Hutan Tropis Terancam Kehilangan Kemampuan Serap Karbon Akibat El Nino
Suara Pecari, Hutan hujan tropis, yang selama ini dikenal sebagai paru-paru dunia, kini menghadapi ancaman eksistensial. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 2023 mengungkap bahwa fenomena El Nino yang semakin intens telah menyebabkan sebagian hutan tropis, khususnya di Amazon, kehilangan kemampuannya sebagai penyerap karbon (carbon sink). Temuan ini memicu kekhawatiran global, mengingat hutan Amazon sendiri menyimpan sekitar 123 miliar ton karbon – jumlah terbesar dibandingkan ekosistem daratan lainnya.
El Nino Semakin Sering dan Kuat
Data historis menunjukkan bahwa dalam 60 tahun terakhir, jumlah El Nino dengan kategori sangat kuat tercatat dua kali lebih banyak dibandingkan periode 60 tahun sebelumnya. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat telah mengonfirmasi bahwa El Nino kembali terjadi pada 2026, dan kali ini dimulai saat suhu lautan dan udara global sudah berada pada tingkat yang sangat tinggi. Para ilmuwan memprediksi 2026 berpotensi menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat, memperparah tekanan pada ekosistem hutan tropis.
Mekanisme Gangguan Fotosintesis
Pada kondisi normal, hutan tropis menyerap karbon dioksida (CO2) melalui fotosintesis dan mengubahnya menjadi biomassa. Namun, proses ini sangat bergantung pada suhu dan ketersediaan air. Ketika suhu meningkat dan kondisi menjadi lebih kering, tumbuhan menutup pori-pori daun (stomata) untuk mengurangi kehilangan air. Ironisnya, pori-pori tersebut juga merupakan jalur utama masuknya CO2. Akibatnya, pohon kekurangan pasokan karbon untuk fotosintesis dan pertumbuhan terhambat.
Dampak pada Pohon Besar
Selama El Nino, tingkat kematian pohon di seluruh hutan tropis Amerika Selatan meningkat dari sekitar 1,8% menjadi 3% per tahun. Namun, pada pohon berukuran sedang dan besar – dengan diameter batang lebih dari 20 sentimeter – angka kematiannya hampir dua kali lipat. Penyebab utamanya adalah kegagalan sistem hidrolik (hydraulic failure). Dalam kondisi udara sangat kering, kebutuhan air meningkat drastis sehingga aliran air di dalam jaringan pohon terputus. Hal ini lebih berperan dibandingkan sekadar kekurangan karbon akibat terganggunya fotosintesis.
Data dan Temuan Studi
Penelitian yang melibatkan lebih dari 100 ilmuwan ini mengamati lebih dari 500 ribu pohon dari lebih dari 4.000 spesies di enam negara Amerika Selatan selama lebih dari 30 tahun. Dengan menggunakan pita ukur, mereka memantau pertumbuhan diameter batang pohon secara berkala. Data tersebut kemudian digunakan untuk menghitung jumlah karbon yang tersimpan pada biomassa di atas permukaan tanah.
| Parameter | Kondisi Normal | Saat El Nino |
|---|---|---|
| Tingkat kematian pohon (tahunan) | ~1,8% | ~3% |
| Kematian pohon besar (diameter >20 cm) | – | Hampir dua kali lipat |
| Kenaikan suhu yang memicu kehilangan karbon | – | 0,5°C |
| Kehilangan cadangan karbon (per 0,5°C) | – | ~0,5% |
Kerentanan Wilayah Tepian Amazon
Studi menunjukkan bahwa tingkat kerentanan setiap hutan terhadap El Nino sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dasar. Meski hutan hujan tropis identik dengan curah hujan tinggi, sebagian kawasan Amazon, terutama wilayah tepian, mengalami musim kemarau lebih panjang. Daerah-daerah tersebut cenderung memiliki suhu lebih panas dan kondisi lebih kering dibandingkan bagian tengah Amazon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan di wilayah pinggiran Amazon menjadi kawasan yang paling terdampak saat El Nino ekstrem terjadi. Kenaikan suhu 0,5 derajat Celsius saja sudah cukup menyebabkan hutan kehilangan sekitar 0,5 persen cadangan karbon yang tersimpan di atas permukaan tanah.
Dampak dan Implikasi Global
Kemampuan hutan tropis beradaptasi terhadap musim kemarau semakin mengkhawatirkan. Para peneliti memperingatkan bahwa hutan di tepian Amazon kini mungkin telah melampaui batas kemampuan adaptasinya, sehingga berisiko mengalami kehilangan karbon dalam jumlah besar. Jika kondisi ini terus berulang, dunia berisiko menyaksikan kematian pohon dan hilangnya cadangan karbon dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Padahal, hutan tropis merupakan salah satu aset terpenting dalam upaya menekan laju perubahan iklim.
- El Nino 2015-2016 menyebabkan sebagian hutan tropis di Amerika Selatan praktis berhenti menyerap karbon.
- Struktur hutan akan semakin rapuh apabila fenomena iklim ekstrem datang sebelum ekosistem sempat pulih dari tekanan sebelumnya.
- Perlindungan hutan tropis harus menjadi prioritas global, bersamaan dengan upaya membatasi kenaikan suhu global.
Penutup
Masa depan Amazon, dan masa depan kita, bergantung pada keberhasilan menjaga kelestarian hutan tropis sekaligus membatasi kenaikan suhu global. Seperti yang ditulis para peneliti, “Masa depan Amazon bergantung pada upaya tersebut. Begitu pula masa depan kita.” Tanpa tindakan nyata, dunia tidak hanya akan kehilangan salah satu penyerap karbon terbesarnya, tetapi juga menyaksikan pelepasan karbon dalam jumlah masif yang akan mempercepat perubahan iklim.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









