Krisis Bahan Bakar Global Memicu Kekhawatiran Pasokan Jet di Eropa dan Kenaikan Biaya Penerbangan

Mohammad Islam
Krisis Bahan Bakar Global Memicu Kekhawatiran Pasokan Jet di Eropa dan Kenaikan Biaya Penerbangan

Suara Pecari – 23 April 2026 | Eropa kini menghadapi ancaman kekurangan bahan bakar jet dengan cadangan yang diperkirakan hanya cukup enam minggu operasi normal. Kekurangan tersebut dipicu oleh dampak perang Iran yang memperparah ketegangan di Selat Hormuz.

Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar tiga puluh persen perdagangan minyak dunia, telah tertutup sebagian akibat serangan militer Iran. Penutupan jalur ini menghambat pengiriman minyak mentah dan produk turunannya ke pasar global.

Akibatnya, persediaan bahan bakar jet di bandara-bandara utama Eropa turun drastis, menurunkan tingkat ketersediaan menjadi batas minimum untuk penerbangan komersial. Analisis industri memperkirakan cadangan hanya dapat mendukung penerbangan selama enam minggu ke depan.

Beberapa negara anggota Uni Eropa telah mulai memberlakukan pembatasan penggunaan bahan bakar untuk penerbangan sipil dan mengevaluasi opsi bahan bakar alternatif. Kebijakan sementara ini dimaksudkan untuk memperpanjang masa pakai stok yang tersisa.

Menteri Iklim Turki, Murat Kurum, menegaskan bahwa krisis ini memperlihatkan betapa rentannya ketergantungan pada bahan bakar fosil. Ia menambahkan bahwa diversifikasi sumber energi menjadi keharusan untuk menjaga stabilitas pasokan.

Di sisi lain, Menteri Iklim Australia, Chris Bowen, menekankan bahwa energi terbarukan merupakan solusi paling ekonomis dan andal dalam jangka panjang. Bowen menegaskan bahwa saat pasokan energi terganggu, tidak ada waktu untuk ragu dalam mempercepat transisi.

Maskapai penerbangan Jepang, All Nippon Airways (ANA) dan Japan Airlines (JAL), mengumumkan kenaikan biaya tambahan bahan bakar untuk rute internasional mulai Mei. Kenaikan tersebut mencapai 75,5 persen untuk ANA dan 93,1 persen untuk JAL dibandingkan bulan April.

Surcharge baru untuk penerbangan satu arah ANA ke Amerika Utara dan Eropa mencapai 56.000 yen atau sekitar 350 dolar, sementara JAL menetapkan tarif serupa dengan persentase kenaikan lebih tinggi. Rute ke Cina, Taiwan, Korea Selatan, dan Rusia Timur Jauh juga akan mengalami kenaikan antara 56 dan 92 persen.

Maskapai domestik Fuji Dream Airlines juga mengumumkan peningkatan biaya tambahan bahan bakar ke level tertinggi pada bulan Mei, menyesuaikan dengan fluktuasi harga minyak global. Menteri Transportasi Jepang, Kaneko Yasushi, menekankan pentingnya transparansi kepada penumpang mengenai alasan kenaikan.

Di Indonesia, pemerintah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 9.400 rupiah per liter pada Rabu, 22 April 2026. Penyesuaian tarif ini mencerminkan tekanan harga minyak mentah internasional yang terus naik.

Lonjakan harga minyak mentah disebabkan oleh gangguan pasokan yang meluas, termasuk penutupan sebagian Selat Hormuz dan sanksi ekonomi terhadap Iran. Situasi tersebut memaksa banyak negara meninjau kembali subsidi energi dan kebijakan harga dalam negeri.

Krisis energi ini mempercepat alokasi investasi ke proyek energi terbarukan di Eropa dan Asia, dengan fokus pada angin lepas pantai, tenaga surya, dan hidrogen hijau. Pemerintah menganggap diversifikasi energi sebagai jaminan keamanan pasokan jangka panjang.

Sementara itu, beberapa negara kembali mempertimbangkan penggunaan batubara sebagai penopang sementara untuk pembangkit listrik, meski bertentangan dengan target dekarbonisasi. Kebijakan ini dipandang sebagai langkah darurat sampai alternatif bersih tersedia secara luas.

Kombinasi konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, dan kenaikan biaya bahan bakar menegaskan perlunya strategi energi yang lebih resilient. Upaya bersama antara regulator, industri, dan investor diharapkan dapat menstabilkan pasar dan mempercepat peralihan ke sumber bersih.

Situasi tetap dinamis, dan keputusan kebijakan akan terus disesuaikan untuk menyeimbangkan kebutuhan energi jangka pendek dengan tujuan pengurangan emisi jangka panjang.

Tinggalkan Balasan