Kebangkrutan Tak Selamanya Akhir: Dari FTX, Bobby Tince, hingga KTM Bangkit Kembali
Suara Pecari, Fenomena kebangkrutan menjadi momok yang menakutkan bagi banyak pelaku bisnis, namun tak selalu berarti akhir dari segalanya. Dalam beberapa pekan terakhir, setidaknya tiga kisah berbeda mewarnai dunia usaha, mulai dari raksasa kripto FTX yang terus mengucurkan dana triliunan rupiah untuk krediturnya, artis Bobby Tince yang bangkit setelah usahanya travel umrah bangkrut, hingga KTM yang sukses bangkit dari jurang kebangkrutan berkat penyelamatan Bajaj. Ketiga kisah ini menunjukkan bahwa kebangkrutan bisa menjadi titik balik menuju pemulihan jika ditangani dengan strategi yang tepat.
FTX, bursa kripto yang kolaps pada 2022, kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan distribusi dana kelima kepada para krediturnya. Pada akhir Juli 2026, FTX akan mengucurkan sekitar US$ 900 juta atau setara Rp 16,14 triliun. Sejak pembayaran dimulai pada 2025, total dana yang telah didistribusikan hampir mencapai US$ 10 miliar atau Rp 179,4 triliun. Proses kebangkrutan FTX yang berlangsung di bawah pengadilan Bab 11 ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah kripto. Meskipun menghadapi kritik karena tidak mengembalikan aset dalam bentuk aslinya, pengelola aset FTX berupaya membayar kreditur ritel antara 118% hingga 142% dari nilai kepemilikan mereka saat bursa runtuh. Langkah ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan pasar dan menjadi contoh penanganan kebangkrutan yang terstruktur.
Sementara itu, di ranah hiburan, komedian dan pesinetron Bobby Tince memilih jalan berbeda setelah bisnis travel umrah dan hajinya mengalami kebangkrutan dengan kerugian mencapai Rp 2 miliar. Alih-alih terpuruk, Bobby memutuskan untuk melepas usaha travel tersebut dan kini fokus mengembangkan warung nasi di kawasan kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. “Jadi sekarang mungkin dipegang sama yang lain, saya nggak tahu sama siapa,” ujar Bobby saat ditemui di Jakarta. Meski sudah tidak lagi memiliki usaha travel, ia tetap bersedia membantu masyarakat yang ingin berkonsultasi soal perjalanan umrah. “Kalau ada teman-teman yang konsultasi masalah per-umrah-an, tetap saya handle. Karena kan itu sama aja syiar secara nggak langsung,” tambahnya. Kini, Bobby mengaku lebih menikmati waktu bersama keluarga karena bisnis kuliner memungkinkannya untuk tidak bepergian jauh. Kisah Bobby Tince menjadi bukti bahwa kebangkrutan bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru yang lebih baik.
Di industri otomotif, KTM yang sempat mengalami krisis finansial hebat dan masuk tahap restrukturisasi (self-administration) hingga melakukan PHK massal, kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan. Setelah diakuisisi oleh Bajaj Mobility AG, laporan keuangan kuartal kedua 2026 mencatat pertumbuhan pendapatan hingga 80% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sepanjang paruh pertama 2026, segmen sepeda motor KTM berhasil meraup pendapatan 700 juta Euro atau sekitar Rp 11,9 triliun, hampir dua kali lipat dari tahun lalu yang hanya 373 juta Euro. Volume penjualan unit motor juga melonjak drastis, dengan 48.672 unit terjual di seluruh dunia pada kuartal kedua 2026 saja. Kombinasi manajemen baru dan efisiensi operasional terbukti berhasil menyelamatkan KTM dari jurang kebangkrutan.
Kisah-kisah di atas mengajarkan bahwa kebangkrutan, betapapun pahitnya, dapat menjadi momentum untuk introspeksi dan transformasi. Baik FTX dengan skala global, Bobby Tince dengan usaha kecilnya, maupun KTM dengan restrukturisasi besar-besaran, semuanya menunjukkan bahwa kegagalan bukanlah akhir jika ada kemauan untuk bangkit dan beradaptasi. Yang terpenting adalah belajar dari kesalahan, menyusun strategi baru, dan terus bergerak maju.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.








