Pertamax Naik, Beralih ke Pertalite: Antrean Panjang dan Perubahan Perilaku Konsumen

Pertamax Naik, Beralih ke Pertalite: Antrean Panjang dan Perubahan Perilaku Konsumen

Suara Pecari, Harga BBM nonsubsidi Pertamax yang melonjak sejak 10 Juni 2026 terus menjadi sorotan. Meskipun Pertamina telah menurunkan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex per 1 Juli 2026, harga Pertamax tetap bertahan di Rp16.250 per liter di Jakarta dan sekitarnya. Kenaikan ini memicu pergeseran besar dalam pola konsumsi BBM masyarakat.

Sejak pertamax naik, banyak konsumen yang beralih ke Pertalite yang harganya lebih terjangkau, yaitu Rp10.000 per liter. Data Pertamina Patra Niaga menunjukkan konsumsi Pertalite meningkat 9,4% pada Juli 2026, sementara penjualan Pertamax Series merosot hingga 18%. Fenomena ini tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi juga di daerah-daerah seperti Sukoharjo dan Yogyakarta, di mana antrean panjang di SPBU untuk membeli Pertalite menjadi pemandangan sehari-hari.

Dampak Kenaikan Pertamax terhadap Masyarakat

Kenaikan harga Pertamax yang signifikan memaksa masyarakat menyesuaikan anggaran transportasi. Seorang PNS asal Sukoharjo yang bekerja di Yogyakarta, Nindya, mengaku harus berangkat lebih pagi untuk menghindari antrean Pertalite yang semakin panjang. “Kalau sekarang saya sengaja berangkat lebih pagi. Takut antrean Pertalite panjang dan akhirnya malah terlambat sampai stasiun,” ujarnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertamax naik tidak hanya berdampak pada biaya, tetapi juga pada mobilitas sehari-hari.

Strategi Price Smoothing Pertamina

Pertamina belum menurunkan harga Pertamax meskipun BBM nonsubsidi lainnya turun. Pakar ekonomi menjelaskan bahwa hal ini merupakan bagian dari strategi price smoothing untuk memulihkan margin perusahaan setelah sebelumnya menyerap kerugian akibat lonjakan harga minyak dunia. Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia dan telah dikoordinasikan dengan pemerintah.

Perubahan Pola Konsumsi BBM

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengungkapkan bahwa pergeseran konsumsi BBM terjadi secara signifikan. Pangsa pasar Pertalite naik dari 75% menjadi 80% dari total konsumsi bensin. Di sisi lain, penjualan Dex Series juga turun 6,4%, sementara konsumsi Biosolar meningkat 13,9%. Lonjakan permintaan BBM subsidi ini menjadi tantangan bagi Pertamina untuk menjaga pasokan di SPBU.

Kenaikan harga Pertamax juga memicu keluhan dari para penglaju dan pekerja yang mengandalkan kendaraan pribadi. Banyak yang terpaksa mengatur ulang jadwal harian demi menekan biaya transportasi. Sementara itu, antrean panjang di SPBU untuk Pertalite menjadi pemandangan umum, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.

Kesimpulan

Kenaikan harga Pertamax yang bertahan hingga pertengahan Juli 2026 telah mengubah perilaku konsumen secara drastis. Masyarakat berbondong-bondong beralih ke Pertalite, menyebabkan lonjakan permintaan BBM subsidi dan antrean panjang di SPBU. Strategi price smoothing Pertamina mungkin diperlukan untuk menjaga stabilitas, namun dampaknya terhadap mobilitas dan anggaran masyarakat tidak bisa diabaikan. Pemerintah dan Pertamina diharapkan terus mengevaluasi kebijakan harga BBM agar keseimbangan antara kepentingan perusahaan dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *