Generasi Muda Perlu Memiliki Filter dalam Menyikapi Pengaruh Global
Suara Pecari | Jakarta – Di tengah derasnya arus informasi dan budaya global yang masuk melalui era digital, Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setyo Hajar Dewantoro, menyerukan pentingnya generasi muda memiliki kemampuan menyaring berbagai pengaruh luar. Seruan ini disampaikan dalam Dialog Kilau Pancasila Festival Gita Indonesia 2026 di Auditorium Abdulrahman Saleh RRI Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026. Menurut Setyo, keterbukaan terhadap budaya dan perkembangan dunia harus tetap diimbangi dengan pemahaman jati diri bangsa agar tidak kehilangan identitas.
Fenomena Keterbukaan dan Tantangan Globalisasi
Indonesia sejak dahulu dikenal sebagai bangsa yang terbuka terhadap pengaruh luar. Sejarah mencatat, jalur perdagangan Nusantara menjadi titik pertemuan berbagai budaya, agama, dan ideologi. Namun, keterbukaan ini tidak pernah membuat bangsa Indonesia kehilangan akar budayanya. “Sebetulnya bangsa kita sejak zaman dahulu kala itu bangsa yang terbuka. Tetapi kita tetap bertahan dengan jati diri kita,” ujar Setyo dalam dialog tersebut.
Kini, di era digital, tantangan semakin kompleks. Informasi dari seluruh dunia dapat diakses dalam hitungan detik. Budaya populer asing, gaya hidup, hingga nilai-nilai yang bertentangan dengan Pancasila mudah masuk tanpa filter. Generasi muda sebagai pengguna utama internet menjadi kelompok yang paling rentan terpapar pengaruh negatif. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2025 menunjukkan bahwa 89% pengguna internet di Indonesia adalah generasi Z dan milenial. Angka ini menegaskan betapa besarnya potensi dampak globalisasi digital terhadap pola pikir dan perilaku anak muda.
Pentingnya Filter dalam Menyikapi Pengaruh Global
Setyo menekankan bahwa filter bukan berarti menutup diri. Sebaliknya, filter adalah alat untuk memilah mana pengaruh yang bermanfaat dan mana yang merusak. “Menurut saya, yang penting adalah kita punya filter. Kita boleh membuka diri, tapi kita mengerti mana yang benar, mana yang salah, mana yang memajukan, mana yang meruntuhkan,” tegasnya. Ia mencontohkan, Indonesia bisa belajar dari Jepang dalam hal disiplin dan teknologi, dari Korea Selatan dalam industri kreatif, namun tetap mempertahankan nilai gotong royong dan sopan santun sebagai ciri khas bangsa.
Filter ini harus dibangun sejak dini melalui pendidikan karakter dan pemahaman jati diri bangsa. Setyo menilai tantangan terbesar generasi muda bukanlah derasnya arus informasi global, melainkan kemampuan menyaring informasi dan pengaruh yang diterima setiap hari. Tanpa filter, generasi muda bisa kehilangan arah dan terombang-ambing oleh tren global yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Strategi Penguatan Jati Diri Bangsa
Untuk membangun filter yang kuat, diperlukan pendekatan multidimensi. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan:
- Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila: Integrasikan nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler. Contohnya melalui program Pramuka, diskusi kebangsaan, dan festival budaya.
- Literasi Digital: Ajarkan generasi muda cara mengidentifikasi berita palsu (hoaks), memahami algoritma media sosial, dan mengenali konten berbahaya. Program seperti Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) perlu diperluas jangkauannya.
- Pemberdayaan Komunitas: Bentuk kelompok diskusi dan komunitas yang fokus pada pengembangan wawasan kebangsaan, seperti Forum Generasi Muda Pancasila atau Komunitas Pecinta Budaya Lokal.
- Teladan dari Tokoh Publik: Figur publik seperti Setyo Hajar Dewantoro perlu terus menyuarakan pentingnya filter global. Pengaruh mereka dapat menjadi contoh nyata bagi generasi muda.
Dampak Positif Filter yang Kuat
Jika generasi muda mampu memiliki filter yang baik, dampak positifnya akan terasa di berbagai bidang. Berikut adalah analisis dampak yang diharapkan:
| Bidang | Dampak Positif | Contoh Nyata |
|---|---|---|
| Budaya | Pelestarian dan pengembangan budaya lokal yang diadaptasi dengan sentuhan modern | Fusi musik tradisional dengan genre kontemporer seperti campursari elektrik |
| Ekonomi | Munculnya produk kreatif lokal yang berdaya saing global | Brand fashion batik yang sukses di pasar internasional |
| Pendidikan | Generasi muda yang kritis dan mampu memilih informasi yang valid | Penurunan angka penyebaran hoaks di kalangan pelajar |
| Sosial | Penguatan rasa persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman | Gerakan gotong royong digital seperti crowdfunding untuk bencana alam |
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah meluncurkan berbagai program seperti “Kurikulum Merdeka” yang memberikan ruang bagi pengembangan karakter. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi kendala, terutama di daerah terpencil. Masyarakat, terutama orang tua dan guru, memiliki peran krusial dalam menjadi filter pertama bagi anak-anak. Komunikasi terbuka tentang nilai-nilai budaya dan bahaya pengaruh negatif global perlu dibiasakan sejak dini.
Setyo juga mengingatkan bahwa filter bukanlah tameng yang kaku, melainkan alat dinamis yang terus berkembang. “Kita harus terus belajar dan beradaptasi, tapi jangan sampai kehilangan akar. Seperti pohon yang kokoh, akarnya kuat meski rantingnya bergerak mengikuti angin,” ujarnya metaforis.
Penutup: Menatap Masa Depan dengan Filter yang Tajam
Seruan Setyo Hajar Dewantoro dalam Dialog Kilau Pancasila menjadi pengingat bahwa di era globalisasi, jati diri bangsa adalah kompas yang tak boleh hilang. Generasi muda adalah penentu masa depan Indonesia. Dengan filter yang tajam, mereka dapat menyerap yang baik dari dunia luar, namun tetap teguh pada nilai-nilai Pancasila. Bukan sekadar bertahan, tetapi justru melesat dengan identitas yang membanggakan. Seperti kata pepatah, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Maka, di tengah gempuran global, langit Indonesia harus tetap dijunjung tinggi oleh generasi penerusnya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










