cloud. Integrasi vertikal seperti ini akan menjadi kunci keunggulan kompetitif. Para analis memperkirakan bahwa pada 2030, lebih dari 70% mobil baru di Tiongkok akan menggunakan chip AI buatan dalam negeri, dan produsen Tiongkok bisa mengekspor chip tersebut ke pabrikan global.

Penutup yang kuat: Langkah produsen Tiongkok mengembangkan chip AI sendiri bukanlah sekadar reaksi terhadap tekanan geopolitik, melainkan sebuah strategi ambisius untuk menguasai ‘otak’ kendaraan masa depan. Dengan keberhasilan mereka dalam baterai, kini mereka menargetkan komponen paling vital dalam era kendaraan pintar. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin dalam satu dekade mendatang, chip AI mobil Tiongkok akan menjadi standar baru yang diadopsi dunia, menggeser dominasi perusahaan semikonduktor Barat.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *