DLHKP Kediri Galang Gerakan Bersih Sungai Urban, Enam Sungai Ditemukan Tercemar dan Diberi Harapan Baru

DLHKP Kediri Galang Gerakan Bersih Sungai Urban, Enam Sungai Ditemukan Tercemar dan Diberi Harapan Baru

Latar Belakang Pencemaran Sungai Urban di Kediri

Suara Pecari | Kota Kediri, pusat ekonomi dan budaya Jawa Timur, selama beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan lingkungan yang signifikan. Pertumbuhan penduduk dan industrialisasi memperparah beban limbah domestik, yang banyak berakhir di aliran sungai perkotaan. Menurut survei awal Kediri River Expedition, enam sungai utama di wilayah kota menunjukkan tingkat pencemaran yang jauh di bawah baku mutu air minum (BMA) yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup.

Faktor utama pencemaran meliputi:

  • Buang limbah rumah tangga secara langsung ke sungai.
  • Kurangnya fasilitas pengelolaan sampah di kawasan padat penduduk.
  • Kurangnya kesadaran masyarakat tentang dampak ekologis.

Inisiasi Gerakan Penyelamatan Lingkungan oleh DLHKP

Pada Jumat, 26 Juni 2026, Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri memprakarsai aksi bersih-bersih sekaligus penanaman bibit ikan di enam sungai urban yang tercemar. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan aparat pemerintah, tetapi juga menampung partisipasi aktif dari warga, mahasiswa, media lokal, serta sektor swasta.

Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, bersama Wakil Wali Kota Gus Qowim, hadir memberikan dukungan moral dan menegaskan komitmen pemerintahan daerah dalam memperbaiki kualitas air. Kepala DLHKP, Indun Munawaroh, menjelaskan bahwa sekitar 700 orang terlibat, mencakup OPD, relawan, mahasiswa Universitas Nusantara PGRI Kediri, serta perwakilan komunitas Wild Water Indonesia (WWI) yang menyumbangkan bibit ikan tawes.

Kolaborator Kunci

  • Media Radar Kediri – Dokumentasi dan publikasi aksi.
  • PT Gudang Garam – Sponsor logistik dan peralatan.
  • Universitas Nusantara PGRI Kediri – Penelitian kualitas air dan edukasi.
  • Wild Water Indonesia – Penyedia bibit ikan tawes.

Daftar Enam Sungai Urban yang Dibersihkan

SungaiLokasi
KedakKecamatan Mojoroto
ParungKelurahan Kampung Dalem
TawangDepan RSUD Gambiran, Kelurahan Singonegaran
Kresek (Ngadisimo)Kelurahan Ngadisimo
Kresek (Banjaran)Kelurahan Banjaran
Brantas (Sisi Barat)Kelurahan Tegalrejo

Kronologi Kegiatan pada 26 Juni 2026

  1. 07.00 – Registrasi relawan dan pembagian peralatan.
  2. 07.30 – Briefing lapangan oleh Kepala DLHKP.
  3. 08.00 – Mulai pembersihan di bawah jembatan Kedak, sampah diangkat ke truk pengangkut.
  4. 10.30 – Penyebaran bibit ikan tawes di setiap sungai, dipandu tim WWI.
  5. 12.00 – Istirahat dan sesi edukasi singkat tentang dampak limbah domestik.
  6. 13.30 – Pembersihan lanjutan di Sungai Parung dan Tawang.
  7. 15.00 – Penutupan, penghitungan total sampah yang berhasil diangkat (diperkirakan 1,2 ton).

Dampak dan Implikasi Bagi Berbagai Pihak

  • Masyarakat: Peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan sungai, serta kesempatan belajar langsung tentang pengelolaan limbah rumah tangga.
  • Pemerintah Daerah: Data kuantitatif sampah (tonase) menjadi dasar perencanaan kebijakan pengelolaan sampah terpadu dan peningkatan fasilitas sanitasi.
  • Industri: PT Gudang Garam dan perusahaan lain mendapat citra positif sebagai bagian dari solusi lingkungan, membuka peluang CSR yang lebih terarah.
  • Akademisi: Universitas Nusantara PGRI Kediri dapat melanjutkan pemantauan kualitas air, mengembangkan model restorasi ekosistem sungai urban.
  • Ekosistem: Penanaman bibit ikan tawes berpotensi memperbaiki rantai makanan akuatik, meningkatkan biodiversitas, dan menstimulasi pemulihan kualitas air secara alami.

Rencana Tindak Lanjut Jangka Panjang

Setelah aksi lapangan, DLHKP berkomitmen menyusun program strategis bersama UNP Kediri yang mencakup:

  1. Monitoring rutin kualitas air (parameter BOD, COD, koliform).
  2. Pembangunan fasilitas pengolahan limbah domestik berbasis komunitas.
  3. Program edukasi berkelanjutan di sekolah menengah dan perguruan tinggi.
  4. Pengembangan kebijakan insentif bagi warga yang menerapkan sistem pengelolaan sampah rumah tangga.
  5. Peningkatan jaringan kolaboratif dengan LSM lingkungan dan sektor swasta.

Agenda aksi bersih sungai ini juga dijadikan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Kediri yang akan datang, menegaskan bahwa perayaan kota dapat diiringi dengan tindakan nyata untuk memperbaiki lingkungan.

Harapan ke Depan

Indun Munawaroh menutup kegiatan dengan harapan bahwa contoh konkret ini akan menular ke komunitas lain di Jawa Timur. “Kita tidak selalu harus menunggu kebijakan besar; langkah kecil yang konsisten dapat menghasilkan perubahan signifikan,” ujarnya. Jika upaya kolektif ini berlanjut, enam sungai urban Kediri dapat kembali menjadi sumber kehidupan yang bersih, mendukung kesehatan masyarakat, dan memperkuat daya tarik wisata alam kota.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan