UMKM Peach Gum Jambi Kembangkan Inovasi Produk Berbasis Rempah, Siap Go Nasional

UMKM Peach Gum Jambi Kembangkan Inovasi Produk Berbasis Rempah, Siap Go Nasional

Latar Belakang: Dari Dapur Rumahan Menuju Pasar Modern

Suara Pecari, Di tengah gempuran produk instan dan minuman kemasan modern, sebuah UMKM asal Kota Jambi bernama Peach Gum justru memilih jalan berbeda: mengangkat bahan alami dan rempah tradisional sebagai produk unggulan. Dirintis oleh Nyimas Amanda, usaha yang awalnya hanya beroperasi dari dapur rumah kini telah menjelma menjadi pemain yang diperhitungkan di pasar lokal dan mulai merambah skala nasional. Kunci kesuksesan ini tak lepas dari inovasi berkelanjutan yang dilakukan Nyimas, terutama setelah pandemi mengubah pola konsumsi masyarakat.

Produk awal Peach Gum adalah minuman kolagen sehat berbahan dasar peach gum—getah pohon persik yang kaya serat dan kolagen nabati. Namun, Nyimas menyadari bahwa produk cair memiliki keterbatasan: umur simpan pendek dan biaya logistik tinggi. Hal ini mendorongnya untuk mengembangkan varian kering yang lebih tahan lama dan praktis. “Inovasi adalah kunci agar usaha tidak musiman. Kami sekarang memiliki produk dalam bentuk kering yang bisa dibawa ke mana saja dan sudah masuk ke swalayan maupun mall,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam program Mozaik Indonesia di RRI Jambi.

Inovasi Produk: Dari Cair ke Kering, Tanpa Kehilangan Kualitas

Varian kering Peach Gum merupakan lompatan besar dalam strategi produk. Jika sebelumnya konsumen harus menyeduh minuman kolagen instan, kini mereka bisa menikmati camilan atau campuran masakan dari peach gum kering yang dipadukan dengan goji berry dan rempah khas Kerinci. Rempah-rempah seperti kayu manis, cengkeh, dan jahe tidak hanya memberikan cita rasa unik, tetapi juga nilai fungsional yang tinggi. Produk ini diklaim mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan kulit.

Proses produksi varian kering tidak sederhana. Nyimas dan timnya harus memastikan kadar air benar-benar rendah agar produk tidak mudah rusak. Pengeringan dilakukan dengan oven bersuhu rendah selama berjam-jam, lalu dikemas dalam kemasan vakum. Setiap batch produksi mencapai ratusan botol per minggu, dan permintaan terus meningkat seiring meluasnya jaringan distribusi. Saat ini, produk Peach Gum sudah tersedia di beberapa swalayan dan pusat perbelanjaan di Jambi, serta mulai merambah kota-kota besar seperti Palembang dan Jakarta.

Tantangan dan Strategi: Adaptasi Tanpa Mengorbankan Identitas

Menurut Nyimas, salah satu tantangan terbesar UMKM adalah mempertahankan kualitas sambil mengikuti selera pasar yang dinamis. “Konsumen sekarang lebih kritis. Mereka tidak hanya mencari rasa enak, tapi juga nilai gizi dan kehalalan produk. Oleh karena itu, kami sangat menjaga legalitas usaha,” jelasnya. Peach Gum telah mengantongi sertifikasi Halal dari MUI dan izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dari Dinas Kesehatan setempat. Langkah ini penting untuk membangun kepercayaan konsumen dan memudahkan ekspansi ke ritel modern.

Selain legalitas, Nyimas juga fokus pada kemasan. Varian kering dikemas dalam standing pouch dengan desain modern yang menampilkan elemen budaya Jambi, seperti motif kain songket. Hal ini tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga mengedukasi konsumen tentang kekayaan lokal. “Kami ingin produk ini tidak hanya sehat, tapi juga membawa cerita tentang Jambi,” tambahnya.

Dampak Ekonomi: Menggerakkan Rantai Pasok Lokal

Inovasi Peach Gum memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Bahan baku rempah seperti kayu manis dan jahe sebagian besar dipasok dari petani di Kerinci, daerah penghasil rempah terkenal di Jambi. Dengan meningkatnya permintaan, petani lokal mendapat kepastian pasar dan harga yang lebih baik. Selain itu, UMKM ini juga menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar, terutama ibu rumah tangga yang terlibat dalam proses sortasi dan pengemasan.

Tidak hanya itu, keberhasilan Peach Gum menginspirasi UMKM lain untuk berani berinovasi. Pemerintah daerah Jambi pun mulai memberikan perhatian lebih dengan mengadakan pelatihan dan pendampingan bagi pelaku usaha kecil. “Kami berharap semakin banyak UMKM yang sadar bahwa kearifan lokal bisa menjadi nilai jual tinggi,” ujar Nyimas.

Prospek Masa Depan: Menembus Pasar Nasional dan Digital

Ke depan, Nyimas berencana memperluas pasar melalui platform e-commerce dan media sosial. Saat ini, Peach Gum sudah memiliki akun Instagram dan TikTok yang aktif mempromosikan produk. Konten edukatif tentang manfaat peach gum dan rempah-rempah dibuat secara konsisten untuk menarik minat generasi milenial dan Gen Z. “Kami juga sedang menjajaki kerja sama dengan reseller di luar Jambi. Target kami, dalam dua tahun ke depan, produk Peach Gum bisa dikenal di seluruh Indonesia,” ungkapnya optimistis.

Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, Nyimas berencana meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah mesin pengering dan memperluas lokasi produksi. Ia juga akan mengajukan bantuan permodalan ke lembaga keuangan atau program pemerintah. Namun, ia menegaskan bahwa kualitas tidak akan dikorbankan demi kuantitas. “Lebih baik produksi terbatas tapi berkualitas, daripada banyak tapi mengecewakan konsumen,” tegasnya.

Penutup: Kearifan Lokal sebagai Kekuatan Bersaing

Kisah Nyimas Amanda dan Peach Gum adalah bukti bahwa UMKM bisa bersaing di era modern tanpa meninggalkan akar budaya. Dengan inovasi produk, legalitas yang kuat, dan strategi pemasaran yang tepat, produk berbasis rempah dan bahan alami mampu menembus pasar yang sebelumnya didominasi oleh produk asing. Peach Gum tidak hanya menawarkan kesehatan, tetapi juga identitas dan kebanggaan lokal. Di tengah persaingan yang semakin ketat, semangat untuk terus berinovasi dan beradaptasi menjadi kunci utama. Jika terus dikembangkan, bukan tidak mungkin Peach Gum akan menjadi ikon UMKM Indonesia yang mendunia.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *