Kebakaran Roda Pesawat Turkish Airlines Guncang Bandara Tribhuvan, Nepal
Suara Pecari | Pesawat berbadan lebar Turkish Airlines mengalami kebakaran pada roda pendaratan utama kanan saat mendarat di Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu pada pagi 11 Mei 2026.
Kebakaran muncul sekitar pukul 06.34 waktu setempat, memaksa otoritas menutup bandara selama 98 menit hingga operasi kembali normal pada 08.12.
Insiden menghentikan semua penerbangan domestik dan internasional karena sebagian pesawat menutupi jalur taksi dan sebagian landasan pacu.
Jumlah penumpang yang berada di dalam pesawat mencapai 288 orang, termasuk 11 awak kabin.
Tim darurat menggunakan perosotan evakuasi untuk menurunkan semua penumpang, dengan dua penumpang melaporkan luka ringan pada jari mereka.
Juru bicara Otoritas Penerbangan Sipil Nepal, Gyanendra Bhul, menyatakan bahwa evakuasi selesai tanpa korban jiwa dan menambahkan, “Kami telah memulai penilaian teknis secara rinci terkait insiden ini.”
Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan, namun kemungkinan meliputi pendaratan keras, tekanan ban yang tidak normal, atau gangguan teknis lainnya.
Turkish Airlines menanggapi insiden dengan menunda penerbangan selanjutnya dan menyediakan akomodasi hotel bagi penumpang yang terpaksa menunggu penerbangan pengganti.
Bandara Tribhuvan menyiapkan penerbangan alternatif bagi penumpang dengan kebutuhan mendesak, sambil menunggu hasil evaluasi teknis.
Tim pemeliharaan pesawat akan melakukan pemeriksaan menyeluruh di fasilitas bandara sebelum pesawat kembali dioperasikan.
Departemen Standar Keselamatan Penerbangan Nepal juga akan melaksanakan investigasi mendalam untuk memastikan faktor penyebab utama.
Turkish Airlines secara rutin mengoperasikan lima penerbangan mingguan antara Istanbul dan Kathmandu, menjadikan rute ini salah satu jalur penting antara Turki dan Nepal.
Insiden ini menambah catatan kecelakaan sebelumnya, termasuk kejadian 2015 ketika pesawat Turkish Airlines tergelincir di landasan Tribhuvan tanpa korban.
Kejadian 2015 menyebabkan penutupan landasan selama empat hari dan pembatalan puluhan penerbangan internasional.
Pemerintah Nepal sebelumnya berencana memasang sistem radar dan pemantauan cuaca baru setelah serangkaian kecelakaan dan keputusan Uni Eropa mengblacklist maskapai Nepal.
Bandara Tribhuvan, satu-satunya landasan internasional Nepal, terletak di wilayah bergunung tinggi dengan kondisi cuaca yang menantang.
Geografi yang sulit menambah kompleksitas operasional penerbangan, menuntut standar keselamatan yang ketat.
Setelah kebakaran, otoritas bandara melakukan inspeksi menyeluruh pada fasilitas penanganan darurat.
Penerbangan komersial kembali mengalir normal pada pukul 08.12, meski sebagian pesawat masih berada dalam proses pemeriksaan.
Para penumpang yang telah dievakuasi diberikan informasi mengenai jadwal penerbangan baru dan bantuan transportasi ke hotel.
Turkish Airlines berjanji akan meninjau prosedur operasional dan meningkatkan inspeksi teknis pada armada mereka.
Para penumpang mengungkapkan rasa lega karena tidak ada korban jiwa, meski beberapa mengalami ketegangan selama evakuasi.
Investigasi lanjutan akan melibatkan analis teknis, ahli ban, serta otoritas penerbangan internasional.
Data awal menunjukkan suhu tinggi pada roda pendaratan kanan, namun analisis akhir masih diperlukan.
Insiden ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan bandara di wilayah dengan infrastruktur terbatas.
Pemerintah Nepal berkomitmen memperkuat regulasi keselamatan dan meningkatkan pelatihan personel darurat.
Para ahli menyarankan pemasangan sistem deteksi kebakaran pada roda pendaratan sebagai langkah preventif.
Ke depan, Turkish Airlines berencana meningkatkan frekuensi inspeksi sebelum penerbangan ke bandara berisiko tinggi.
Bandara Tribhuvan akan terus memantau kondisi cuaca dan menyesuaikan jadwal penerbangan bila diperlukan.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa keselamatan penerbangan tetap prioritas utama bagi semua pemangku kepentingan.
Dengan penanganan cepat, bandara berhasil meminimalkan gangguan operasional dan memastikan keselamatan penumpang.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







