Performa BUMN di Bawah Danantara Jadi Bukti Kinerja Positif Pemerintahan Prabowo
Suara Pecari – Kinerja positif yang dicapai oleh sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sepanjang semester pertama tahun 2026 menjadi bukti nyata keberhasilan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam melakukan reformasi dan transformasi BUMN. Program konsolidasi dan penataan yang dijalankan oleh Danantara sejak awal pembentukannya mulai menunjukkan hasil konkret dengan lonjakan laba bersih di berbagai sektor strategis.
Kinerja Positif BUMN Blue Chips
Menurut Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto, BUMN papan atas atau blue chips masih menjadi motor penggerak utama pendapatan dan keuntungan total BUMN. Contohnya adalah kinerja positif di sektor perbankan oleh Himbara, sektor mineral dan tambang, telekomunikasi, serta Pertamina. Toto menilai potensi pertumbuhan BUMN di bawah pengelolaan Danantara masih sangat besar, terutama melalui proses streamlining atau penataan yang mendorong efisiensi perusahaan negara.
Lonjakan Laba di Berbagai Sektor
Data laporan keuangan semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan laba yang signifikan di beberapa BUMN strategis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya:
- PT Timah mencatatkan laba bersih Rp2,71 triliun, naik 804,7% dari Rp300 miliar.
- PT Pupuk Indonesia mencatat laba bersih Rp8,51 triliun, tumbuh 253% dari Rp2,41 triliun.
- PT Semen Indonesia mengalami kenaikan laba sebesar 196,5%, menjadi Rp193,46 miliar dari Rp65,24 miliar.
- PT Agrinas Palma Nusantara tumbuh 150% dengan laba Rp890 miliar.
- PT Pegadaian naik laba 84,6% menjadi Rp6,59 triliun.
- PT Pelindo tumbuh 60,4% dengan laba Rp2,57 triliun.
- PTPN IV PalmCo naik 54% menjadi Rp3,23 triliun.
- Bank Tabungan Negara (BTN) tumbuh 40,8% dengan laba Rp2,40 triliun.
- Bank Mandiri mencatat kenaikan laba 24,3% menjadi Rp30,41 triliun.
- PT Pertamina Geothermal Energy meningkat laba 15,5% menjadi 79,61 juta dolar AS.
Turnaround BUMN Bermasalah
Selain pertumbuhan laba, sejumlah BUMN yang sebelumnya mengalami kerugian berhasil membalikkan keadaan pada semester ini. PT Krakatau Steel keluar dari kerugian sekitar Rp1,74 triliun menjadi laba sekitar Rp150-185 miliar. Demikian pula PT Kimia Farma yang berbalik dari rugi Rp135,61 miliar menjadi laba Rp54,07 miliar. Keberhasilan ini menunjukkan penanganan persoalan struktural yang selama ini menghambat kinerja BUMN.
Signifikansi dan Implikasi
Rangkaian capaian ini menjadi modal ekonomi yang kuat menjelang tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo. Reformasi struktural yang meliputi konsolidasi ratusan entitas BUMN di bawah Danantara serta penegakan disiplin operasional dan tata kelola terbukti bukan sekadar wacana, melainkan sudah menghasilkan dampak nyata dan terukur.
Perbandingan Laba BUMN Semester I 2025 vs 2026
| BUMN | Laba Semester I 2025 | Laba Semester I 2026 | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| PT Timah | Rp300 miliar | Rp2,71 triliun | 804,7 |
| PT Pupuk Indonesia | Rp2,41 triliun | Rp8,51 triliun | 253 |
| PT Semen Indonesia | Rp65,24 miliar | Rp193,46 miliar | 196,5 |
| PT Agrinas Palma Nusantara | Rp356 miliar | Rp890 miliar | 150 |
| PT Pegadaian | Rp3,57 triliun | Rp6,59 triliun | 84,6 |
| PT Pelindo | Rp1,60 triliun | Rp2,57 triliun | 60,4 |
| PTPN IV PalmCo | Rp2,10 triliun | Rp3,23 triliun | 54 |
| BTN | Rp1,70 triliun | Rp2,40 triliun | 40,8 |
| Bank Mandiri | Rp24,46 triliun | Rp30,41 triliun | 24,3 |
| PT Pertamina Geothermal Energy | US$ 68,93 juta | US$ 79,61 juta | 15,5 |
Peningkatan kinerja ini tidak hanya terbatas pada BUMN berskala kecil hingga menengah, tetapi juga mencakup institusi keuangan besar dan sektor energi bersih yang strategis bagi pembangunan nasional.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









