Mahasiswa Uniraya Gotong Royong Bersama Satgas Karbak di Nias Selatan

Mahasiswa Uniraya Gotong Royong Bersama Satgas Karbak di Nias Selatan

Suara Pecari, Gunungsitoli – Semangat gotong royong kembali terukir di tanah Nias. Puluhan mahasiswa Universitas Nias Raya (Uniraya) turun langsung bergabung dengan personel Satuan Tugas Karya Bakti (Satgas Karbak) TNI Angkatan Darat dalam pembangunan Jembatan Gantung Sungai Idanoho di Desa Satoo Hilisimaetano, Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 10 Juli 2026 ini menjadi bukti nyata sinergi antara generasi muda dan aparat negara dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di daerah terpencil.

Latar Belakang Pembangunan Jembatan Gantung

Desa Satoo Hilisimaetano selama bertahun-tahun menghadapi kesulitan akses transportasi, terutama saat musim hujan. Sungai Idanoho yang membelah desa sering meluap dan memutus jalur penghubung antar dusun. Warga terpaksa menggunakan perahu sederhana atau berjalan memutar hingga puluhan kilometer untuk mencapai pasar, sekolah, atau fasilitas kesehatan. Jembatan gantung ini diharapkan menjadi solusi permanen yang akan memangkas waktu tempuh secara signifikan.

Program pembangunan jembatan gantung merupakan bagian dari Satgas Karbak TNI AD yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Tahun 2026, Kodim 0213 Nias mendapat mandat untuk membangun tiga jembatan gantung di wilayah Nias Selatan. Jembatan Sungai Idanoho adalah proyek pertama yang dikerjakan, dengan target selesai dalam waktu 60 hari kerja. Material utama seperti kabel baja, papan kayu, dan semen telah didistribusikan sejak awal Juli.

Keterlibatan Mahasiswa Uniraya

Kehadiran mahasiswa Uniraya dalam proyek ini bukan sekadar seremonial. Sebanyak 35 mahasiswa dari berbagai program studi, termasuk Pendidikan Biologi, Teknik Sipil, dan Ilmu Pemerintahan, terlibat aktif dalam pekerjaan fisik seperti mengangkut material, menganyam kabel, dan mengecor pondasi. Mereka bekerja bahu-membahu dengan 50 personel Satgas Karbak yang dipimpin langsung oleh Komandan Kodim 0213 Nias, Letkol Inf Sampe T. Butar Butar.

Salah satu mahasiswa, Mirawati Laia dari Program Studi Pendidikan Biologi, mengungkapkan kebanggaannya bisa terlibat langsung. “Kami menyaksikan sendiri dedikasi personel TNI yang bekerja tanpa lelah. Ini pengalaman berharga yang tidak bisa kami dapatkan di bangku kuliah,” ujarnya. Mirawati juga berharap program seperti ini terus berlanjut agar semakin banyak daerah terpencil yang merasakan manfaat infrastruktur yang layak.

Apresiasi Dandim dan Harapan untuk Generasi Muda

Letkol Inf Sampe T. Butar Butar memberikan apresiasi tinggi kepada mahasiswa Uniraya. Menurutnya, partisipasi mahasiswa merupakan bentuk dukungan moral yang sangat berarti bagi personel di lapangan. “Mereka tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga membawa semangat baru. Ini adalah contoh nyata bahwa pembangunan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau TNI, tetapi seluruh elemen masyarakat,” tegas Dandim.

Ia juga mengajak generasi muda untuk berperan aktif menyampaikan kebutuhan pembangunan di wilayah masing-masing melalui Babinsa atau Kodim. “Jangan ragu untuk melapor. Kami akan teruskan ke pemerintah sesuai mekanisme yang berlaku. Suara kalian adalah prioritas kami,” tambahnya. Dandim berharap jembatan yang dibangun dapat dijaga dan dirawat bersama oleh masyarakat agar manfaatnya bertahan lama.

Dampak dan Manfaat Jembatan Gantung

Setelah rampung, jembatan gantung sepanjang 120 meter ini akan melayani sekitar 500 kepala keluarga di Desa Satoo Hilisimaetano dan desa-desa sekitarnya. Berikut adalah beberapa dampak yang diharapkan:

AspekDampak
EkonomiMempermudah distribusi hasil pertanian dan produk lokal ke pasar, mengurangi biaya transportasi hingga 40%.
PendidikanAnak-anak tidak perlu lagi menyeberang sungai berbahaya untuk pergi ke sekolah, angka putus sekolah diharapkan menurun.
KesehatanAkses ke Puskesmas dan rumah sakit menjadi lebih cepat, terutama dalam kondisi darurat.
SosialMempererat hubungan antar dusun, memudahkan silaturahmi dan kegiatan gotong royong lainnya.

Kronologi Kegiatan

Berikut adalah rangkaian kegiatan gotong royong yang berlangsung pada 10 Juli 2026:

  • Pukul 07.00 WIB: Mahasiswa dan personel Satgas Karbak berkumpul di lokasi proyek. Dilakukan briefing keselamatan dan pembagian tugas.
  • Pukul 08.00 – 12.00 WIB: Pekerjaan pengangkutan material dari titik drop ke lokasi jembatan. Mahasiswa bersama anggota TNI membawa kabel baja, papan kayu, dan semen secara estafet.
  • Pukul 12.00 – 13.00 WIB: Istirahat dan makan siang bersama. Suasana penuh keakraban terlihat saat semua peserta menikmati hidangan sederhana.
  • Pukul 13.00 – 16.00 WIB: Pekerjaan inti: perangkaian kabel baja utama dan pengecoran pondasi jembatan. Mahasiswa yang memiliki latar belakang teknik mendapatkan kesempatan belajar langsung dari personel TNI.
  • Pukul 16.00 – 16.30 WIB: Evaluasi harian dan arahan dari Dandim. Mahasiswa diberi kesempatan menyampaikan kesan dan pesan.

Implikasi bagi Daerah dan Nasional

Kegiatan ini tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga memberikan implikasi lebih luas. Pertama, keterlibatan mahasiswa dalam proyek infrastruktur memperkuat konsep Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kedua, sinergi TNI-mahasiswa dapat menjadi model pembangunan partisipatif yang bisa direplikasi di daerah lain. Ketiga, pembangunan jembatan ini sejalan dengan target pemerintah dalam meningkatkan konektivitas wilayah terpencil, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan mengurangi kesenjangan antar daerah.

Di tingkat nasional, keberhasilan program Satgas Karbak di Nias Selatan diharapkan dapat mendorong alokasi anggaran yang lebih besar untuk infrastruktur di wilayah timur Indonesia. Data dari Kementerian PUPR menunjukkan bahwa hingga tahun 2025, masih terdapat lebih dari 2.000 desa di Indonesia yang akses transportasinya sangat terbatas. Program seperti ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor mampu mempercepat penuntasan masalah tersebut.

Harapan Masyarakat Setempat

Tokoh masyarakat Desa Satoo Hilisimaetano, Bapak Yulius Hia, menyambut antusias pembangunan jembatan ini. “Sejak saya kecil, kami hanya bisa menyeberang dengan rakit bambu. Banyak warga yang terluka atau bahkan meninggal karena terseret arus. Sekarang, anak cucu kami tidak perlu lagi mengalami hal itu,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia berjanji akan mengorganisir warga untuk ikut merawat jembatan secara berkala.

Para mahasiswa Uniraya pun berkomitmen untuk terus memantau perkembangan proyek dan akan kembali dalam beberapa pekan untuk membantu tahap finishing. Mirawati Laia menambahkan, “Kami ingin memastikan bahwa jembatan ini benar-benar selesai dan bermanfaat. Ini adalah bagian dari pengabdian kami kepada masyarakat Nias.”

Gotong royong antara mahasiswa Uniraya dan Satgas Karbak TNI AD di Nias Selatan bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia adalah simbol harapan, kebersamaan, dan masa depan yang lebih baik. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan, semangat bahu-membahu ini menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati lahir dari kepedulian dan aksi nyata semua pihak. Jembatan gantung ini mungkin hanya seutas kabel dan papan, namun bagi warga Desa Satoo Hilisimaetano, ia adalah jembatan menuju kehidupan yang lebih layak.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *