Panen Raya MT1 di Banyuwangi Capai 160.239 Ton, Perkuat Posisi Lumbung Pangan Nasional

Dicky Mahardika
Panen Raya MT1 di Banyuwangi Capai 160.239 Ton, Perkuat Posisi Lumbung Pangan Nasional

Suara Pecari – 21 April 2026 | Produksi padi Kabupaten Banyuwangi pada panen raya Masa Tanam I (Januari‑Maret 2026) mencapai 160.239 ton, menandai peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Luas lahan yang dipanen berjumlah 24.652 hektar, menghasilkan produktivitas rata-rata antara 6,8 hingga 7 ton per hektar. Angka ini menunjukkan efisiensi pertanian yang terus ditingkatkan oleh petani lokal.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Danang Hartanto, menegaskan bahwa rata‑rata produktivitas petani berada pada kisaran tersebut dan pemerintah kabupaten terus mendorong peningkatan lebih lanjut.

Panen raya dilaksanakan hampir di seluruh kecamatan, termasuk di Dusun Salamrejo, Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, yang melaporkan hasil panen konsisten dengan data kabupaten.

Petani di wilayah tersebut melaporkan kondisi cuaca yang relatif stabil serta ketersediaan air irigasi yang memadai, membantu tercapainya produktivitas tinggi.

Data 2025 menunjukkan total produksi beras Banyuwangi mencapai 546.923 ton, dengan surplus 383.258 ton setelah dikurangi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Surplus tersebut menjadikan Banyuwangi sebagai penyumbang utama stok beras nasional, sebuah posisi yang diharapkan tetap terjaga pada tahun 2026.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa pencapaian ini memperkuat peran daerah sebagai lumbung pangan nasional.

Dalam sambutannya, Ipuk menambahkan, “Alhamdulillah, kami bersyukur Banyuwangi menjadi salah satu daerah lumbung pangan nasional. Hasil panen para petani alhamdulillah baik.”

Pemerintah kabupaten berencana melanjutkan program peningkatan produktivitas melalui subsidi pupuk, akses pasar yang lebih luas, dan penyuluhan berkelanjutan.

Kebijakan tersebut selaras dengan target nasional untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor beras.

Peningkatan produksi juga berdampak pada pendapatan petani, yang mengalami kenaikan berkat harga pasar yang stabil dan permintaan domestik yang tinggi.

Analisis ekonomi regional menunjukkan bahwa sektor pertanian menyumbang persentase signifikan terhadap PDRB Banyuwangi, memperkuat kontribusi sektor agrikultur pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Selain produksi padi, Banyuwangi juga mengembangkan komoditas lain seperti jagung dan sayuran, memperluas diversifikasi pangan lokal.

Pemerintah provinsi Jawa Timur memberikan dukungan tambahan berupa pelatihan manajemen lahan dan adopsi teknologi pertanian presisi.

Implementasi teknologi tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil per hektar di musim‑musim berikutnya.

Dengan pencapaian 160.239 ton pada MT1, Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasokan beras nasional dan mendukung ketahanan pangan negara.

Keberhasilan ini sekaligus memperkuat citra Banyuwangi sebagai daerah agraris yang produktif dan berpotensi menjadi model bagi wilayah lain.

Penutup, hasil panen yang melimpah dan kebijakan pendukung menandai langkah positif menuju keamanan pangan berkelanjutan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan