Festival Janda Reni Perkenalkan Sego Lemeng dan Kopi Uthek di Banjar, Banyuwangi

Mustakim
Festival Janda Reni Perkenalkan Sego Lemeng dan Kopi Uthek di Banjar, Banyuwangi

Suara Pecari – 20 April 2026 | Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, menggelar festival kuliner tradisional bernama Janda Reni sebagai bagian dari agenda Banyuwangi Attraction. Acara ini bertujuan menampilkan keunikan cita rasa lokal kepada pengunjung.

Festival ini diinisiasi oleh tokoh adat Lukman Hakim yang menjelaskan filosofi nama Janda Reni. Menurutnya, “Reni” mengacu pada bunga aren, sedangkan “janda” atau “rondo” melambangkan proses pemisahan bunga tersebut.

Penamaan tersebut mencerminkan praktik pertanian setempat, di mana pemisahan bunga aren menjadi tahap awal produksi gula aren. Hubungan antara agrikultur dan kuliner menjadi inti narasi festival.

Banjar terletak di lereng Gunung Ijen dan dikenal dengan pemandangan sawah serta ladang gula aren yang menyerupai panorama Ubud, Bali. Keindahan alam menjadi latar belakang acara budaya dan kuliner.

Dalam rangkaian kegiatan, masyarakat menampilkan sego lemeng, hidangan yang secara visual mirip nasi lemang namun memiliki proses pembuatan berbeda. Nasi berbumbu dicampur daging ayam atau ikan, dibungkus daun pisang, dan dimasukkan ke dalam bambu muda.

Sego lemeng kemudian dipanggang selama kira-kira empat jam hingga aroma aromatik menyebar. Proses tersebut menuntut ketelitian agar nasi tetap lembut dan bumbu meresap sempurna.

Kopi uthek menjadi sajian kedua yang menarik perhatian. Minuman ini menggabungkan kopi hitam dengan gula aren, namun keduanya disajikan terpisah, tidak dicampur.

Pengunjung meneguk kopi terlebih dahulu, kemudian menggigit gula aren; bunyi “thek” saat gula dihancurkan memberi nama kopi uthek. Penyajian ini menekankan kontras rasa pahit dan manis.

Kepala Desa Banjar, Sunandi, menegaskan bahwa sego lemeng dan kopi uthek tidak sekadar kuliner, melainkan simbol kehidupan. Ia menyatakan, “Kopi uthek mencerminkan pahit dan manisnya hidup, sementara sego lemeng melambangkan kecukupan pangan.”

Pengunjung bernama Arbain mengungkapkan kepuasannya atas atmosfer festival. “Saya senang bisa datang, selain kulinernya enak, masyarakatnya juga ramah,” ujarnya.

Selain makanan, festival dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional Gontang Kawean. Tarian ini merupakan kolaborasi antara kelas Banyuwangi Kampus ISI Surakarta dan Sanggar Sayu Wiwit.

Gontang Kawean menampilkan gerakan ritmis yang mengangkat nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman budaya lokal. Penampilan tersebut menambah nilai estetika dan edukatif bagi penonton.

Pemerintah daerah memberikan dukungan logistik untuk memastikan kelancaran acara, termasuk penyediaan fasilitas kebersihan dan keamanan. Upaya ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mempromosikan pariwisata berbasis budaya.

Para pedagang lokal memanfaatkan festival sebagai peluang meningkatkan penjualan produk gula aren dan hasil pertanian. Pendapatan tambahan tersebut diharapkan memperkuat ekonomi rumah tangga di Banjar.

Media lokal melaporkan peningkatan kunjungan wisatawan domestik selama periode festival. Data awal menunjukkan pertumbuhan jumlah pengunjung dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Keberhasilan festival Janda Reni diyakini dapat menjadi model bagi desa lain dalam mengembangkan ekowisata kuliner. Pendekatan ini mengintegrasikan pelestarian tradisi dengan promosi ekonomi kreatif.

Penelitian singkat oleh tim akademik Universitas Banyuwangi mencatat bahwa partisipasi masyarakat dalam festival meningkatkan rasa kebanggaan budaya. Hasil survei menunjukkan 78% responden merasa lebih terhubung dengan warisan daerah.

Dengan berakhirnya rangkaian acara, panitia berencana melanjutkan festival secara tahunan. Mereka berharap Janda Reni dapat menjadi agenda tetap yang menarik wisatawan dan melestarikan kuliner tradisional.

Secara keseluruhan, Festival Janda Reni berhasil menonjolkan sego lemeng dan kopi uthek sebagai identitas kuliner Banjar serta memperkuat posisi Banyuwangi sebagai destinasi wisata budaya yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan