KAI Targetkan Penurunan Emisi 25,76 Persen pada 2030: Langkah Strategis Menuju Transportasi Rendah Karbon
Suara Pecari | Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (KAI) menetapkan target ambisius untuk mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 25,76 persen pada tahun 2030. Target ini setara dengan pengurangan 166.873 ton CO2 dari nilai acuan emisi awal sebesar 647.785 ton CO2 ekuivalen. Langkah strategis ini merupakan bagian dari peta jalan dekarbonisasi korporasi yang dirancang untuk mendukung target Net Zero Emission (NZE) nasional. Rencana tersebut dipaparkan dalam sebuah diskusi di Hotel Four Points by Sheraton Jakarta pada Kamis, 11 Juni 2026, yang dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan.
Strategi Dekarbonisasi KAI: Empat Pilar Utama
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa penyusunan strategi ini diselaraskan dengan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang mitigasi sektor transportasi. “Kereta api memiliki keunggulan dari sisi efisiensi energi dan emisi. Melalui Strategi Net Zero Emission, KAI menyiapkan langkah jangka panjang agar pengembangan layanan perkeretaapian selaras dengan target transisi energi nasional serta kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang,” ujar Anne.
KAI mengidentifikasi empat pilar utama dalam strategi dekarbonisasinya, yaitu elektrifikasi jalur kereta, efisiensi energi melalui sertifikasi bangunan hijau, penggunaan bahan bakar nabati (biodiesel), dan pengembangan energi terbarukan melalui panel surya. Masing-masing pilar memiliki target spesifik yang saling melengkapi.
| Pilar Strategi | Target | Status Terkini |
|---|---|---|
| Elektrifikasi Jalur Kereta | Perluasan jaringan listrik hingga 1.038,7 km | Mencakup KRL Commuter Line, LRT Jabodebek, dan Whoosh |
| Sertifikasi Green Building EDGE | Penerapan di stasiun, depo, dan kantor | Berjalan |
| Penggunaan Biodiesel | B40 (2025) menuju B50 (2026) | Bertahap |
| Panel Surya | Kapasitas 3.435,5 kWp di 66 titik | Terpasang |
Elektrifikasi: Tulang Punggung Transportasi Rendah Karbon
KAI telah memperluas jaringan jalur rel kereta bertenaga listrik hingga mencapai 1.038,7 kilometer. Layanan ini mencakup Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, Lintas Raya Terpadu (LRT) Jabodebek, serta kereta cepat Whoosh. Elektrifikasi menjadi kunci utama karena kereta listrik memiliki emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan kereta diesel. Menurut data KAI, LRT Jabodebek hanya memproduksi emisi sebanyak 15 gram CO2 per penumpang per kilometer, sementara Kereta Api Antarkota melepaskan 16,43 gram untuk jarak yang sama. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan emisi kendaraan pribadi yang rata-rata mencapai 120-150 gram per penumpang per kilometer.
Peran Biodiesel dan Energi Surya
Selain elektrifikasi, KAI juga mengoptimalkan penggunaan bahan bakar nabati. Saat ini, KAI telah menggunakan biodiesel B40 (campuran 40% minyak sawit) pada sebagian armada dieselnya dan menargetkan B50 pada tahun 2026. Langkah ini sejalan dengan program pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Di sisi lain, pemasangan panel surya dengan total kapasitas 3.435,5 kWp di 66 titik operasional menjadi bukti komitmen KAI dalam memanfaatkan energi terbarukan. Panel surya ini dipasang di atap stasiun, depo, dan kantor, yang tidak hanya mengurangi emisi tetapi juga menekan biaya listrik perusahaan.
