Wamen PPPA Veronica Tan: Perempuan Punya Peran Strategis Gerakkan Ekonomi Hijau

Wamen PPPA Veronica Tan: Perempuan Punya Peran Strategis Gerakkan Ekonomi Hijau

Suara Pecari, Malang – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan menegaskan bahwa keterlibatan perempuan merupakan salah satu kunci sukses utama dalam keberhasilan program perhutanan sosial. Melalui pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti komoditas bambu, kaum perempuan diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga sekaligus menjaga kelestarian alam. Hal ini disampaikan Veronica saat menghadiri Rembug Perhutanan Sosial bertajuk ‘Pengembangan Ekonomi Hijau Berbasis Bambu’ di Desa Sidodadi, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Minggu (12/7/2026).

Dalam kegiatan yang turut didampingi Bupati Malang Sanusi, Veronica mendorong terciptanya ekosistem kerja yang inklusif di sekitar kawasan hutan. Menurutnya, pengembangan ekonomi hijau harus menghadirkan manfaat yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat akar rumput, khususnya kaum perempuan. ‘Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam menggerakkan ekonomi keluarga. Melalui pengembangan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu seperti bambu, kita ingin menciptakan peluang ekonomi yang inklusif sehingga perempuan dapat semakin berdaya, mandiri, dan turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan,’ ungkap Veronica Tan.

Peran Strategis Perempuan dalam Ekonomi Hijau

Veronica menjelaskan bahwa perempuan seringkali menjadi penopang utama ekonomi keluarga di pedesaan. Dengan pelatihan dan akses pasar yang memadai, mereka dapat mengolah bambu menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi, seperti furnitur, kerajinan tangan, hingga bahan bangunan ramah lingkungan. ‘Ini bukan hanya tentang menghasilkan uang, tetapi juga tentang memberdayakan perempuan agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam keluarga dan masyarakat,’ tambahnya.

Data dari Kementerian PPPA menunjukkan bahwa sekitar 60% pelaku usaha mikro di sektor perhutanan sosial adalah perempuan. Namun, mereka sering menghadapi kendala seperti keterbatasan modal, akses teknologi, dan jaringan pemasaran. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, dan sektor swasta untuk menyediakan pendampingan teknis, bantuan peralatan, serta fasilitasi sertifikasi produk.

Potensi Bambu di Ngantang

Kecamatan Ngantang dikenal memiliki potensi bambu yang melimpah. Berdasarkan data Dinas Kehutanan Jawa Timur, luas hutan bambu di Kabupaten Malang mencapai 1.200 hektare, dengan produktivitas rata-rata 5.000 batang per hektare per tahun. Bambu dipilih karena cepat tumbuh, mudah dibudidayakan, dan memiliki serapan karbon tinggi, sehingga selaras dengan prinsip ekonomi hijau.

Jenis ProdukPotensi Nilai TambahTarget Pasar
Furnitur bambuRp 500.000 – Rp 2.000.000 per unitEkspor, hotel, restoran
Kerajinan tanganRp 50.000 – Rp 500.000 per itemPasar lokal, oleh-oleh
Bahan bangunan (bambu laminasi)Rp 1.000.000 – Rp 3.000.000 per m³Konstruksi ramah lingkungan

Sinergi Multipihak

Veronica menekankan bahwa sinergi antara pemerintah, kelompok perhutanan sosial, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi krusial. ‘Dengan pendampingan yang tepat, potensi bambu di Ngantang diyakini mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru yang berkelanjutan bagi masyarakat daerah,’ ujarnya. Pemerintah Kabupaten Malang sendiri telah mengalokasikan dana desa untuk pelatihan pengolahan bambu dan pembentukan koperasi perempuan.

Bupati Malang Sanusi menyambut baik inisiatif ini. ‘Kami siap mendukung penuh program pemberdayaan perempuan berbasis ekonomi hijau. Ini sejalan dengan visi kami untuk menjadikan Malang sebagai kabupaten yang mandiri dan berkelanjutan,’ katanya. Pihaknya juga akan memfasilitasi kemitraan dengan perusahaan swasta untuk memperluas akses pasar.

Dampak dan Implikasi

  • Peningkatan Ekonomi Keluarga: Perempuan yang terlibat dalam usaha bambu dapat meningkatkan pendapatan keluarga hingga 30% dalam satu tahun, berdasarkan studi kasus di daerah serupa.
  • Konservasi Lingkungan: Bambu menyerap karbon dioksida lebih cepat dibanding pohon kayu, sehingga membantu mitigasi perubahan iklim.
  • Kesetaraan Gender: Program ini memperkuat peran perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga dan komunitas.
  • Ketahanan Pangan: Rebung bambu dapat menjadi sumber pangan alternatif yang bergizi.

Langkah Ke Depan

Ke depan, Kementerian PPPA berencana memperluas program serupa ke daerah-daerah lain yang memiliki potensi HHBK. Veronica juga mendorong penggunaan teknologi digital untuk pemasaran produk, seperti melalui platform e-commerce dan media sosial. ‘Kita harus memastikan bahwa produk-produk perempuan ini bisa bersaing di pasar modern,’ tegasnya.

Dengan komitmen yang kuat dari semua pihak, ekonomi hijau berbasis bambu diharapkan tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga simbol pemberdayaan perempuan Indonesia. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa pelestarian alam dan kemajuan ekonomi dapat berjalan beriringan, dengan perempuan sebagai motor penggeraknya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *