MBG Kembali Berjalan usai MPLS, Menu Disiapkan Lebih Bervariasi
Suara Pecari, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Parit Pekir dan SPPG Pemali, Kabupaten Bangka, kembali berjalan normal setelah berakhirnya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Pengelola kedua SPPG, Kwartanto, mengonfirmasi bahwa distribusi makanan bergizi telah berlangsung lancar sejak Senin, 13 Juli 2026, dan terus berlanjut hingga hari kelima pelaksanaan.
Distribusi MBG Pasca-MPLS
Selama MPLS, penyaluran MBG tetap dilakukan kepada peserta didik sebagai bagian dari dukungan gizi di awal tahun ajaran. Setelah MPLS berakhir, distribusi kembali ke jadwal normal dengan cakupan yang sama. Kwartanto menjelaskan bahwa SPPG Parit Pekir melayani 19 sekolah termasuk dua pondok pesantren dengan total 3.218 porsi per hari, sementara SPPG Pemali melayani 16 sekolah. Kedua dapur tersebut bahkan telah melayani lebih dari ketentuan maksimal Badan Gizi Nasional yaitu 3.000 porsi per dapur.
Anggaran dan Variasi Menu
Dalam dialog interaktif di Pro 1 RRI Sungailiat, seorang pendengar bernama Dian dari Riding Panjang menanyakan besaran anggaran MBG per peserta didik. Kwartanto menjelaskan bahwa anggaran disesuaikan berdasarkan jenjang pendidikan:
| Jenjang Pendidikan | Anggaran per Porsi |
|---|---|
| Balita, TK, PAUD, Kelas 1-3 SD | Rp8.000 |
| Kelas 4 SD hingga SMA | Rp10.000 |
Dengan anggaran tersebut, Kwartanto menyatakan bahwa pihaknya tetap mampu menyajikan menu bergizi, seperti dua kali menu ayam dalam sepekan, daging, serta telur yang menjadi menu wajib. Namun, tidak semua anak menyukai telur, sehingga pihak SPPG mengolah telur dengan berbagai variasi agar lebih diminati. Misalnya, telur bisa diolah menjadi telur dadar, telur balado, atau telur rebus yang disajikan dengan saus.
Tantangan dan Upaya Peningkatan Kualitas
Menjaga kualitas makanan bagi ribuan penerima manfaat menjadi tantangan tersendiri. Saat ini, sekitar 7.000 porsi makanan diproduksi setiap hari oleh dua dapur SPPG. Kwartanto menekankan bahwa evaluasi dan peningkatan kualitas terus dilakukan, baik dari sisi infrastruktur maupun kualitas makanan. Badan Gizi Nasional juga sedang melakukan pemetaan terhadap titik-titik layanan yang jumlah penerima manfaatnya sudah terlalu banyak agar pelayanan tetap optimal.
Kebijakan Penerima Manfaat
Kwartanto menambahkan bahwa hingga saat ini belum ada perubahan kebijakan terkait cakupan penerima manfaat MBG, termasuk bagi siswa SMA. “Sampai sekarang belum ada surat edaran yang menyatakan siswa SMA tidak lagi menerima MBG. Jadi penyaluran masih berjalan normal sambil menunggu apabila ada kebijakan baru dari pemerintah,” katanya. Hal ini memberikan kejelasan bagi sekolah dan orang tua bahwa program berjalan seperti biasa.
Implikasi bagi Masyarakat dan Pemerintah
Keberlanjutan program MBG pasca-MPLS menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung gizi anak sekolah. Dengan variasi menu yang ditingkatkan, diharapkan anak-anak lebih menikmati makanan bergizi dan mengurangi angka malnutrisi. Namun, tantangan logistik dan anggaran tetap perlu diantisipasi, terutama dengan volume produksi yang besar. Pemetaan oleh Badan Gizi Nasional menjadi langkah strategis untuk memastikan distribusi merata dan kualitas terjaga.
Program MBG di Bangka Belitung menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pengelola SPPG dapat berjalan efektif. Dengan evaluasi berkelanjutan, program ini diharapkan dapat terus ditingkatkan dan diperluas, sehingga semakin banyak anak Indonesia yang mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk mendukung proses belajar mereka.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










