Bakteri Staphylococcus Aureus Ditemukan di Menu MBG, Pengawasan Dapur Diperketat

Bakteri Staphylococcus Aureus Ditemukan di Menu MBG, Pengawasan Dapur Diperketat

Suara Pecari | Hasil uji lab ungkap bakteri pada menu MBG pengawasan dapur diperketat LPP RRI. Temuan mengejutkan ini terungkap setelah puluhan siswa TK dan PAUD di Jember mengalami gangguan kesehatan usai menyantap makanan bergizi gratis pada Mei lalu. Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Jember menerima hasil uji laboratorium yang menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus pada sampel makanan yang diuji.

Kejadian bermula pada 20 Mei 2026, ketika 22 siswa TK dan PAUD di Kecamatan Kaliwates, Jember, mengeluhkan mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi menu MBG yang didistribusikan oleh salah satu dapur mitra. Menyikapi hal tersebut, Satgas MBG mengambil sampel makanan dan mengirimkannya ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya untuk diuji. Empat sampel makanan yang diuji meliputi nasi putih, ayam suwir bumbu kuning, ayam suwir bumbu merah, dan tahu crispy.

Hasil uji lab ungkap bakteri pada menu MBG pengawasan dapur diperketat LPP RRI. Ketua Satgas MBG Jember, Achmad Imam Fauzi, mengonfirmasi bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kandungan bakteri Staphylococcus aureus pada menu ayam yang disajikan. “Hasil uji laboratorium terhadap sampel pada kejadian di Kaliwates menunjukkan bahwa makanan tersebut memang mengandung bakteri Staphylococcus aureus,” ujarnya pada Jumat, 5 Juni 2026.

Bakteri Staphylococcus aureus umumnya ditemukan pada daging yang terkontaminasi akibat proses pengolahan atau penyimpanan yang tidak sesuai standar. Fauzi menjelaskan bahwa temuan ini mengarah pada masalah kebersihan personal petugas maupun sanitasi lingkungan kerja di dapur penyedia makanan. Evaluasi menyeluruh pun dilakukan terhadap pengelolaan dapur tersebut.

Sebagai tindak lanjut, Satgas MBG Jember memperketat kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Kabupaten Jember. “Satgas mengintensifkan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap 209 SPPG. Hasil evaluasi tersebut nantinya akan disampaikan kepada publik,” kata Fauzi. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh dapur mematuhi standar operasional yang telah ditetapkan, sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali.

Hasil uji lab ungkap bakteri pada menu MBG pengawasan dapur diperketat LPP RRI juga mendorong Pemerintah Kabupaten Jember untuk merekomendasikan penghentian operasional dapur mitra yang terlibat. Surat rekomendasi dikirimkan ke Badan Gizi Nasional (BGN) pada 22 Mei 2026 atas arahan Bupati Jember. “Keselamatan penerima manfaat program harus menjadi prioritas utama,” tegas Fauzi dalam rilis yang diterima RRI.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya penerapan higiene dan sanitasi dalam penyediaan makanan, terutama untuk program yang menyasar anak-anak. Kontaminasi bakteri Staphylococcus aureus dapat menyebabkan keracunan makanan dengan gejala seperti mual, muntah, dan pusing. Dalam kasus yang parah, infeksi dapat menyebar dan menyebabkan komplikasi serius. Oleh karena itu, pengawasan ketat terhadap proses produksi makanan menjadi krusial.

Satgas MBG berkomitmen untuk terus meningkatkan pengawasan dan memastikan program MBG berjalan aman dan sehat. Masyarakat diimbau untuk turut serta mengawasi dan melaporkan jika menemukan kejanggalan dalam pelaksanaan program. Dengan sinergi antara pemerintah, penyedia makanan, dan masyarakat, diharapkan program MBG dapat memberikan manfaat optimal tanpa mengorbankan kesehatan penerima.

Kesimpulannya, temuan bakteri pada menu MBG di Jember menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk lebih serius dalam menjaga kualitas dan keamanan pangan. Pengawasan dapur yang diperketat diharapkan mampu mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan, sehingga program Makan Bergizi Gratis benar-benar bermanfaat bagi tumbuh kembang anak Indonesia.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.