IHSG Ditutup Lemah, Saham BUMI, PTRO, dan BBRI Turun di Tengah Optimisme Kebijakan Makro

Muchamad Arifin
IHSG Ditutup Lemah, Saham BUMI, PTRO, dan BBRI Turun di Tengah Optimisme Kebijakan Makro

Suara Pecari – 15 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir perdagangan Rabu, 15 April 2026, dengan pergerakan marginal di zona 7.623 poin, menunjukkan tekanan penurunan meski tercatat kenaikan tipis 0,68 persen.

Penurunan tersebut didorong oleh melemahnya beberapa saham unggulan, termasuk BUMI milik Grup Bakrie, PTRO, serta BBRI, yang mencatat penurunan masing‑masing.

Saham BUMI menjadi yang paling likuid pada hari itu dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp1,2 triliun, namun berakhir turun 3,82 persen ke level Rp252 per lembar.

PT Petrosea Tbk (PTRO) mengikuti jejak BUMI, menutup sesi dengan penurunan 4,14 persen dan harga Rp6.375, dengan volume perdagangan sekitar Rp1,1 triliun.

Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga tercatat melemah 4,14 persen, berakhir pada Rp6.375 per saham, dengan nilai transaksi tertinggi hari itu sebesar Rp1,73 triliun.

Di samping tiga saham tersebut, beberapa emiten lain mengalami penurunan, antara lain BRPT turun 2,46 persen ke Rp2.380, CUAN turun 1,32 persen ke Rp1.495, serta BMRI turun 1,27 persen ke Rp4.650.

Total kapitalisasi pasar pada penutupan tercatat Rp13.606 triliun, mencerminkan skala besar pasar modal Indonesia.

Tim riset Pilarmas Investindo Sekuritas menilai sentimen pasar menguat setelah munculnya sinyal diplomatik antara Washington dan Teheran yang membuka kemungkinan negosiasi lanjutan.

Analis tersebut menekankan bahwa harapan penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran dapat meredakan kekhawatiran atas gangguan pasokan energi global.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi adanya dialog langsung antara Israel dan Lebanon, yang difasilitasi oleh Washington, menambah optimisma geopolitik.

Gubernur Bank Indonesia dalam pertemuan dengan investor di New York dan Boston menegaskan kebijakan moneter tetap konsisten, dengan fokus pada stabilitas nilai tukar dan likuiditas domestik.

Kebijakan tersebut didukung oleh komitmen fiskal untuk menjaga defisit di bawah tiga persen PDB melalui reformasi subsidi dan realokasi anggaran yang lebih produktif.

Pernyataan tersebut diharapkan memperkuat kepercayaan investor asing terhadap ketahanan ekonomi Indonesia dan meningkatkan aliran modal masuk.

Di sisi lain, BNI Sekuritas mencatat IHSG pada hari sebelumnya naik 2,34 persen, namun diiringi aksi jual asing senilai Rp48 miliar.

Emisi saham yang paling banyak dijual oleh investor asing meliputi BRMS, BRPT, TPIA, IMPC, dan ANTM, menambah tekanan pada likuiditas beberapa sektor.

Kepala Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memproyeksikan IHSG dapat menguji level resistance 7.750‑7.800, dengan catatan bahwa koreksi minor tetap mungkin terjadi.

Ia menambahkan bahwa level support utama berada di kisaran 7.500‑7.600, yang menjadi acuan bagi pelaku pasar dalam mengatur posisi.

Dalam rekomendasi hari itu, BNI Sekuritas menyoroti beberapa saham potensial, termasuk BUMI, yang masuk dalam daftar pilihan bersama BBNI, AMMN, VKTR, AADI, dan EMTK.

Analis menilai BUMI masih menarik meski mengalami penurunan, berkat fundamental grup Bakrie yang tengah melakukan restrukturisasi aset dan diversifikasi usaha.

Rekomendasi beli juga diberikan oleh Danareksa, yang menilai BUMI memiliki valuasi relatif menarik dibandingkan peers di sektor pertambangan.

Danareksa menekankan bahwa kebijakan pemerintah yang mendukung sektor energi dapat memberikan peluang pertumbuhan jangka menengah bagi BUMI.

Meskipun demikian, aksi jual asing yang terjadi pada hari Selasa menambah volatilitas, sehingga investor disarankan memperhatikan level teknikal dan berita makro.

Data RTI Infokom mencatat bahwa pada penutupan, 380 saham menguat, 292 melemah, dan 149 bergerak datar, menggambarkan pasar yang terfragmentasi.

Volume perdagangan harian melampaui Rp20 triliun, menandakan likuiditas yang cukup kuat meski tekanan geopolitik masih terasa.

Secara keseluruhan, pasar menunjukkan dinamika campuran antara optimisme atas prospek kebijakan makro dan kekhawatiran atas faktor eksternal yang masih belum pasti.

Investor disarankan melakukan analisis menyeluruh dan menyesuaikan strategi dengan toleransi risiko masing‑masing sebelum mengambil keputusan.

Kondisi saat ini menegaskan pentingnya pemantauan terus‑menerus terhadap perkembangan politik internasional serta kebijakan domestik dalam mempengaruhi pergerakan saham.

Dengan demikian, meski IHSG berada dalam zona lemah, peluang pemulihan tetap terbuka bila dukungan kebijakan dan stabilitas geopolitik berlanjut.

Tinggalkan Balasan