Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.000 Triliun, Indef Peringatkan Ruang Fiskal Makin Sempit
Suara Pecari, Utang luar negeri Indonesia kembali mencatatkan rekor baru. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai USD 444,4 miliar atau setara dengan sekitar Rp8.000 triliun. Angka ini tumbuh 2,1% secara tahunan (year-on-year/yoy), didorong oleh peningkatan utang pemerintah dan Bank Indonesia.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, memperingatkan bahwa lonjakan utang luar negeri ini berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah. “Meningkatnya ULN Pemerintah pada Mei 2026 akan memperkecil ruang fiskal pemerintah,” ujarnya. Menurut Esther, pembayaran pokok dan bunga utang menjadi kewajiban yang harus dipenuhi melalui APBN, sehingga mengurangi alokasi untuk sektor-sektor prioritas seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
Selain itu, utang luar negeri dalam mata uang asing membuat Indonesia rentan terhadap gejolak nilai tukar. Ketika rupiah mengalami depresiasi, beban pembayaran utang meningkat, menambah tekanan pada fiskal. “Pembayaran cicilan dan bunga utang dalam mata uang asing dapat mempersempit ruang fiskal untuk sektor publik lainnya dan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar,” jelas Esther.
Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak khawatir. Ia mengklaim rasio utang terhadap PDB masih aman, yakni sekitar 40%, jauh di bawah batas 60% yang ditetapkan Maastricht Treaty. “Kalau pakai di fiskal itu kan di bawah 60 persen, harusnya di bawah 60 persen kita masih 40 persen jadi masih jauh dari ininya,” ucap Purbaya di Istana Kepresidenan.
Namun, ekonom menekankan pentingnya penggunaan utang untuk kegiatan produktif. Esther menegaskan, “Tentu saja utang sangat diperbolehkan, tetapi sebaiknya alokasi anggarannya digunakan untuk kegiatan yang produktif.” Hal ini sejalan dengan data BI yang menunjukkan bahwa 84,6% utang luar negeri Indonesia berjangka panjang, sehingga risiko pembiayaan kembali relatif terjaga.
Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai pelemahan rupiah dan tingginya suku bunga global berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang ke depan. “Selama dana utang digunakan untuk sektor produktif dan disiplin fiskal tetap terjaga, kenaikan ULN diperkirakan belum menjadi risiko signifikan bagi stabilitas ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Data BI juga mencatat bahwa negara pemberi pinjaman terbesar untuk Indonesia adalah Singapura dengan total utang USD 52,5 miliar. Utang luar negeri Indonesia terdiri dari utang pemerintah dan Bank Indonesia sebesar USD 248,4 miliar, serta utang swasta sebesar USD 195,9 miliar.
Kesimpulannya, meskipun rasio utang masih dalam batas aman, kenaikan utang luar negeri yang terus-menerus perlu diwaspadai. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap pinjaman digunakan untuk investasi produktif yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar beban utang tidak membengkak.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










