Blokade AS di Selat Hormuz Guncang Ekonomi Iran dan Memicu Upaya Jalur Darat Alternatif

Bambang Darmawan
Blokade AS di Selat Hormuz Guncang Ekonomi Iran dan Memicu Upaya Jalur Darat Alternatif

Suara Pecari – 16 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memerintahkan blokade Selat Hormuz setelah negosiasi gencatan senjata dengan Iran mandek. Langkah itu menutup akses laut utama bagi kapal yang mengangkut minyak dan komoditas Iran.

Kebijakan blokade melibatkan penempatan lebih dari lima belas kapal perang, termasuk kapal amfibi USS Tripoli yang mendampingi jet F-35B dan helikopter MV-22 Osprey. Armada tersebut beroperasi di perairan dekat pantai Iran untuk mengawasi pergerakan kapal.

Selain kehadiran militer, perintah Trump menuntut penangkapan atau pengalihan semua kapal yang menyalurkan pungutan kepada Iran. Setiap kapal yang melanggar zona blokade dapat dipaksa berbalik atau ditahan oleh angkatan laut AS.

Amerika Serikat juga menurunkan dua kapal perusak, USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy, untuk membersihkan ranjau laut yang diduga ditanam oleh Korps Garda Revolusi Iran. Pembersihan ini dimaksudkan agar Selat Hormuz tetap bebas dari ancaman bawah air.

Iran menanggapi blokade dengan menutup jalur perdagangan di Selat Hormuz dan mengatur ketat kapal yang diizinkan melintas. Kebijakan ini menurunkan volume kapal komersial meski tidak sepenuhnya menghentikan lalu lintas internasional.

Data dari perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah Iran mencapai 1,84 juta barel per hari pada Maret dan 1,71 juta barel per hari pada April. Volume ini menandai peningkatan dibandingkan rata-rata tahunan 1,68 juta barel sebelum konflik.

Pendapatan dari ekspor minyak naik signifikan, diperkirakan mencapai hampir US$5 miliar dalam sebulan terakhir dengan harga minyak US$90 per barel. Sebelumnya, Iran memperoleh sekitar US$3,45 miliar per bulan pada Februari sebelum blokade.

Para analis memperkirakan blokade akan menurunkan kemampuan Tehran mengekspor minyak dalam jumlah yang sama. Profesor Mohamad Elmasry menyatakan bahwa Iran tidak akan dapat mengekspor minyak sebanyak sebelum tindakan militer AS.

Intelijen maritim Windward melaporkan total cadangan minyak Iran di perairan selat sekitar 157,7 juta barel, dengan hampir seluruhnya ditujukan ke China. Penurunan aliran minyak dapat mengurangi pendapatan strategis Iran dari pungutan lalu lintas laut.

Komoditas non‑minyak seperti petrokimia, plastik, dan produk pertanian juga terdampak. Iran mengirimkan barang‑barang tersebut ke pasar China, India, Uni Emirat Arab, dan Turki, sementara impor utama berasal dari negara‑negara tersebut.

Laporan Bea Cukai Iran mencatat total perdagangan non‑minyak mencapai US$94 miliar antara Maret 2025 dan Januari 2026, dengan defisit perdagangan akibat impor yang melebihi ekspor. Blokade diprediksi memperparah defisit ini.

Penghentian ekspor non‑hidrokarbon mengancam pasokan dalam negeri, meningkatkan tekanan pada harga dan ketersediaan barang esensial. Analisis Frederic Schneider menekankan bahwa gangguan rantai pasokan dapat menambah beban ekonomi pada masyarakat Iran.

Meski blokade menghambat kapal masuk dan keluar pelabuhan Iran, jalur internasional di Selat Hormuz tetap terbuka untuk kapal komersial lain. Sekitar dua puluh kapal, termasuk kontainer dan tanker, tercatat melintas pada hari kedua operasi.

Sebuah kapal tanker China yang berada di bawah sanksi AS dilaporkan berbalik arah setelah mencoba menembus blokade, menandakan efektivitas pengawasan militer. Namun, volume lalu lintas masih jauh di bawah tingkat sebelum krisis.

Negosiasi damai kembali diupayakan dengan peran Pakistan sebagai mediator dan kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Islamabad. PBB juga mengeluarkan pernyataan optimis mengenai kemungkinan dialog lanjutan antara Washington dan Teheran.

Antonio Guterres menegaskan pentingnya menghormati hak navigasi internasional di Selat Hormuz, sambil menyerukan diplomasi sebagai jalan keluar dari eskalasi militer. Ia menambahkan bahwa hukum internasional harus menjadi pijakan utama dalam penyelesaian sengketa.

Iran menyiapkan alternatif darat melalui jaringan kereta api dan jalan raya yang menghubungkan pelabuhan di Teluk Persia ke negara‑tetangga. Jalur ini dimaksudkan untuk mengalirkan minyak dan barang lainnya meski akses laut terbatas.

Strategi darat tersebut masih dalam tahap pengembangan dan memerlukan koordinasi dengan sekutu regional, terutama China yang menjadi tujuan utama ekspor energi Iran. Keberhasilan alternatif ini akan bergantung pada stabilitas keamanan di wilayah perbatasan.

Secara keseluruhan, blokade AS menimbulkan tekanan ekonomi signifikan pada Iran sekaligus memicu upaya diversifikasi jalur logistik. Situasi tetap dinamis dengan kemungkinan perubahan kebijakan tergantung pada perkembangan diplomatik dan militer di kawasan.

Tinggalkan Balasan