Penghijauan dan Penanaman Pohon
Vice President of Sustainability KAI, Tria Mutiari Melian, mengungkapkan bahwa perusahaan telah menanam sebanyak 107.757 pohon di wilayah kerja sepanjang tahun 2021 hingga 2025. Program penghijauan ini tidak hanya berfungsi sebagai serapan karbon, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih asri di sekitar jalur kereta. “Sebagai tulang punggung transportasi massal nasional, KAI memiliki peran penting dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Kajian dan rekomendasi yang dihasilkan akan diselaraskan dengan pengembangan kebijakan dan peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi nasional dalam jangka panjang,” ujar Tria.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Industri
Langkah KAI ini membawa dampak positif yang signifikan. Pertama, dari sisi lingkungan, target penurunan emisi sebesar 25,76% pada 2030 akan berkontribusi pada upaya global mengatasi perubahan iklim. Mengingat sektor transportasi nasional menyumbang emisi besar—dengan kendaraan darat mendominasi hingga 89%—maka peralihan moda ke kereta api menjadi solusi efektif. Kedua, dari sisi ekonomi, investasi dalam elektrifikasi dan energi terbarukan akan menciptakan lapangan kerja baru serta mengurangi biaya operasional jangka panjang. Ketiga, bagi masyarakat, perluasan layanan kereta listrik akan meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan transportasi publik, sekaligus mengurangi polusi udara di perkotaan.
Executive Vice President Corporate Secretary KAI, Wisnu Pramudya, menekankan pentingnya kolaborasi. “Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan internasional menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan transportasi rendah karbon. Kereta api memiliki peluang besar untuk memperkuat kontribusinya terhadap target penurunan emisi nasional sekaligus mendukung mobilitas masyarakat yang semakin efisien,” kata Wisnu.
Dukungan Mitra Internasional
Dukungan teknis penyusunan strategi ini juga disampaikan oleh Project Director Kynergy Consulting, Rekyan Eckersley. Kemitraan strategis ini didukung penuh oleh program UK Partnering for Accelerated Climate Transition (UK PACT). “Kereta api adalah moda dengan emisi yang relatif rendah. Memperkuat kapasitas dan daya tarik layanannya menjadi bagian krusial dari peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi nasional Indonesia dalam jangka panjang dan kami bangga mendampingi KAI memperkuat langkah strategis tersebut,” kata Rekyan. Partisipasi mitra internasional seperti UK PACT menunjukkan bahwa upaya KAI diakui secara global dan sejalan dengan agenda perubahan iklim dunia.
Kronologi dan Langkah Ke Depan
Proses penyusunan strategi dekarbonisasi KAI telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Berikut kronologi singkatnya:
- 2021-2025: Penanaman 107.757 pohon di wilayah kerja KAI.
- 2025: Penerapan biodiesel B40 pada armada diesel.
- 2026: Target penerapan biodiesel B50 dan pemaparan strategi Net Zero Emission.
- 2030: Target penurunan emisi 25,76% (166.873 ton CO2).
- 2060: Target Net Zero Emission nasional.
Ke depan, KAI juga akan melakukan kajian analisis transisi dari Kereta Rel Diesel (KRD) menuju sistem kereta listrik secara lebih masif. Hal ini akan semakin memperkuat posisi KAI sebagai moda transportasi paling ramah lingkungan di Indonesia.
Penutup Naratif
Di tengah hiruk pikuk perkotaan dan polusi yang semakin mengkhawatirkan, kehadiran kereta api sebagai solusi transportasi rendah karbon menjadi secercah harapan. Dengan target penurunan emisi yang terukur dan langkah nyata yang telah diambil, KAI tidak hanya berperan sebagai operator transportasi, tetapi juga sebagai agen perubahan menuju Indonesia yang lebih hijau. Setiap rel yang dipasang, setiap pohon yang ditanam, dan setiap liter biodiesel yang digunakan adalah investasi untuk masa depan bumi. Kini, dukungan dari semua pihak—pemerintah, swasta, dan masyarakat—menjadi kunci untuk mempercepat perjalanan menuju Net Zero Emission pada 2060.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












