APCI Harga Cabai di Pasar Induk Pare Bergerak Tak Searah

APCI Harga Cabai di Pasar Induk Pare Bergerak Tak Searah

Suara Pecari, Kediri – Harga aneka cabai di Pasar Induk Pare, Kabupaten Kediri, pada Selasa, 7 Juli 2026, menunjukkan pergerakan yang tidak seragam. Cabai Rawit Merah (CRM) melonjak tajam, Cabai Merah Keriting (CMK) cenderung stagnan, sementara Cabai Merah Besar (CMB) justru mengalami penurunan. Fenomena ini terjadi di tengah pasokan ketiga jenis cabai yang sama-sama menyusut drastis. Data Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri mencatat pasokan CRM turun 65,7 persen dari normal 35 ton menjadi hanya 12 ton. Namun, harga komoditas ini justru melesat. Ketua APCI Kabupaten Kediri, Suyono, mengungkapkan bahwa harga CRM jenis Brengos 99 mencapai Rp33.000 per kilogram, naik Rp5.000 dari sebelumnya. Sementara itu, harga CRM jenis Asmoro 043 menjadi Rp32.000 per kilogram, juga naik Rp5.000. “Harga CRM Pentol TUMI 99 menjadi Rp27.000 per kilogram atau naik Rp4.000, dan Juwita 25 F1 menjadi Rp27.000 per kilogram atau naik Rp6.000,” jelas Suyono.

Pasokan Menyusut, Harga Berbeda

Berbeda dengan CRM, Cabai Merah Keriting (CMK) mengalami penurunan pasokan paling dalam, yaitu sebesar 80 persen—dari 10 ton menjadi hanya 2 ton. Namun, harga CMK justru relatif tetap. Misalnya, CMK jenis Bogos 1×1 F1 stagnan di Rp23.000 per kilogram, sedangkan CMK jenis SBAD 46 naik tipis Rp8 menjadi Rp21.008 per kilogram. Sementara itu, pasokan Cabai Merah Besar (CMB) turun 72,2 persen, dari 18 ton menjadi 5 ton, namun harga komoditas ini justru terkoreksi. Gada EVO turun Rp2.000 menjadi Rp22.000 per kilogram, Biola F1 turun Rp1.000 menjadi Rp21.000, dan Sandi 108 F1 turun Rp2.992 menjadi Rp19.008.

Tabel Perbandingan Harga dan Pasokan

Jenis CabaiPasokan Normal (ton)Pasokan Saat Ini (ton)Penurunan Pasokan (%)Harga Rata-rata (Rp/kg)Perubahan Harga
Cabai Rawit Merah (CRM)351265,7%Rp27.000 – Rp33.000Naik Rp4.000 – Rp6.000
Cabai Merah Keriting (CMK)10280%Rp21.008 – Rp23.000Stagnan hingga naik tipis
Cabai Merah Besar (CMB)18572,2%Rp19.008 – Rp22.000Turun Rp1.000 – Rp2.992

Faktor Industri dan Permintaan Pasar

Suyono menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh serapan industri yang menjadi faktor utama. Penyerapan ke industri melalui Glower mencapai 2 ton CMB, 1 ton CMK, dan 3 ton CRM. Selain itu, CRM juga dikirim 1,5 ton ke Kalimantan. “Sisa pasokan setelah diserap industri dan dikirim luar daerah digunakan untuk pasar modern dan tradisional di seluruh Jawa Timur. Itu membuat stok di pasar induk Pare terasa tipis,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa permintaan pasar terhadap CRM lebih tinggi dibanding CMB, karena kalangan industri dan pedagang lebih banyak mencari rawit dan keriting. “Karena itu harga rawit naik, sedangkan cabai besar turun karena demand-nya lebih rendah,” papar Suyono.

Asal Pasokan

  • Cabai Merah Besar (CMB): Kediri, Malang, Blitar, dan Jember.
  • Cabai Merah Keriting (CMK): Kediri dan Blitar.
  • Cabai Rawit Merah (CRM): Kediri, Malang, dan Jawa Tengah.

Proyeksi dan Imbauan APCI

Untuk CMK, meskipun pasokan turun 80 persen, harga masih stagnan. Suyono menduga hal ini karena harga sudah berada di level tinggi sejak pekan lalu. “Pasar masih menunggu. Kalau stok terus menipis, besar kemungkinan CMK akan menyusul naik,” terangnya. APCI memperkirakan fluktuasi harga akan terus terjadi sepekan ke depan. Petani diimbau untuk menjaga kualitas panen agar serapan industri tetap lancar. “Momentum harga rawit naik ini bisa dimanfaatkan, tapi jangan panen terlalu muda,” tegas Suyono.

Dampak bagi Masyarakat dan Industri

Fluktuasi harga cabai ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner yang bergantung pada pasokan cabai. Kenaikan harga CRM membuat biaya produksi makanan pedas meningkat, sementara penurunan harga CMB mungkin menguntungkan konsumen tetapi merugikan petani cabai besar. Dari sisi industri, serapan yang tinggi terhadap CRM dan CMK menunjukkan preferensi pasar yang kuat terhadap jenis cabai tersebut, sehingga petani diimbau untuk menyesuaikan pola tanam. Pemerintah daerah diharapkan dapat memantau distribusi dan mengantisipasi kelangkaan yang lebih parah dengan mengoptimalkan rantai pasok antar daerah.

Penutup

Di tengah ketidakpastian harga dan pasokan, Pasar Induk Pare menjadi barometer bagi pergerakan harga cabai di Jawa Timur. Data APCI memberikan gambaran bahwa dinamika pasar tidak selalu linier: pasokan yang menurun tidak otomatis menaikkan harga, melainkan dipengaruhi oleh permintaan industri dan preferensi konsumen. Para petani dan pedagang diimbau untuk terus memantau perkembangan harga dan menjaga kualitas produk agar rantai pasok tetap berjalan. Dengan sinergi antara petani, industri, dan pemerintah, diharapkan fluktuasi harga cabai dapat dikelola sehingga tidak merugikan semua pihak. Semoga cuaca dan faktor lainnya mendukung panen mendatang, sehingga stok cabai di Pasar Induk Pare kembali normal.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *