Dari Siang Bergeser ke Malam, TEFA SMK PGRI Rogojampi Libatkan Siswa PKL Hingga Dini Hari
BANYUWANGI. Pembelajaran berbasis dunia industri di SMK PGRI Rogojampi, Banyuwangi, diterapkan melalui Teaching Factory (TEFA) jurusan pemasaran dengan kegiatan live selling melalui media sosial. Dalam pelaksanaannya, peserta didik yang sedang menjalani praktik kerja lapangan (PKL) menjadi kelompok yang paling banyak terlibat.
Aktivitas tersebut menggunakan sistem shift, dengan waktu yang bergeser dari siang ke malam hingga dini hari. Dalam setiap sesi live, terdapat tiga orang yang terlibat, terdiri dari peserta didik laki-laki dan perempuan dengan seorang leader pendamping yang merupakan alumni saat malam hari. Selasa (11/8/26) kemarin.
Koordinator Pemasaran K3 TEFA SMK PGRI Rogojampi, Suryanti Eka Purnamasari, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran untuk mengenalkan proses kerja yang diterapkan di dunia industri.
“Akunnya akun jurusan dari sekolah, bukan akun siswa. Pengelolaannya ada penanggung jawab dan timnya terdiri dari peserta didik,” kata Suryanti.
Dalam pelaksanaannya, peserta didik menjalankan live selling secara bergantian dengan didampingi seorang leader. Pendamping tersebut merupakan alumni yang sebelumnya telah memiliki pengalaman dalam kegiatan pemasaran.
Komposisi tersebut diterapkan untuk membantu peserta didik ketika menjalankan live, termasuk saat pergantian sesi dan ketika menghadapi kendala selama kegiatan berlangsung.
Peserta didik yang lebih dahulu memiliki pengalaman juga mendapat peran dalam membantu anggota baru memahami proses pemasaran digital.
Suryanti menjelaskan pembagian waktu dilakukan secara rolling. Setiap peserta didik mengikuti kegiatan sekitar tiga jam sebelum dilakukan pergantian.
“Kalau jam kerja di sana sembilan jam, kami meminta anak-anak tiga jam, tiga jam. Jadi mereka ada waktu istirahat dan kemudian bergantian,” jelasnya.
Pola shift tersebut membuat aktivitas live selling tidak berhenti pada jam pembelajaran siang. Kegiatan berlanjut ke malam hingga dini hari sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Pergeseran waktu tersebut terutama dijalankan oleh peserta didik yang sedang PKL. Sementara keterlibatan siswa kelas X dan XI hanya dilakukan secara berkala, sekitar empat bulan sekali, sebagai bagian dari mata pelajaran.
Dengan pola tersebut, peserta didik menjalankan kegiatan secara bergantian, bukan berada di lokasi sepanjang rangkaian operasional.
Melalui TEFA, peserta didik mendapatkan pengalaman langsung dalam memasarkan produk, berkomunikasi dengan konsumen dan memantau perkembangan penjualan.
Suryanti mengatakan pengalaman tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum peserta didik memasuki dunia industri.
“PKL itu mengajarkan anak untuk latihan bekerja. Jadi anak harus ikut action, dalam tanda kutip seperti karyawan. Mereka tidak hanya belajar budaya kerja, tetapi juga harus menguasai kompetensinya,” katanya.
Sekolah menggunakan dashboard untuk memantau perkembangan pemasaran dan aktivitas peserta. Data tersebut dapat dilihat oleh tim yang terlibat.
“Semua bisa melihat melalui dashboard. Anak-anak bisa membaca dan mengetahui perkembangan penjualan,” ujarnya.
Kegiatan TEFA juga memiliki mekanisme sharing profit. Suryanti menjelaskan hasil pemasaran terlebih dahulu direkap, kemudian dikurangi biaya operasional sebelum dilakukan pembagian.
“Kalau masalah profit, di sana memang ada pembagian. Kami rekap dulu karena perlu dihitung berapa yang didapat. Setelah dipotong operasional, baru dilakukan pembagian,” jelasnya.
Pembagian hasil, menurut Suryanti, tidak dilakukan dengan nominal yang sama. Besarannya disesuaikan dengan kontribusi masing-masing.
“Kalau yang mendapat sedikit, tentu kontribusinya juga berbeda. Kami tidak menyamakan karena ada yang bekerja lebih banyak,” katanya.
Kegiatan yang berlangsung dari siang, bergeser ke malam hingga dini hari, termasuk keterlibatan peserta didik PKL, kemudian memunculkan pertanyaan mengenai batas antara pembelajaran dan aktivitas kerja.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan eksploitasi peserta didik, Suryanti mengatakan kegiatan tersebut menurutnya bukan eksploitasi karena merupakan bagian dari pembelajaran dan memiliki batas waktu.
“Kalau masalah eksploitasi anak, menurut saya tidak ini maksudnya pembelajaran dan kami tetap memberikan batas. Anak-anak ke sini untuk kegiatan praktik, tiga jam, tiga jam, tiga jam,” kata Suryanti.
Ia menjelaskan sistem shift diterapkan agar setiap peserta didik memiliki waktu kegiatan dan waktu istirahat.
Untuk kegiatan yang berlangsung hingga malam dan dini hari, pengawasan dilakukan melalui beberapa mekanisme.
Suryanti mengatakan terdapat petugas keamanan yang berjaga secara fisik di lingkungan sekolah. Selain itu, aktivitas juga dapat dipantau melalui CCTV
“Kalau secara fisik di sini ada penjaga sekolah,” ujarnya.
Sementara dalam kegiatan live, peserta didik didampingi satu leader alumni. Pendamping tersebut membantu memantau jalannya kegiatan serta memberikan arahan ketika diperlukan.
Suryanti menegaskan TEFA pemasaran tersebut merupakan metode pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik mengenai aktivitas dunia industri.
“Tujuannya bukan hanya budaya kerja, tetapi anak juga harus berkecimpung langsung dengan budaya industri yang positif. Ketika lulus dan masuk industri, mereka sudah siap,” katanya.
Kegiatan live selling tersebut dijalankan dengan sistem shift dari siang, malam hingga dini hari. Peserta didik PKL menjadi bagian yang paling banyak terlibat, dengan setiap sesi live melibatkan peserta didik laki-laki dan perempuan serta satu leader pendamping yang merupakan alumni.
Suryanti menegaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran TEFA dan menurutnya tidak mengeksploitasi peserta didik.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










