Manajemen Pakuwon Group Bongkar Pagar Besi Tinggi di Mal Kota Kasablanka dan Pakuwon Mall Bekasi Setelah Sorotan Publik
Suara Pecari, Jakarta – Pagar besi setinggi 2,5 meter yang sempat terpasang di depan Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan, dan Pakuwon Mall Bekasi kini telah dibongkar menyusul sorotan publik dan arahan dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Pembongkaran pagar tersebut menandai berakhirnya polemik yang berkembang di media sosial terkait keberadaan pagar tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan milik Pakuwon Group.
Pemasangan pagar di Mal Kota Kasablanka sebenarnya tidak melanggar aturan hukum karena berada di kawasan privat milik perusahaan. Pengamat kebijakan publik Prof. Trubus Rahardiansah menilai pemasangan pagar adalah hak pengelola mal sebagai pemilik properti. Namun, minimnya komunikasi dari manajemen mal kepada masyarakat mengenai alasan pemasangan pagar membuat isu tersebut menjadi viral dan memicu reaksi negatif.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara terbuka meminta pengelola Mal Kota Kasablanka untuk membongkar pagar tinggi tersebut. Pramono menilai pemasangan pagar yang berlebihan dapat menimbulkan persepsi negatif terkait keamanan di ibu kota, yang sebenarnya dalam kondisi aman dan kondusif. Pembongkaran pagar di Mal Kota Kasablanka dilaporkan sudah dilakukan pada awal Agustus 2026 dan digantikan dengan traffic cone berwarna oranye sebagai pembatas sementara.
Pembongkaran Pagar di Pakuwon Mall Bekasi
Fenomena serupa juga terjadi di Pakuwon Mall Bekasi, yang berada di bawah naungan Pakuwon Group. Pagar pembatas di depan pusat perbelanjaan tersebut sudah tidak terlihat lagi setelah dibongkar pada awal Agustus 2026. Pembongkaran ini membuat akses pengunjung kembali bebas dan aktivitas di sekitar mal berjalan normal dengan arus kendaraan yang lancar.
Penjelasan Manajemen Pakuwon Mall Jogja
Sementara itu, pembangunan pagar di Pakuwon Mall Jogja yang juga milik Pakuwon Group, sempat menimbulkan spekulasi terkait isu keamanan dan demonstrasi. Namun, manajemen mal melalui General Manager Vicky Ratih menegaskan bahwa pemasangan pagar sudah direncanakan sejak tahun lalu sebagai bagian dari penataan kawasan, untuk memperindah area serta memperjelas batas kawasan mal dengan lingkungan sekitar. Proyek ini sempat dihentikan sementara karena respons publik yang beragam, dan pengerjaan diharapkan berlangsung saat musim kemarau agar pengecatan dapat dilakukan optimal.
Manajemen Pakuwon Mall Jogja juga menolak anggapan bahwa pembangunan pagar terkait dengan demonstrasi yang terjadi di sekitar Polda DIY tahun sebelumnya. Saat itu, manajemen lebih mengutamakan pendekatan persuasif kepada massa pendemo, termasuk memberikan bantuan medis dan kendaraan operasional mal untuk evakuasi korban.
Latar Belakang dan Kepemilikan Pakuwon Group
Mal Kota Kasablanka dan Pakuwon Mall Bekasi adalah bagian dari jaringan pusat perbelanjaan yang dimiliki dan dikelola oleh Pakuwon Group, di bawah PT Pakuwon Jati Tbk (PWON). Perusahaan ini dipimpin oleh Alexander Tedja, yang merupakan pendiri sekaligus pemegang kendali utama. Kota Kasablanka mulai beroperasi sejak 2012 dan merupakan salah satu dari enam mal yang dimiliki perusahaan tersebut.
Alexander Tedja pernah tercatat dalam daftar 50 orang terkaya Indonesia versi Forbes pada tahun 2022 dengan kekayaan mencapai sekitar Rp17,1 triliun. Ia menegaskan bahwa pemasangan pagar tinggi di Mal Kota Kasablanka adalah keputusan manajemen lokal tanpa arahan dari kantor pusat dan sudah diperintahkan untuk segera dibongkar setelah mendapat sorotan.
Reaksi dan Dampak Pemasangan Pagar Tinggi
Pemasangan pagar tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta telah menimbulkan perhatian publik dan beragam spekulasi, terutama terkait isu keamanan dan ketertiban. Meski secara hukum tidak melanggar karena merupakan kawasan privat, kurangnya transparansi dan komunikasi dari pengelola membuat masyarakat menilai kebijakan tersebut sebagai langkah yang berlebihan.
Gubernur DKI Jakarta menegaskan pentingnya menjaga citra ibu kota sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk beraktivitas, termasuk berbisnis. Oleh karena itu, ia mengimbau agar pengelola pusat perbelanjaan tidak memasang pagar tinggi yang dapat menimbulkan persepsi negatif.
Polemik ini menyoroti pentingnya komunikasi yang baik antara pengelola pusat perbelanjaan dengan masyarakat guna menghindari kesalahpahaman dan menjaga kondusivitas sosial di lingkungan sekitar.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










